Postingan

Asal Usul Nama Gowa

Nama Gowa hingga saat ini belum diketahui pasti asal usulnya, mengingat belum ada sebuah buku lontarak pun yang menerangkannya, hanya saja ada beberapa pendapat dari ahli sejarah seperti Ahmad Makka Rausu Amansya Daeng Ngilau, mengemukakan bawah nama Gowa mungkin sekali berasal dari kata “GOARI” yang berarti “kamar atau bilik”. Kemudian Prof. Mattulada menerangkan makna kata Gaori itu berarti “Penghimpunan” ke dalam suatu tempat atau ruangan. Biasanya penghimpunan sejumlah (pemimpin) kaum secara bersama-sama menyatukan diri dalam suatu persekutuan teritorial. Menurut Andi Ijo Karaeng, nama Gowa sebenarnya berasal dari perkataan ‘Gua” yang berarti “liang” di mana sekitar tempat Hulah ditemukan hadirnya Tumanurunga sebutan. Lahirnya penyebutan Gowa sebagai nama kerajaan, mungkin juga tidak terlepas dari sejarah pengangkatan Tumanurunga menjadi raja Gowa pertama. Diriwayatkan pada masa sebelum hadir Tumanurunga di butta Gowa, ketika itu Gowa berbentuk kerajaan-kerajaan...

LONTARA MAKASSAR

Gambar
Penemuan tulisan adalah sebuah prestasi pencapaian kebudayaan yang tinggi dalam sejarah peradaban umat manusia (Coulmas 1984:4) Tulisan merupakan manifestasi kebudayaan tertinggi manusia. Seperti wujud kebudayaan lainnya, tulisan melampaui kuasa zaman sebagai atribut penting bagi entitas suatu bangsa. Segenap pemikiran dan kreatifitas peninggalan manusia dapat terawat utuh pada memori sejarah berkat dorongan yang kuat dari dalam diri sang penciptanya untuk mengabadikan hasil-hasil pemikiran mereka, yang akhirnya dikenang setiap saat ataupun diwariskan ke generasi keturunannya. Tulisan lahir dari sebuah aksara kemudian dirumpun dan melahirkan sebuah bahasa yang memiliki makna tentang apa yang dituliskan para penulisnya. Namun, dari ratusan bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Marauke, tidak semuanya memiliki aksara untuk merekam nilai-nilai budaya yang ada di dalam masyarakat pemilik bahasa itu. Beruntunglah Suku Makassar mampu mempertahankan w...

I TEPU KARAENG DAENG PARABBUNG

I Tepu Karaeng adalah putra I MAnggorai Daeng Mammeta Karaeng Tunijalloa. Ia naik tahta dalam usia 15 tahun walau usianya masih muda. Tetapi ia mengendalikan pemerintahan di Kerajaan Gowa secara sewenang-wenang. Tindakan yang dilakukan oleh Sang Raja adalah memecah beberapa pembesar kerajaan, Tumailalang bernama Daeng ri Macinna, membagi-bagi hamba Raja dan menetapkan Bate Salapanga ri Gowa menjadi “SipuE besar”, melarang rakyat berbakti pada kedua kakaknya, membunuh orang-orang walaupun tidak bersalah dan masih banyak lagi pelanggaran lainnya. Akibat dari tindakan Raja Gowa itu, banyak pendatang utamanya pedagang dari Jawa dan Sumatera serta daerah lainnya meninggalkan Gowa, membuat Gowa sepi dari kegiatan perdagangan dan pelayaran. Disamping itu, banyak anak raja dari Gowa yang meninggalkan negerinya menuju daerah lain yang dianggap lebih aman, seperti I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka (Raja Tallo/ Mangkubumi Kerajaan Gowa), Karaeng Barombong, Karaeng Data, Kar...

Karampuang

Gambar
Karampuang, sebuah lokasi perkampungan purba atau kawasan adat yang terletak di Dusun Karampuang Desa Tompobulu Kecamatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai, berjarak kurang lebih 40 km dari pusat kota Sinjai. Karampuang adalah sebuah desa yang sudah ada sejak puluhan ribu tahun lalu, hal ini dapat kita lihat dari Berbagai situs peninggalan sejarah leluhur orang karampauang, yang menjadi misteri dan belum dapat terungkap sepenuhnya. Karampuang adalah desa purba yang sudah ada sejak zaman megalitik atau zaman batu, sebagai Bukti adalah goresan Situs purba bernama  Manusia Kangkang Sejarah awal keberadaan Karampuang dimulai dengan kedatangan  To Manurung  yang diyakini seorang perempuan. To Manurung pertama inilah yang pertama turun di dataran yang pada saat itu masih berbentuk  “Cimbolo”  atau tempurung kelapa, karena bagian yang lain dari bumi ini masih berupa lautan. Komunitas adat Karampuang meyakini bahwa kehidupan pertama dimuka bumi ini bera...

Masjid Katangka : Saksi Sejarah Lahirnya Islam di Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan merupakan salah satu lambang sejarah pengaruh Islam di nusantara. Konon masjid Katangka yang terletak di Kabupaten Gowa merupakan tonggak sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Dari sejak dibangunnya sekitar 400 tahun silam, suasana dan kegiatan di masjid ini tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Masjid Tua Katangka masih berdiri kokohdan tetap mempertahankan fungsinya sebagai tempat pengajaran agama Islam. Masjid ini terletak di Jalan Syech Yusuf, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Sulawesi Selatan. Untuk menjangkaunya, butuh waktu 30 menit berkendaraan mobil dari pusat keramaian kota Makassar. Seperti tak pernah kehilangan berkahnya, masjid ini terus ramai dipadati jamaah yang ingin menunaikan shalat lima waktu. Sebagian masyarakat masih meyakini bahwa beribadah di masjid tersebut membawa berkah tersendiri bagi mereka, kendati semua masjid merupakan “rumah Allah”. Tak heran jika pada bula...

Masjid Tua Katangka - Gowa

Gambar
Masjid Tua Katangka terletak di Desa Ketangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid berbatasan dengan kompleks makam Katangka dan perkampungan di sebelah selatan dan barat, Jalan Raya Syeh Yusuf di sebelah utara, dan perkampungan dari sebelah barat. Mesjid Tua Katangka disebut juga Masjid Agung Syeh Yusuf merupakan mesjid pertama dan tertua di Pulau Sulawesi dan di wilayah waktu Indonesia bagian tengah, sekaligus masjid tertua ke sembilan di Indonesia.   Deskripsi Bangunan Masjid Katangka dibangun di atas areal seluas 610 m², luas bangunannya 212,7 m². Masjid menghadap timur dan memiliki halaman depan. Bangunan masjid mempunyai serambi dan ruang utama. Serambi masjid terdapat di depan. Dinding serambi luar berkerawang dari tembok. Pintu masuk ke serambi ada dua buah masing-masing berdaun pintu dua. Di serambi utara (di luar) terdapat tempat wudhu....

MASJID AL HILAL KATANGKA

Masjid ini dibangun pada tahun 1603 M pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-24, I Manga’ragi Daeng ManrabbiaKaraeng Lakiung- gelar Sultan Alauddin. Kemudian pada tahun 1605 M , masjid dirombak menjadi masjid Kerajaan bernama Masjid Katangka. Beberapa pemugaran yang tercatat ialah: Tahun 1818 oleh Mangkubumi Gowa XXX, Sultan Kadir Tahun 1826 Oleh Raja Gowa XXX, Sultan Abdul Rauf Tahun 1893 oleh raja gowa XXXIV , Sultan Muhhamad Idris Tahun 1948 oleh Raja Gowa XXXVI, Sultan Muhammad abdul Aidid dan Qadhi Gpowa H. Manysur daeng Limpo Tahun 1962 oleh Mangkubumi Gowa Audi Baso Daeng Rani Karaeng Bontolangkasa Tahun 1979 oleh Depdikbud RI, selanjutnya masjid ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai masjid  Al Hilal Katangka. Struktur masjid berukuran  14,1 x 14,4 meter dan bangunan tambahan 4,1 x 14,4 meter. Tinggi bangunan 11,9 meter dan tebel tembok 90 meter, Bahan baku berupa batu bata dengan atap genteng dan Lantai Porselen. Lokasi masjid berada di Kelurahan Kata...