Postingan

Menampilkan postingan dengan label BILANG

Lontara Bilang Gowa-Tallo'

Gambar
Salah satu Manuskrip Lontara' Makassar Majunya sebuah Peradaban pada suatu bangsa dapat dilihat dari beberapa aspek, salah satunya adalah dari Aspek Aksara. Etnis Suku Makassar telah membuktikan diri sebagai salah satu Suku Bangsa yang berperadaban tinggi dengan Aksara Lontara'nya yang turut mempengaruhi daerah sekitarnya seperti Etnis Bugis, mandar dan Toraya, Nusa Tenggara barat dan Nusa tenggara timur.  salah satu kebiasaan Bangsawan Makassar dan daerah-daerah sekitarnya adalah mereka senantiasa mencatat setiap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan sosial mereka, sehingga hal tersebut menjadi salah satu berkah tersendiri bagi generasi penerusnya untuk mengetahui sepak terjang leluhur mereka. Sangat jelas dari kebiasaan ini menunjukkan kepada kita semua bahwa Lompatan Berfikir Manusia Makassar telah sangat jauh melampaui masa dan Zamannya. Para Leluhur Orang Makassar sadar bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai keabadian adalah ...

Epos Perang Gowa—Buton

Gambar
i. Prolog BAHKANPUN sejarah abai mencatatnya, kecuali hanya ada sedikit informasi lisan lokal dan beberapa naskah anonim yang menggambarkan bagaimana invasi armada Gowa ke Buton dalam tahun 1666 adalah sebuah awal mulai bencana dan petaka besar yang memantik runtuhnya hegemoni kesultanan Gowa di timur nusantara. Perang besar koalisi Gowa-Luwuk-Bima-Portugis VS Belanda-Buton-Bugis-Ternate di teluk Baubau adalah perang dengan panggung paling megah, melibatkan banyak tangan (negara) dan mengumbar angkara murka paling dahsyat. Tak ada yang menyangka bahwa laut di muka teluk Baubau pulau Buton akan menjadi panggung dimana perang hebat dihamparkan tergelar di sana dengan congkak sangat angkuhnya. Golak semangat histeria dan teriakan-teriakan mendesis yang meraung, erangan kesakitan saat mencapai sekarat seusai ditebas telah seperti melihatkan kawasan itu sebagai tempat pejagalan raksasa.   Sumber-sumber lisan lokal dan beberapa naskah anonim mengisahkan bagaimana...

Pesan-pesan Kepemimpinan dalam Lontara Makassar

Kedudukan pemimpin serta rakyat Pemimpin dalam lontara diibaratkan sebagai Angin (anging), Air (je’ne), juga sebagai Jarum (jarung). Adapun rakyat diibaratkan sebagai Daun (leko’ kayu), Batang Pohon (batang kayu), Benang (bannang panjai’). Hal ini dapat dilihat dalam ungkapan : 1) Anging na leko’ kayu ; anginmako na ikambe leko kayu, miri’ko anging namarunang leko’ kayu. Artinya Raja atau pemimpin di ibaratkan sebagai angin dan rakyat diibaratkan sebagai daun. Dimana angin berhembus nampak daun bergoyang mengikuti arah angin. 2) Je’ne na batang mammayu ; je’nemako ikau na ikambe batang mammayu, solongko je’ne namammayu batang kayu. Artinya Raja/ Pemimipin diibaratkan sebagai air dan rakyat di ibaratkan sebagai batang yang hanyut. Kemana air mengalir kesana pula batang akan hanyut. Apa kehendak Raja/ Pemimpin rakyat akan patuh. 3) Jarung na bannang panjai’ ; jarungmako Ikau na ikambe bannang panjai, ta’leko jarung nammina...

MERIAM ANAK MAKASSAR

“Anak Makassar” adalah meriam yang terbesar yang pernah ada dan dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam bidang pertahanan. Panjang diameter lobang mulutnya 41,5 cm, sehingga orang dengan mudah dapat masuk ke dalamnya. Menurut Dr. K.G. Crucq yang banyak melakukan penelitian tentang meriam-meriam yang ada di Indonesia, bahwa meriam “Anak Makassar” yang ada di Benteng Somba Opu itu lebih besar dari padameriam “Pancawura” atau “Kyai Sapujagad” yang ada di Keraton Surakarta. Jika dibandingkan dengan meriam-meriam kramat lainnya, seperti misalnya meriam “Ki Amuk” yang ada di banten, meriam “Anak Makassar” lebih besar ukuran atau kalibernya. Buku karya Dr. K.C. Crucq yang berjudul De Geschiedenis van Het Heiling Kanon van Makassar (Sejarah Meriam Orang-orang Makassar), menuliskan: “Kemudian armada (dipimpin oleh Van Dam pada tahun 1660) mendekati Somba Opu yang dipertahankan oleh tiga buah benteng yang diperkuat, yakni Panakoke (maksudnya Panakkukang), Samb...