Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Raja Gowa XVI

I MALLONGBASSI DAENG MATTAWANG (SULTAN HASANUDDIN) I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Muhammad Baqir Karaeng Bonto Mangngape, atau lebih tersohor dengan gelar Sultan Hasanuddin, adalah Raja ke-XVI yang terkenal keberaniannya menetang penjajah Belanda dalam wilayah kekuasaan kerajaan Gowa. Ia terkenal dengan julukan “Ayam Jantan Dari Timur”. Het Hantjes Van Oosten). Sultan Hasanuddin naik tahta pada bulan April tahun (1653-1669), menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid dalam usianya ke-22 tahun. Ibunya adalah seorang Bangsawan dari Laikang bernama I Sabbe Lokmo Takontu. Lahir 12 Januari 1631. Sejak Sultan Hasanuddin dihadapkan pada pergolakan. Pertempuran prajurit Kerajaan Gowa melawan Belanda di Buton terus berkobar. Pertempuran ini dipimpin langsung oleh Sultan Hasanuddin. Dalam serangan itu, Benteng pertahanan Belanda di Buton berhasil direbut serta menawan sebanyak 35 orang Belanda. Satu tahun lamanya Sultan Hasanuddin mengendalikan pemerintahan

Raja Gowa XIV

I MANGA’RANGI DAENG MANRABBIA  SULTAN ALAUDDIN Penobatan I Manga’rangi Daeng Manrabbia sebagai Raja Gowa XIV masih tergolong muda. Usianya saat itu baru memasuki 17 tahun. Pengangkatannya itu dilakukan atas keputusan Bate Salapanga. Karena belum Dewasa, maka Raja Gowa I Manga’rangi mempercayakan pada pamannya I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katang atau Karaeng Matowaya selaku Raja Tallo juga Mangkubumi Kerajaan Gowa saat itu untuk menjalankan roda pemerintahan. Ibunda Daeng Manrabbia bernama I Sambo Daeng Niasseng, adalah saudara kandung dari Mangkubumi Kerajaan Gowa I Mallingkaang Daeng Nyonri. Kedatangan tiga Dato dari Minangkabau, masing-masing Dato ri Bandang, Dato Pattimang dan Dato Tiro untuk menyebarkan Islam di Kerajaan Gowa dan beberapa kerajaan di wilayah timur Nusantara ini.  Gayung bersambut misi tiga Dato diterima baik di Gowa. Dato ri Bandang menyebar agama Islam di Gowa, Dato Pattimang di Luwu dan Dato ri Tiro di Bulukumba. Raja G

Raja Gowa XV

SULTAN MALIKUSSAID Raja Gowa ke-XV bernama I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung alias Karaeng Lakiung. Beliau adalah putra Sultan Alauddin dari permaisurinya bernama I Mainung Daeng Maccini Karaenga ri Bontoa. Ia lahir pada tahun 1606. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Sultan didampingi Mangkubuminya bernama I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang. Beliau terkenal dengan kecendekiawannya dan menguasai beberapa bahasa asing, seperti bahasa Spanyol, Portugis, Inggeris, Prancis, Latin dan Arab. Gowa ditangan duet Sultan Malikussaid dan Karaeng Pattingalloang telah berhasil membawa Gowa kepuncak kejayaannya. Gowa saat itu tidak hanya dikenal di Asia juga sampai ke Eropa. Ini terjadi karena jasa-jasa Karaeng Pattingalloang yang pandai berdiplomasi. Sultan Malikussaid mengadakan persahabatan dengan Gubernur Spanyol di Manila, Raja Muda Portugis di Goa (Hindustan), Marchenta di Masulipatan di Hindustan, Presiden di Keling (Koromandel), Raja

Raja Gowa XIII

I TEPU KARAENG DAENG PARABBUNG I Tepu Karaeng adalah putra I MAnggorai Daeng Mammeta Karaeng Tunijalloa. Ia naik tahta dalam usia 15 tahun walau usianya masih muda. Tetapi ia mengendalikan pemerintahan di Kerajaan Gowa secara sewenang-wenang. Tindakan yang dilakukan oleh Sang Raja adalah memecah beberapa pembesar kerajaan, Tumailalang bernama Daeng ri Macinna, membagi-bagi hamba Raja dan menetapkan Bate Salapanga ri Gowa menjadi “SipuE besar”, melarang rakyat berbakti pada kedua kakaknya, membunuh orang-orang walaupun tidak bersalah dan masih banyak lagi pelanggaran lainnya. Akibat dari tindakan Raja Gowa itu, banyak pendatang utamanya pedagang dari Jawa dan Sumatera serta daerah lainnya meninggalkan Gowa, membuat Gowa sepi dari kegiatan perdagangan dan pelayaran. Disamping itu, banyak anak raja dari Gowa yang meninggalkan negerinya menuju daerah lain yang dianggap lebih aman, seperti I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka (Raja Tallo/ Mangkubum

Raja Gowa XII

I Manggorai Daeng Mammeta Sejak I Manggorai Daeng Mammeta  Karaeng Bontolangkasa dinobatkan sebagai Raja Gowa XII, beliau menggalang persaudaraan dengan Raja Bone La Tenrirawe Bongkange yang ditandai dengan perjanjian Persaudaraan kedua belah pihak. Isi perjanjian itu bewrbunyi; Musuh-musuh seseorang diantara mereka itu juga adalah musuh-musuh bersama dan orang-orang Gowa yang berkunjung ke Bone adalah mereka itu seperti datang ke Negerinya sendiri dan orang-orang Bone berkunjung ke Gowa bagaikan datang ke negerinya sendiri. I Manggorai Daeng Mammeta naik tahta dalam usia 20 tahun. Beliau diperisterikan oleh sepupunya yakni anak dari pamannya Karaeng Tunipallagga Ulaweng. Semasa pemerintahannya, baginda telah banyak menjalin hubungan persahabatan dengan beberapa kerajaan di Nusantara ini, termasuk kerajaan di Negeri Jiran, seperti Raja Mataram, Raja Banjarmasing, Kerajaan di Pulau Jawa, Balambangan, Raja-raja di kepulauan Maluku, Raja di kepulauan Timor, Ra

Raja Gowa V

Karampang ri Gowa Karampang ri Gowa adalah putra Raja Gowa keempat I Tuniata Banri. Beliau memerintah di Gowa dari tahun 1420 hingga 1445. Juga tidak banyak diketahui siapa ibunya dan bagaimana sistem pemerintahannya. Namun bisa diketahui bahwa baginda-baginda ini melanjutkan sistem pemerintahan di Gowa yang telah dirintis oleh Tumanurunga selaku Raja Gowa pertama. Beliau menempati Istana Tamalate sebagai pusat pemerintahan sekaligus sebagai Istananya. Mulai dari raja pertama hingga Raja Gowa kelima Karampang ri Gowa, tidak ada kuburannya, melainkan mereka raib ke negeri kayangan.**

Raja Gowa III

I Puang Loe Lembang Mengenai kisah Raja Gowa I Puang Loe Lembang ini tidak banyak diketahui. Namun Baginda adalah Putra dari Tumasalangga Baraya . Setelah Ayahandanya raib ke Negeri Kayangan, beliaulah yang menggantikannya sebagai Raja Gowa ketiga dan memerintah dari tahun 137 hingga 1395. Cara Pemerintahannya tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Raja Tumanurunga dan Tumasalangga Baraya .**