Postingan

Menampilkan postingan dengan label gowa tallo

Lontara Bilang Gowa-Tallo'

Gambar
Salah satu Manuskrip Lontara' Makassar Majunya sebuah Peradaban pada suatu bangsa dapat dilihat dari beberapa aspek, salah satunya adalah dari Aspek Aksara. Etnis Suku Makassar telah membuktikan diri sebagai salah satu Suku Bangsa yang berperadaban tinggi dengan Aksara Lontara'nya yang turut mempengaruhi daerah sekitarnya seperti Etnis Bugis, mandar dan Toraya, Nusa Tenggara barat dan Nusa tenggara timur.  salah satu kebiasaan Bangsawan Makassar dan daerah-daerah sekitarnya adalah mereka senantiasa mencatat setiap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan sosial mereka, sehingga hal tersebut menjadi salah satu berkah tersendiri bagi generasi penerusnya untuk mengetahui sepak terjang leluhur mereka. Sangat jelas dari kebiasaan ini menunjukkan kepada kita semua bahwa Lompatan Berfikir Manusia Makassar telah sangat jauh melampaui masa dan Zamannya. Para Leluhur Orang Makassar sadar bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai keabadian adalah ...

Pesan-pesan Kepemimpinan dalam Lontara Makassar

Kedudukan pemimpin serta rakyat Pemimpin dalam lontara diibaratkan sebagai Angin (anging), Air (je’ne), juga sebagai Jarum (jarung). Adapun rakyat diibaratkan sebagai Daun (leko’ kayu), Batang Pohon (batang kayu), Benang (bannang panjai’). Hal ini dapat dilihat dalam ungkapan : 1) Anging na leko’ kayu ; anginmako na ikambe leko kayu, miri’ko anging namarunang leko’ kayu. Artinya Raja atau pemimpin di ibaratkan sebagai angin dan rakyat diibaratkan sebagai daun. Dimana angin berhembus nampak daun bergoyang mengikuti arah angin. 2) Je’ne na batang mammayu ; je’nemako ikau na ikambe batang mammayu, solongko je’ne namammayu batang kayu. Artinya Raja/ Pemimipin diibaratkan sebagai air dan rakyat di ibaratkan sebagai batang yang hanyut. Kemana air mengalir kesana pula batang akan hanyut. Apa kehendak Raja/ Pemimpin rakyat akan patuh. 3) Jarung na bannang panjai’ ; jarungmako Ikau na ikambe bannang panjai, ta’leko jarung nammina...

Raja Gowa XII

I Manggorai Daeng Mammeta Sejak I Manggorai Daeng Mammeta  Karaeng Bontolangkasa dinobatkan sebagai Raja Gowa XII, beliau menggalang persaudaraan dengan Raja Bone La Tenrirawe Bongkange yang ditandai dengan perjanjian Persaudaraan kedua belah pihak. Isi perjanjian itu bewrbunyi; Musuh-musuh seseorang diantara mereka itu juga adalah musuh-musuh bersama dan orang-orang Gowa yang berkunjung ke Bone adalah mereka itu seperti datang ke Negerinya sendiri dan orang-orang Bone berkunjung ke Gowa bagaikan datang ke negerinya sendiri. I Manggorai Daeng Mammeta naik tahta dalam usia 20 tahun. Beliau diperisterikan oleh sepupunya yakni anak dari pamannya Karaeng Tunipallagga Ulaweng. Semasa pemerintahannya, baginda telah banyak menjalin hubungan persahabatan dengan beberapa kerajaan di Nusantara ini, termasuk kerajaan di Negeri Jiran, seperti Raja Mataram, Raja Banjarmasing, Kerajaan di Pulau Jawa, Balambangan, Raja-raja di kepulauan Maluku, Raja di kepulauan Timor...

Raja Gowa III

I Puang Loe Lembang Mengenai kisah Raja Gowa I Puang Loe Lembang ini tidak banyak diketahui. Namun Baginda adalah Putra dari Tumasalangga Baraya . Setelah Ayahandanya raib ke Negeri Kayangan, beliaulah yang menggantikannya sebagai Raja Gowa ketiga dan memerintah dari tahun 137 hingga 1395. Cara Pemerintahannya tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Raja Tumanurunga dan Tumasalangga Baraya .**

Jejak Tun Abdul Razak di Butta Gowa

Gambar
Pada bulan November 2012 lalu, sebanyak 40 orang mahasiswa dari  Universitas Teknologi Malaysia (UTM) melakukan kunjungan ke Kabupaten Gowa. Sasaran utama penelitiannya adalah, ingin menelusuri jejak Nenek Moyang Tun Abdul Rasak di Butta Gowa. Para mahasiswa itu menginap di salah satu rumah penduduk di Desa Sengka Kec. Bontonompo   selama sepekan, Mereka juga melakukan bakti sosial di desa itu. Antusias para mahasiswa dari Malaysia untuk mengetahui nenek moyang mereka terlihat ketika mereka melakukan dialog dengan Zainuddin Tika, salah seorang penulis buku  dari Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan , dimana salah satu  hasil karyanya  berjudul  I Mappadulung Daeng Mattimung Sultan Abdul Jalil.   Buku tersebut menceritakan  nenek moyang Tunb Abdul Razak yang pernah menjadi Raja Gowa ke 19 dan Raja Sanrobone ke 9. Menurut sejarah.  nenek moyang Tu Abdul Rasak bernam...

Tana Toa Tana Kamase-masea

Gambar
Desa Tana Toa sering juga diistilahkan dengan nama Tana Kamase-masea. Tana kamase-masea dalam bahasa Makassar berarti negeri yang miskin.(bersahaja) Tana Kamase-masea, bukan berarti penduduk di dalam desa itu semuanya miskin. Kehidupan masyarakat Tana Toa justru lebih banyak yang sejahtera dibanding degan masyarakat yang ada di daerah perkotaan yang banyak menempati rumah kumuh. Kamase-mase disini berarti, hidup dalam kesederhanaan dengan tetap memelihara tradisi seperti yang dianut oleh nenek moyang mereka dulu. Dalam Pasang ri Kajang disebutkan Kupalabbakkangko Tunaya Anne, Iami Tuna Kamase-masea (Saya berikan kehidupan, yakni kehidupan yang sangat sederhana). Pada bagian lain disebutkan, Sikaliji Kamase-mase, takkulleami Nipinra (sekali hidup sederhana tetap sederhana, tak bisa dirubah). Namun pada Pasang ri Kajang lainnyua, memberikan kelonggaran pada setiap warganya untuk hidup serba ada ( kaya ) tapi dengan syarat, jangan tinggal dalam kawasan Tana toa, harus ...

Malino berdarah

Gambar
Penulis         : Zainuddin Tika – M . Ridwan Syam Penerbit         : Pustaka Refleksi , 2006           H ari itu, 18 Desember 1946, pasukan belanda memuntahkan peluru, jerit tangis menggema dimana- m ana. Bagi para pemuda di Malino, per b uatan biadab Belanda, paling tidak harus dibayar dengan darah. Mereka bersatu mengangkat senjata dan membuat strategi di empat penjuru untuk mengepung markas belanda , m ulai dari Limbua,  B uluttana, Gantarang dan Tombolopao. Akhirnya markas belanda di Malino berhasil diporak-porandakan, termasuk markas KNIL di kota Malino.            Sebelum terjadi peristiwa yang mengerikan  itu,  Belanda yang berniat untuk menjajah kembali  bangsa Indonesia , mengambil hati rakyat Indonesia. Mereka mendatangi  seluruh rakr...

~ Menelusuri Jejak Opu Daeng Manambung di Negeri Mempawah

Gambar
Kedatangan Opu Daeng Manambung bersama saudaranya masing-masing Opu Daeng Parani, Opu Daeng Cellak, Opu Daeng Marewa dan Opu Daeng Kamase, sungguh sangat besar artinya  bagi masyarakat di negeri Mempawah Kalimantan Barat . Betapa tidak, kedatangan kelima pendekar dari Sulawesi Selatan ini telah mampu menyelesaikan perang saudara di Kerajaan  Matang yang saat itu dipimpin oleh Sultan Zainuddin. Dari keberhasilan itu pula, Opu Daeng Manambung  diambil sebagai menantu oleh Sultan dengan mempersunting  putrinya bernama Putri Kasumba. Hingga kini  awal mula kedatangan Opu Daeng Manambung pada abad ke 17 silam di negeri itu menjadi tonggak sejarah terbentuknya Negeri Mempawah. Sebelum terbentuknya Kerajaan Mempawah, maka Kerajaan itu semula bernama Bangkule Rejakng, dimana Raja pertamanya bernama Nek Rumaga (dari suku Dayak)  dengan Ibukota berkedudukan di Bahana (sekitar 94 KM dari Mempawah). Salah seorang putra Ne’ Rumaga bernama  Patih G...

( DANAU MAWANG ) Menguak kembali Legenda Yang Terlupakan.....

Gambar
              Sedikit Mengupas Legenda yang hampir dilupakan oleh semua orang,   Danau Mawang   adalah sebuah Danau yang terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, Tepatnya di Kab. Gowa, Kec. Romang Lompoa.     Menurut Legenda dari Masyarakat setempat, Danau Mawang dahulu berbentuk kerbau dan merupakan tempat meninggalnya seekor kerbau  yang sakti dan perkasa  milik salah seorang yang bernama Panre Tanrara, Kerbau ini merupakan pemberian dari Karaeng Tolo dari Jeneponto  "Karaeng adalah Sebuah Julukan dari bahasa Makassar yang berarti Raja" ,    Tak berlangsung  lama setelah Karaeng Tolo memberikan kerbau raksasa  kepada Panre Tanrara, entah mengapa Karaeng Tolo berubah fikiran, dan dalam perjalanan pulang Karaeng Tolo menyusul Panre Tanrara untuk meminta kembali kerbau raksasa tersebut, tapi untungnya Panre Tanrara memiliki Kesaktian dan mengubah Kerbau Raksasa Tersebut menjadi se...

Sejarah Maros

Gambar
Pada awalnya, di daerah Maros hanya terdapat sebuah kerajaan yg cukup besar bernama Kerajaan Marusu dengan batas batas meliputi: bagian selatan berbatasan dgn kerajaan Gowa/Tallo,bagian utara berbatasan dengan Binanga Sangkara’ ( batas kerajaan Siang),bagian timur berbatsan dengan daerah pegunungan ( Lebbo’ Tangngae )dan pada bagian baratnya berbatasan dengan Tallang Battanga ( Selat Makassar ). Kerajaan Marusu pada waktu itu,hidup berdampingan dengan damai dgn kerajaan kerajaan tetangga ,seperti Gowa, Bone ,luwu dll.keadaan tersebut, berlangsung terus menerus hingga masuknya intervensi Kompeni Belanda.seiring kekalahan kerajaan Gowa/ Tallo dibawah pemerintahan I Mallombassi Dg Mattawang Karaeng Bonto Mangngape’ atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin oleh Kompeni Belanda dibawah pimpinan Admiral Speelman. Dimana ,atas kekalahannya tersebut Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani suatu perjanjian perdamaian pada tgl 18 November 1667 yg dinam...