Jejak Historis Kehadiran Pedagang Cina Di Makassar
Jejak Historis Kehadiran Pedagang Cina Di Makassar
Mengapa orang-orang Cina umumnya kaya dan menjadi pengendali roda perekonomian terutama aktivitas perdagangan di Makassar? Itulah pertanyaan yang kerap muncul dari benak orang pribumi. Bahkan tidak jarang rasa iri bercampur egois di kalangan penduduk pribumi (asli) di Makassar, seringkali menjadi bom waktu yang mempermulus meledaknya insiden pengganyangan yang mengancam harmonisasi hubungan keduanya.
Pedagang Cina secara historis merupakan sebuah komunitas yang sangat berjasa memberi spirit bagi pertumbuhan kota-kota dagang Nusantara. Sebut saja Banten atau Batavia, merupakan dua kota yang sezaman dengan masa kebangkitan Makassar, dapat disebut sebagai kota dagang yang perkembangannya tidak dapat dipisahkan dengan kiprah dan andil para pedagang Cina.
Pertumbuhan dan perkembangan kota dagang tersebut, secara alamiah telah memberi stimulan kepada penguasa-penguasa lokal untuk senantiasa terbuka dan tidak terlalu protektif terhadap pedagang asing. Karena itu, prinsip perdagangan bebas yang telah berlaku pada hampir semua kerajaan-kerajaan di Nusantara sebelum kedatangan orang Eropa, dapat dianggap sebagai faktor pendukung utama berkembangnya kota-kota pelabuhan.
Pada awal abad ke-17, orang-orang Cina merupakan komunitas yang mulai memainkan peran penting di Makassar. Pada tahun 1618, mereka secara resmi membuka kantor perwakilan dagangnya di Somba Opu

Cina Makassar Tempo Dulu; Di Depan Sebuah Gudang (Pakhuis Van De N.V. Handelsvereniging, Voorheen Reiss & Co, Di Makassar), 1953.
Sejarawan kondang Cina sekaliber Tien Ju-kung, pernah mengemukakan bahwa pada ke-17 hampir sebanyak 100 buah perahu besar Cina dengan kapasitas muat sekitar 2.000 ton bertahun-tahun berlayar ke Nusantara. Orang-orang Cina pun kemudian telah membangun jaringan perdagangan ketika eskpedisi dilakukan, dengan memanfaatkan koneksi yang telah terbentuk sebelumnya dengan para pedagang pribumi.

Iringan Pesta Anak-Anak Cina. Chinese Kinderen, In Feestelijke Kleding, Op Draagstoelen In Een Optocht Te Makassar. 1928
Kedatangan orang Cina melalui jalur pelayaran, memanfaatkan pengaruh angin musim utara pada Januari dan tiba pada Februari. Jung yang biasanya digunakan bertipe besar yakni yang-ch’uan untuk pelayaran samudera, yang dapat mengangkut lebih dari 100 orang, baik awak kapal maupun penumpang. Hal menarik dari aktivitas pelayaran ini, yakni kapal-kapal dagang dilengkapi dengan persenjataan terbatas berupa meriam, senjata ringan, pedang, mata panah serta mesiu.
Kelengkapan persenjataan dalam kegiatan pelayaran tersebut, diperkirakan penyebabnya ada dua kemungkinan. Pertama, di sepanjang laut Cina Selatan kala itu terkenal tidak aman oleh bahaya para bajak laut yang setiap saat dapat menghambat kegiatan pelayaran. Kedua, untuk menjaga kemungkinan terjadinya aksi perampokan yang dilakukan oleh para awak kapal terhadap kapalnya sendiri.
Jejak kehadiran pedagang Cina di Makassar dalam bentuk sebuah jung secara garis besar tidak dapat diperoleh, kecuali data mengenai sebuah kesaksian seorang pelaut Belanda John Splinter Stavorinus, yang naik ke sebuah jung yang sedang merapat di dermaga Makassar tahun 1780-an. Dia mengatakan bahwa jung-jung yang mereka gunakan dihias dengan aneka gambar dan hiasan.

Thian Ho Kong (Foto: Ariane Mays). ( Klenteng “Ma Tjo Poh” Ibu Agung Bahari) Lokasi di Temple Straat (kini Jl. Sulawesi No.41-Makassar). Kelurahan Pattunuang, Kecamatan Wajo, Makassar. Dibangun oleh keturunan Tionghoa di Makassar yang diketuai Kapiten Lie Lu Chang, pada tahun 1738. Fungsi sebagai tempat ibadah umat Budha (menuju Dewi Ma Tjo Poh yang dipercaya sebagai Dewi pembawa berkah dan keselamatan di laut). Luas bangunan 140 m2 (luas areal 660 m2). Sebagai peninggalan sejarah, THIAN HO KONG dilindungi undang-undang dengan nomor register 342 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Pilihan orang-orang Cina terhadap kota pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan orang-orang Eropa, untuk dijadikan tempat berdagang disebabkan dua hal. Pertama, tempat-tempat tersebut merupakan pusat perdagangan internasional terutama untuk jenis komoditas rempah-rempah dan hasil bumi yang sangat dibutuhkan oleh Cina. Kedua, tempat-tempat tersebut merupakan lingkungan yang teratur sehingga memungkinkan bagi orang Cina untuk menjadi kaya dan berpengaruh tanpa harus meninggalkan karakter ke-Cina-annya.
Akhirnya, dapat dikemukakan bahwa dalam rentetan atau proses pertumbuhan dan perkembangan Makassar sebagai kota pelabuhan secara historis telah melibatkan peran pedagang-pedagang Cina. Karena itu, merupakan hal yang wajar jika mereka merupakan bagian integral tak terpisahkan dengan kondisi Makassar di kekinian dan masa mendatang. [V] Ahmadin (Dari berbagai sumber)