Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

sejarah tanralili dan perjuangan Abu Bakar karaenta data

Tanralili merupakan salah satu kerajaan penting dalam jajaran Toddo Limaya Ri Marusu, walaupun pada abad XX Tanralili tidak lagi menjadi bagian dalam Toddo Limaya, karena terjadi peleburan dalam bagian kecamatan. Namun, tetap menjadi satu bagian dalam gallarrang Appaka (kecamatan). Peleburan beberapa eks Toddo Limaya menjadi empat kecamatan, dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah bekas kerajaan-kerajaan, yang dikenal fanatis dengan adat-istiadat lokal dan agak susah dimasuki tranformasi modern.   Karena pertumbuhan Tanralili sendiri seiring dengan berdirinya Toddo Limaya Ri Marusu diawal tahun 1700, sehingga pada bagian ini tetap merujuk bahwa Tanralili sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Toddo Limaya Ri Marusu. Tanralili merupakan kerajaan terbesar kedua dalam jajaran Toddo Limaya, setelah Turikale, yakni Tanralili membawahi 40 Kampung dengan pusat pemerintahan waktu itu di Masale, dan selanjutnya pada masa

Sejarah Bugis Bollangi di Gowa

Ketika Raja Gowa IX I Taji Barani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta berkuasa sekitar tahun 1565, upeti kerajaan Bone tidak kunjung datang. Sehingga, meyuruh 6 suro (orang suruhan) ke Bone untuk mengambil upeti tersebut. Setelah mendapatkan upeti dari Arung Pone ke-6 suro itu pamit untuk kembali ke tanah Gowa. Ditengah perjalanan salah satu suro itu mempengaruhi suro yang lainnya agar upeti tersebut dibagi rata saja dan diganti dengan pasir. Setelah sampai di kerajaan Gowa, alangkah kagetnya raja ketika membuka upeti tersebut yang hanya berisikan pasir. Raja Gowa   I Taji Barani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta merasa tersinggung atas perlakuan kerajaan Bone yang memberikan upeti pasir. Sehingga, dia memutuskan untuk menyerang kerajaan Bone. Terjadilah pertempuran antara kerajaan Bone dan kerajaan Gowa yang menewaskan Raja Gowa   I Taji Barani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta. Akibat ketegangan yang terjadi di dua kerajaan tersebut, mayat Sombaya yang masih b

SEPUCUK SURAT DARI SEORANG BANGSAWAN GOWA DI TANAH PEMBUANGAN (CEYLON)

Gambar
SURYADI (Leiden University) ABSTRACT This paper looks at an early nineteenth-century Malay letter from a land of exile, Ceylon (present-day Sri Lanka). The letter, which was written in Colombo dated 3 January 1807, is Leiden University Library MS Cod.Or.2241-I 25 [Klt 21/no.526]. It was written by Siti Hapipa, the widow of the exiled Sultan Fakhruddin Abdul Khair al-Mansur Baginda Usman Batara Tangkana Gowa, the 26th king of the Gowa Sultanate of South Sulawesi who reigned from 1753 until 1767. He was banished by the Dutch (Verenigde Oost-Indische Compagnie, VOC) to Ceylon in 1767 on a charge of conspiracy with the British to oppose the VOC trading monopoly in eastern Indonesia. Though there have been many studies of Malay letters, such letters from the lands of exile like Cod.Or.2241-I 25 [Klt 21/no.526] are still paid less scholarly attention. Interestingly, it is one of the rare eighteenth- and nineteenth-centuries Malay letters written by f