RSS

JEJAK SEJARAH SYEKH YUSUF AL-MAKASSARY



Islam merupakan agama universal yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai aturan yang mengatur kehidupan manusia. Hal ini dimaksudkan agar manusia didalam kehidupannya dapat menjalin hubungan yang baik dengan manusia lain yang ada disekitarnya sekaligus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun demikian, ternyata didalam penyebarannya, masih banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui oleh para pendakwah, utamanya Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw bahkan diancam akan dibunuh. Nabi didalam dakwahnya pernah dilempari batu sampai keningnya berdarah. Bukan hanya itu, ternyata pada perang Uhud, Nabi sampai terkepung, sampai sampai gigi Nabi-pun tanggal akibat pukulan dari salah satu kaum kafir Qurays. Hal ini dikarenakan masih banyak manusia di saat itu masih bodoh, sehingga mereka lebih cenderung melawan ketimbang rasa ingin tahu mereka terhadap Islam.

Meskipun medapat tantangan, ternyata Islam-pun mampu melebarkan sayapnya sampai ke berbagai penjuru, termasuk Nusantara. Penyebaran Islam di Nusantara ternyata berbeda dengan penyebaran Islam di Jazirah Arab. Penyebaran Islam di Jazirah Arab identik dengan peperangan dan penaklukan, sementara penyebaran Islam di Nusantara berawal dari perdagangan orang-orang Arab dengan Cina. Orang-orang Arab yang akan ke Cina tentunya harus singgah di Malaka sebelum mereka Cina. Malaka pada saat itu terkenal sebagai pusat perdagangan yang ada di Nusantara. 

Meskipun Malaka merupakan pusat perdagangan, akan tetapi pusat rempah-rempah berada di Maluku. Hubungan Maluku dan Malaka pada saat itu sudah terjalin, sehingga banyak pedagang yang datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Oleh karena itu tentunya para pedagang yang ingin ke Maluku seharusnya singgah terlebih dahulu di wilayah kerajaan Makassar sebagai tempat pelabuhan transito antara Malaka dan Maluku.

Selain mereka datang ke Maluku, sebetulnya merekapun menyebarkan agama Islam. Maka Islampun tersebar ke berbagai penjuru Nusantara seraya tersebarnya para pedagang Muslim yang ada Nusantara. Bahkan para pedagang Muslim ada yang menetap di wilayah Nusantara oelh karena mereka menikah dengan orang pribumi.

Sebagai Bandar transito, tentunya para pedagang Muslim tidak menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bedagang, akan tetapi merekapun menyebarkan agama Islam. Yang mula-mula mereka lakukan adalah mendakwai para penguasa pada saat itu. Oleh karena para penguasa tertarik dengan agam baru tersebut, akhirnya masuklah I Mangerangngi Daeng Manrabia sebagai raja pertama masuk Islam dengan gelarnya Sultan Alauddin serta raja Tallo, I Mallingkai Daeng Nyonri dengan gelarnya Sultan Abdullah Awalul Islam.

Namun demikian, Islam yang ada di Kerajaan Makassar belum terlalu dipahami, oleh karena terfokusya para Muballigh dalam mengusir penjajah yang telah datang pada saat itu. Namun demikian, dakwah sebetulnya masih berjalan, akan tetapi tidak terlalu intensif. Salah satu Muballigh terkenal di Sulawesi Selatan, bahkan sampai Ke Banten dan Afrika Selatan adalah Syekh Yusuf. Syekh Yusuf merupakan muballigh asli dari Sulawesi Selatan. Akan tetapi karena beliau merasa banyak mendapatkan tantangan di Sulawesi Selatan, utamanya di Kerajaan Makassar, maka beliau pun pindah ke Banten. Di Banten, beliupun menyebarkan agama Islam. Bahkan beliau menjadi kerabat Raja Banten. Namun karena beliau dianggap berbahaya oleh Belanda, maka iapun diasingkan Ke Afrika Selatan dan akhirnya beliupun wafat di sana.


BIOGRAFI SYEKH YUSUF AL-MAKASSARY


A. Kelahiran

Yusuf (nama kecil Syaikh Yusuf) lahir di Makassar pada tahun 1626 M. Lontarak Syekh Yusuf[1]menceritakan bahwa Yusuf lahir di Istana Tallo pada 3 Juli 1626 M/8 Syawal 1036 H, dari Puteri Gallarang Moncongloe di bawah pengawasan raja Gowa. Menurut Da Costa dan Davis,[2] orang tua Syekh Yusuf termasuk kaum bangsawan. Ibunya memiliki hubungan darah dengan raja-raja Gowa, sedangkan ayahnya masih kerabat Sultan Alauddin. Gelar “syekh” diperoleh dari seorang mursyid tarekat yang membimbingnya, sesuai dengan tradisi ahli tasawwuf.[3]

Syekh Yusuf al-Makassary adalah buah perkawinan Abdullah bin Abi Khayri al-Manjalawi dengan I Tubiani Sitti Aminah Daeng Kunjung, putri pasangan Daenta Daeng Leyo’ dengan I Kerana Daeng Singara. Daenta Daeng Leyo’ yang nama lengkapya I Hama (Ahmad) Daeng Leyo’ adalah salah seorang pejabat Bate Salapang dalam kedudukannya sebagai Daenta Gallarrang Moncong Lowe yang juga merangkap sebagai pejabat Kare Bira Ke IV.[4]

I Tubiani Daeng Kunjung dipersunting oleh Abdullah bin Abi Khayri al-Manjalawy atas bantuan Dampang Ko’mara (Suatu jabatan pemerintahan setingkat Gallarrang di Gowa). Abdullah bin Abi Khayri al-Manjalawy sendiri konon bersahabat dengan Hatib Abdul Makmur Dato’ ri Bandang, disamping itu dikenal pula sebagai seorang sufi.[5]

Yusuf kecil dipelihara dan dibesarkan di lingkungan istana bersama Sitti Daeng Nisanga putri raja Gowa, dan bersama pula diajari mengaji beserta ilmu tajwid oleh Daenta Sammeng, seorang perempuan salehah dan luas ilmunya.[6]

Dalam Tuhfat al-Mursalah, karya Syekh Yusuf, tertulis nama al-Syekh Yusuf al-Taj Abu al-Harkani al-Majalawi. Nama ini menunjukkan seorang waliyullah yang mengetahui asal-usulnya, yaitu keturunan bangsawan Lili negeri Majalawi Makassar. Dalam al-Naba fi I’rab La Ilaah illallah, tertulis nama al-Syekh Yusuf bin Abdullah al-Jawi al-Makassari, yang menunjukkah bahwa dia adalah wali sufi dari tanah Jawi dan Makassar.[7] Gelar “Syekh” diperoleh menurut tradisi tasawwuf setelah ia mendapat izin dari gurunya di Damaskus yang bernama al-Syekh Abu al-Barokah Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalawaty al-Quraisy, karena Syekh Yusuf memiliki kemampuan dan penguasaan dalam tarekat. [8]

Syekh Yusuf al-Makassary belajar bahasa Arab, ilmu Fiqh, dan ilmu-ilmu syariat lainnya pada padepokan Bontoala sebuah pondok pesantren yang didirikan ketika Gowa menerima Islam sebagai agama kerajaan. Pondok ini diasuh oleh Syekh Sayyid Ba’ Alwi bin Abdullah al-Allamah Thahir sejak 1634, seorang Arab Qurais dari Makkah yang kemudian menjadi menantu Sultan Alauddin. [9]

Syekh al-Haj Yusuf al-Makassary, kemudian melanjutkan belajar ilmu hakiki pada dua orang ulama salaf pada waktu itu, yaitu: Lo’mok ri Antang, dan Dato’ ri Panggentungang yang bernama Sri Naradireja bin Abdul Makmur, putra Dato’ ri Bandang yang bertujuan untuk mencari ayahandanya di Makassar, akan tetapi sang ayah telah wafat. Oleh raja, beliau dibujuk agar dapat menetap dan melanjutkan da’wah islamiyah yang dilakukan oleh ayahnya kala hidupnya.[10]

Di Makassar Syekh Yusuf sejak kecil dibiasakan hidup menurut norm-norma agama. Kebiasaan yang dianut oleh masyarakat Islam ketika itu, termasuk Gowa dan Tallo misalnya kewajiban belajar al-Qur’an sampai khatam. Setelah itu dilanjutkan dengan pelajaran bahasa Arab, tauhid, Fiqh dan lain-lain.[11] Tradisi itu juga dijalani oleh Syekh Yusuf. Gurunya, I Daeng ri Tasammeng, melihat minat Syekh Yusuf pada ilmu tasawwuf, sehingga ia meminta Syekh Yusuf untuk mendalam ilmu tasawwuf di luar Makassar.[12]

Keinginan Syekh Yusuf al-Makassary untuk menimba ilmu disambut baik oleh semua kalangan dengan harapan agar kelak butta Mangkasara’ memilki seorang figur ilmu Islam yang cendekia dan handal.[13]

Saat sang guru menganggap pelajaran telah selesai, Syekh Yusuf diberi pesan untuk melanjutkan perjalanannya menuntut ilmu ke Makkah. Kebetulan pada saat itu kerajaan Gowa yang sedang berkembang membutuhkan seorang ulama yang mumpuni. Oleh karena itu beberapa pembesar kerajaan menganjurkan Syekh Yusuf untuk memperdalam ilmu ke negeri lain. Saat itu Syekh Yusuf berusia 18 tahun.[14]

Sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Syekh Yusuf al-Makassary mempersunting Sitti Daeng Nisanga seperti pemberitaan Ince Nuruddin Daeng Magassing dalam karyanya berjudul Riwaya’na Tuanta Salamaka Syekhu Yusufu, th. 1933, namun tak ada tarikh yang menunjukkan kejadiannya.[15]


B. Jejak Perjalanan Syekh Yusuf dalam menuntut ilmu


a) Banten

Syekh al-Haj Yusuf al-Makassary meninggalkan Makassar dengan menumpang kapal Portugis yang bertolak di Galesong pada malam kamis, tanggal 20 Oktober 1644 Masehi bertepatan dengan tanggal 18 Saban 1054 Hijriyah sesuai penanggalan Lontara Bilang Gowa-Tallo, pada masa pemerintahan raja Gowa I Mannuntungi Daeng Mattola Sultan Malikussaid.[16]

Syekh Yusuf tiba di Banten pada masa Sultan Abu al-Mufakhir Mahmud Abdul Qadir yang memerintah tahun 1596-1651.[17] Semangat merantau dan menuntut ilmu ini sepertinya dipengaruhi oleh hubungan antara Makassar dan Banten-Aceh, sebagai kerajaan-kerajaan Islam, yang sama-sama berjuang menghadapi Portugis-Belanda.[18]

Setelah menuntut ilmu, Syekh Yusuf pulang ke Banten dan menjadi ulama yang berpengaruh. Pada tahun 1660 M, Syekh Yusuf memimpin perang dan berkali-kali berhasil melumpuhkan musuh, baik melalui strategi kekuatan laut (melalui pelaut-pelaut ulung Banten) maupun kekuatan darat (pasukan gerilya yang berani mati).[19] Dibanten, Syekh Yusuf diterima dengan baik oleh Sultan Abdul Qadir. Selain menjadi ulama, Syekh Yusuf juga menjadi kerabat Kesultanan Banten.[20]

b) Aceh

Syekh Yusuf tiba di Aceh pada masa pemerintahan Sultan Taj al-Alam Safiatuddin Syah (1641-1675), putra Sultan Iskandar Muda. Di Aceh Syekh Yusuf menemui seorang ulama terkemuka yang menjadi mufti kerajaan, yaitu al-Syekh Nuruddin ar-Raniri. Dari al-Raniri, Syekh Yusuf belajar tasawwuf dan tarekat dan memperoleh ijazah dam Tarekat Qadiriyah.[21] Menurut Lubis, Syekh Yusuf belajar kepada ar-Raniri bukan hanya di bidang agama saja, melainkan juga filsafat kenegaraan. Ar-Raniri adalah pengarang kitab terkenal Bustan al-Salatin (taman raja-raja), yaitu kitab yang mengulas tentang sistem pemerintahan Islam.[22]

c) Yaman, Hijaz, Syiria, dan Turki

Syekh al-Haj Yusuf al-Makassary meninggalkan Aceh menuju Yaman pada tahun 1649, dan berkesempatan menemui seorang Syekh tariqat, yaitu Sayyid Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsabandi dan belajar tariqat Naqsabandiyah, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Zubaid (masih Yaman) menemui Syekh Maulana Sayyid Ali dan belajar tariqat Baalawiyah.[23]

Dari Yaman, Syeh Yusuf menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan berziarah ke makam Nabi Muhammad di Madinah. Di Madinah, Yusuf bertemu dengan seorang Syekh tarekat Syattariyah, yaitu Syekh Burhanuddin al-Mulla bin Syekh Ibrahim ibnu al-Husain bin Syihab al-Din al-Kurdi al-Kurani al-Madani. Syekh Yusuf kemudian menimba ilmu dari Syekh Ibrahim dan mendapat Ijazah tarekat Syattariah.[24]

Merasa dahaga intelektual dan pengetahuannya belum terpenuhi, Syekh Yusuf kemudian menuntut ilmu ke Syiria dan berguru pada Syekh Abul Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi.[25] Dari gurunya ini, Syekh Yusuf memperoleh gelar “Tajul Khalwaty Hadiyatullah” yang artinya: “mahkota khalwaty anugrah dari Allah.”[26]

Selain itu, Syekh Yusuf juga berkesempatan mendatangi Istanbul (Turki). Setelah kurang lebih 23 tahun mengembara, Syekh Yusuf kemudian kembali ke tanah air pada tahun 1668 M.[27]


C. Perjuangan Syekh Yusuf Melawan Belanda


Syekh Yusuf kembali ke tanah air tepat setelah terjadi perjanjian Bongaya antara VOC Belanda dan Makassar, dan perlawanan raja Gowa tidak lagi memiliki pengaruh yang berarti. Pada saat itu, Arung Palakka, Sultan Bone, memilih berpihak pada VOC Belanda di bawah Spelman, dari pada mendukung Sultan Hasanuddin dari Makassar.[28]

Keadaan tersebut di atas menyebabkan masyarakat kembali pada kebiasaan lamanya, yaitu menyabung ayam, minum tuak, dan berjudi. Syekh Yusuf berusaha memperbaiki keadaan tersebut dengan menemui raja Gowa saat itu, yaitu Sultan Amir Hamzah (1669-1674), yang masih memiliki hubungan darah dengannya, untuk memberantas kemaksiatan. Namun raja tidak memenuhi keinginan Syekh Yusuf. Kecewa atas sikap raja, Syekh Yusuf memutuskan untuk meninggalkan Makassar menuju Banten dan berharap dapat mengembangkan ajaran Islam di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Sebelum meninggalkan Makassar,, Syekh Yusuf telah menyiapkan beberapa kader, termasuk Abdul Qadir Karaeng Majenneng dan Abdul Bashir Dharir, agar tetap melanjutkan dakwahnya.[29]

Berbeda dengan buku Djamaluddin Aziz yang menjelaskan bahwa Syekh Yusuf tidak melanjutkan perjalanan ke Makassar pasca perjanjian Bongaya. Syekh Yusuf memutuskan untuk menetap di Banten dan menyebarkan Islam di sana. Sementara kedua kader Syekh Yusuf dijelaskan bahwa mereka datang ke Banten untuk belajar kepada Syekh Yusuf karena Syekh Yusuf sendiri tidak datang ke Makassar. 

Di Banten, Syekh Yusuf diterima dengan senang hati oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan dinikahkan dengan putrinya sendiri yaitu ratu Aminah. Di Banten, Syekh Yusuf menjadi ulama berpengaruh karena pengetahuannya yang mendalam. Sultan Ageng Tirtayasa mengangkatnya menjadi qadli (hakim) dan guru besar agama Islam serta guru besar tarekat sekaligus panglima perang. Sejak 1660, pasukan yang dipimpin oleh Syekh Yusuf berkali-kali memukul mundur pasukan Belanda.[30]

Syekh Yusuf al-Makassary menjabat sebagai mufti selama 13 tahun yang berakhir setelah tertangkapnya Sultan Banten akibat pertikaian Belanda yang disulut oleh Sultan Haji, pendurhaka.[31] Syekh Yusuf al-Makassary melanjutkan peperangan dengan taktik perang gerilya bersama sang putra raja Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul.[32]

Mereka membawa bala tentara menelusuri lembah dan ngarai yang terhampar antara Banten dan Cirebon guna mengacaukan pasukan musuh sambil membangun serangan.[33]

Pertengahan tahun 1683, Belanda mengadakan pengejaran secara teratur untuk menangkap Syekh Yusuf dan putra Sultan Ageng Tirtayasa yang memihak Syekh Yusuf, yaitu Pangeran Purbaya. Pengejaran itu berlangsung secara terus menerus, hingga Syekh Yusuf di tangkap dan diasingkan ke Tanjung Harapan atau Afrika Selatan hingga wafat.[34]


PEMIKIRAN SYEKH YUSUF AL-MAKASSARY


A. Latar Belakang Pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassary

Perjalanan Syekh Yusuf hingga mencapai puncak pendakian intelektual dan spiritual yang tertinggi, tidak terlepas dari dorongan dan kesan guru-gurunya yang sudah melihat Yusuf sebagai orang yang memiliki kemampuan tinggi, sehingga para gurunya itu rela mengorbankan waktu dan tenaga demi mengantarkan Yusuf menjadi calon ulama, sufi dan pemimpin yang kelak disegani.[35]

Diantara peran dan dorongan-dorongan para gurunya, ada yang menghendaki agar Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya, ada juga yang memberikan rekomendasi belajar sekaligus mengorientasikan Yusuf kepada tahapan yang lebih tinggi, bahkan ada yag mengawinkan keluarganya demi mendapatkan kemauan Yusuf untuk belajar. [36]

Namun demikian, secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa selain guru-guru yang ahli dalam keilmuan Islam, keberhasilan Syekh Yusuf dalam menuntut ilmu ini amat didukung oleh semangatnya yang amat tinggi dalam pencarian ilmu pengetahuan. Tanpa semangat yang tinggi dalam pencarian ilmu pengetahuan, tidak mungkin seseorang dapat mencapai derajat yang begitu tinggi dalam dunia intelektual, walaupun didukung oleh guru-guru yang handal dan berkompeten.

a. Syariat

Syariat adalah jalan terang dan jalan baik yang dapat diikuti oleh setiap orang.[37] Syekh Yusuf memberikan makna filosofis dalam karyanya, al-Nafhat al-Sailaniyya, bahwa syariat adalah kata-kata atau pemahaman Islam (teaching of Islam). Makna yang paling mendasar, syariat adalah etika dan moralitas yang bisa ditemukan pada semua agama. Syariat adalah tahapan dimana gagasan tentang Tuhan berkesan pada manusia sebagai wibawa yang merujuk pada rasa tunduk kepada Tuhan. Syariat adalah tahapan ketika seseorang berpikir tentang sesuatu yang menyenangkan atau mengecewakan. Diawali dengan mempelajari agama dai orang tuanya, bahwa perbuatan baik akan membahagiakan dan kesombongan akan mengecewakan.[38]

Dzikir yang menjadi bagian dari tarekat berfungsi untuk menjaga hubungan antara manusia dan Tuhan serta meneguhkan tujuan dalam diri. Dzikir dalam hati merupakan sarana berkomunikasi dengan Tuhan.[39]

Berkenaan dengan dzikir yang berlandaskan syariat, yaitu menjaga tauhid dari unsur-unsur syirik, Syekh Yusuf menjelaskan tiga macam dzikir dalam karyanya, al-Barakat al-Sailaniyyah, sebagai berikut:[40]

1. Dzikir al-nafi wa ithbat, yang berupa laa ilaaha illallah.

2. Dzikir Mujarrad wal Jalala, yang berupa Allah Allah.

3. Dzikir al-Ishara wal Anfas, yang berupa Hu, Hu.

Dzikir yang pertama disebut dzikir lisan, yang kedua disebut dzikir qalb, yang ketiga disebut dzikir sirr. Dzikir pertama disebut makanan lisan, yang kedua disebut makanan hati, dan yang ketiga disebut makanan rahasia.[41]

Syekh Yusuf membagi tingkatan dan tahapan orang-orang yang melakukan dzikir ke dalam tiga bagian: tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat tinggi.[42]

Orang yang berdzikir dengan kalimat Laa Ilaah Illa Allah ada empat macam: Mengucapkan dengan lisan dan hati, tetapi tidak percaya, maka disebut munafik, mengucapkan dengan lisan hati disebut mukmin yang umum, mengucapkan dengan hati saja disebut orang khusus, mengucapkan dengan kesungguhan hati dan ia fana dari segala sesuatu selain Allah dan hanya melihat Allah, disebut Khas al-Khas.

b. Tarekat.

Dalam al-Nafhat al-Sailaniyyah, Syekh Yusuf memaknai tarekat sebagai hal atau kondisi diri untuk menghampiri Allah (The Way to The God). Tarekat mengacu pada praktek atau laku sufisme.[43]

Menurut Syekh Yusuf, jalan menuju Allah itu banyak,, sama banyaknya dengan jiwa makhluk hidup. Jalan yang paling dekat ada tiga, yaitu: [44]

Ø Jalan al-Akhyar (memperbanyak sembahyang, puasa, membaca al-Qur’an, hadits, jihad).

Ø Jalan ashab al-Mujahadat al-Shaqa, yaitu menyucikan hati.

Ø Jalan ahli Dzikir, yaitu mencintai Tuhan lahir batin.

c. Hakikat

Menurut Syekh Yusuf, hakikat adalah hati, batin atau gnosis (my heart). Hakikat mengacu pada makna terdalam dalam praktik dan bimbingan yang dibangun dalam syariat dan tarekat. Hakikat adalah pengalaman langsung dalam kondisi mistis dalam sufisme dan pengalaman langsung dari kehadiran Tuhan dalam diri. Tanpa pengalaman ini, para murid hanya mengikuti secara buta, berusaha meniru orang yang telah mencapai tingkatan (maqam) hakikat.[45]

Oleh karena itu, beberapa pernyataan di bawah ini sangat penting untuk diperhatikan:[46]
  • Hati merupakan unsur utama dalam meraih hakikat, karena hati itu ibarat bejana.
  • Hati orang kafir adalah bejana terbalik yang tidak bia dimasuki satu kebaikan pun.
  • Hati orang munafik adalah bejana pecah yang apabila dituangkan sesuatu dari atas akan merembes keluar dari bawah.
  • Hati orang beriman adalah bejana yang baik dan seimbang sehingga dapat menampung kebaikan yang dituangkan di atas hatinya.
d. Makrifat

Dalam al-Nafhat al-Sailaniyyah, Syekh Yusuf memaknai kata makrifat sebagai rahasia atau hakikat (gnosis). Makrifat adalah kearifan puncak atau pengetahuan tentang kebenaran spiritual. Makrifat adalah level yang paling dalam dan tinggi dari pengetahuan batin dan melampaui hakikat. Makrifat lebih dari sekedar pengalaman spiritual sesaat, dan makrifat merujuk pada kondisi-kondisi keselarasan dengan Tuhan dan kebenaran. Makrifat adalah pengetahuan tentang realitas yang dapat dicapai oleh hanya sedikit orang. Makrifat merupakan tingkatan para nabi, rasul, waliyullah, dan para bijak.[47]

Makrifat Allah itu ada dua macam, bersifat umum dan bersifat khusus. Makrifat pertama wajib dimiliki oleh setiap mukallaf, yakni mengakui eksistensi-Nya dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan-Nya serta mengakui segala sifat yang telah ditetapkan untuk diri-Nya. Makrifat kedua adalah kondisi menyaksikan Allah.[48]

Ahli makrifat adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk menyaksikan zat, sifat, dan perbuatan-Nya, sedangkan orang alim adalah orang yang dikaruniai pengetahuan melalui keyakinan, bukan dengan penyaksian. Pendapat lain menyebutkan bahwa makrifat adalah suatu keyakinan yang muncul setelah perjuangan ibadah. Berkaitan dengan makrifat, qalbu atau jiwa menurut kaum sufi sebagai instrumen penting karena dengan jiwa, salik dapat menghayati segala rahasia yang ada di alam gaib, dan puncak penghayatannya adalah makrifat kepada Tuhan.[49]

Untuk mencapai tingkat makrifat, Syekh Yusuf menyatakan dalam Tahsil al-Inayat wal Hidayah:[50]

Seorang hamba yang berakal jika ingin menjadi waliyullah, maka ia harus banyak berdzikir kepada Allah. Seorang hamba yang berdzikir harus tahu dan percaya pada ayat: Laisa Kamitslihi Syai‘, dan pada surat al-Ikhlas, karena semua kepercayaan kepada Allah kembali pada ayat dan surat tersebut.

Jika ingin berdzikir kepada Allah, pilihlah dzikir yang termulia, yaitu: Laa Ilaaha Illa Allah. Dzikir itu sesungguhnya iman itu sendiri. Kemudian ia harus menjalani lahirnya dan batinnya syari’at yang suci dengan memegang teguh hakikat yang suci. Ia juga harus memberatkan akhirat dari pada dunia dan mencintainya dengan cinta yang benar dan ikhlas.

Menurut Syekh Yusuf, tahap akhir pencarian kebenaran disebut makrifat. Hamba yang telah mencapai makrifat, ia disebut waliyullah. Jika telah mencapai derajat waliyullah, berarti ia telah mencapai derajat tertinggi di bawah kenabian. Artinya, seseorang yang telah mencapai derajat wali akan sepenuh hati mencintai Allah dan Nabi-Nya. Ia akan memegang teguh syariat secara lahir dan batin serta tidak terlalu mencintai dunia. Apapun yang dikerjakannya diniatkan ikhlas untuk mencapai keridhaan Allah.[51]


B. Karya-Karya Syekh Yusuf


Adapun naskah atau karya-karya Syekh Yusuf adalah sebagai berikut:[52]

1. Al-Barakat al-Sailaniyyah Minal Futuhat al-Rabbaniyyah.

2. Bidayatul Mubtadi.

3. Al-Fawaih al-Yusufiyyah fii Bayan Tahqiq al-Suffiyyah.

4. Hasyiah fi Kitab al-Anbah fi I’rabi Laa ilaaha illallah.

5. Kifiyat al-Munji wal itsbat bi al-Hadits al-Qudsi.

6. Matalib Salikin.

7. Al-Nafhah al-Saylaniyyah.

8. Qurratul Ain.

9. Sirrul Asrar.

10. Surah.

11. Taj al-Asrar fi Tahqiq Masyarin al-Arifin.

12. Zubdat al-Asrar fi Tahqiq ba’dha Masyarib al-Akhyar.

13. Fathu Kayfiyyat al-Dzikr.

14. Daf’ul Bala.

15. Hadzihi fawaid azhimat al-Dzikr Laa ilaah illallah.

16. Muqaddimah al-Fawaid allati ma labudda minal aqaid.

17. Tahsilul Inayat wa al-Hidayat.

18. Ghayatul Ikhtisar wa Nihayat al-intizar.

19. Tuhfatul Amr fi Fadlilat ad-dzikr.

20. Tuhfat al-Abhar li Ahlil Asrar

21. Al-Washiyyat al-Munjiyyat an-mudahar al-Hijaib.


PENUTUP


Syekh Yusuf merupakan salah satu ulama Sul-Sel yang terkenal sampai ke Afrika Selatan. Hal ini merupakan keberhasilan Syekh Yusuf dalam membina umat. Karya-karyanya yang begitu mengagumkan seakan memberikan gambaran kepada kita semua tentang sosok Syekh Yusuf yang sebenarnya. Meskipun ia terlahir dari keluarga bangsawan, ia tidak pernah berfoya-foya, bahkan ia meninggalkan itu semua demi menuntut ilmu sampai ke tanah Arab. Sosok beliau sangatlah diagung-agungkan, bahkan sebagian masyarakat dating berdoa ke ke kuburannya hanya untuk memanjatkan doa agar mereka selamat. Meskipun hal itu merupakan kemusyrikan, tapi sesungguhnya beliau tidak pernah ingin dikultuskan demikian. Hal itu membuktikan bahwa kharisma beliau begitu memukau, sehingga sampai sekarang pun masih dipuja-puja oleh sebagian orang. 

Selain sebagai ulama, beliaupun terkenal sebagai pejuang dalam membela tanah air dari penjajahan Belanda. Meskipun pada akhirnya beliau tertangkap dan diasingkan ke Afrika Selatan dan akhirnya wafat di sana, akan tetapi perjuangan beliau akan selalu dikenang oleh setiap generasi muda. 

Oleh karena itu, sepatutnya kita sebagai generasi muda mampu untuk mengikuti jejak beliau, mampu mengimplementasikan agama ini dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya masyarakat madani yang berlandaskan al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw.

[1] Abd. Kadir Manyambeang dkk, Lontarak Syekh Yusuf Suatu Analisa Filologi Kultural, (Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin, 1990), h. 16. 

[2] Dangor, S., Yusuf Da Costa, Ahmad Davis, The Foot Steps in the Companions: Sheikh Yusuf of Macassar 1626-1699) in Pages from Cape Muslim History (Cape Town: Cape Muslim Press, 1994), h. 19. 

[3] Mustari Mustafa, Agama dan Bayang-Bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari (Cet. 1; Yogyakarta: LKIS, 2011), h. 19 

[4] Djamaluddin Aziz Paramma Dg. Djaga, Syekh Yusuf Al-Makassary: Putra Makassar (Cet. 1; Makassar: Nala Cipta Litera, 2007), h. 20. 

[5] Ibid., h. 21 
[6] Ibid., h. 26 

[7] Sultan, Sahib, Allah dan Jalan Mendekatkan Diri Kepada-Nya dalam Konsepsi Syaikh Yusuf, (Jakarta: Al-Quswa, 1989), h. 5. 

[8] Mustari Mustafa, loc. cit. 

[9] Djamaluddin Aziz Paramma Dg. Djaga, op. cit., h. 27 

[10] Ibid. 

[11] Sultan, Sahib, op. cit. h. 12. 

[12] Mustari Mustafa, op. cit. h. 23. 

[13] Djamaluddin Aziz Paramma Dg. Djaga, loc. cit. 

[14] Mustari Mustafa, op. cit. h. 24 

[15] Djamaluddin Aziz Paramma Dg Djaga. Op. cit. h. 27-28 

[16] Ibid., h. 28. 

[17] Sebagian pihak menyebut sekitar tahun 1598-1650. Lihat, Solichin Salam, Syaikh Yusuf “Singa dari Gowa” (Ulama Kaliber International) (Jakarta: Yayasan Pembina Generasi Muda Indonesia bekerjasama Gema Salam, 2004). 

[18] Nabila Lubis, Syaikh Yusuf al-Taj al-Makassari, Menyingkap Intisari Segala Rahasia (Bandung: Mizan, 1996). 

[19] Mustari Mustafa, op. cit. h. 25 

[20] Ibid. 

[21] Sultan, Sahib, op. cit. h. 14. 
[22] Mustari Mustafa, op. cit. h. 25-26. 

[23] Djamaluddin Aziz Paramma Dg Djaga, op. cit. h. 28-29. 

[24] Mustari Mustafa, op. cit. 26. 

[25] Ibid., h. 27. 

[26] Djamaluddin Aziz Paramma Dg Djaga, op. cit. h. 29. 

[27] Mustari Mustafa, op. cit. h. 27. 

[28] Ibid. 

[29] Ibid. h. 28. 

[30] Ibid. 

[31] Djamaluddin Aziz Paramma Dg Djaga, op. cit. h. 32 

[32] Ibid. 

[33] Ibid. 

[34] Mustari Mustafa, op. cit. h. 28-29. 

[35] Mustari Mustafa, Dakwah Sufisme Syekh Yusuf al-Makassary (Cet. 1; Makassar: Pustaka Refleksi, 2010), h. 51 

[36] Ibid. 

[37] Syekh Yusuf, “Al-Barakat al-Sailaniyyah minal Futuhat al-Rabbaniyyah”, dalam Tudjimah (ed.), Syekh Yusuf, Riwayat, Hidup, Karya dan Sejarahnya (Jakarta: UI Press, 1997). 

[38] Mustari Mustafa, op. cit. h. 45-46. 

[39].Ibid. h. 47. 

[40] Ibid. 

[41] Ibid. h. 48 

[42] Ibid. h. 49 

[43] Ibid. h. 52. 

[44] Ibid. h. 54 

[45] Ibid. h. 58 

[46] Ibid. 

[47] Ibid. h. 65. 

[48] Ibid. h. 66. 

[49] Ibid. h. 66-67. 

[50] Ibid. h. 67. 

[51] Ibid. h. 68. 

[52] Ibid, h. 32-37.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

sejarah tanralili dan perjuangan Abu Bakar karaenta data


Tanralili merupakan salah satu kerajaan penting dalam jajaran Toddo Limaya Ri Marusu, walaupun pada abad XX Tanralili tidak lagi menjadi bagian dalam Toddo Limaya, karena terjadi peleburan dalam bagian kecamatan. Namun, tetap menjadi satu bagian dalam gallarrang Appaka (kecamatan). Peleburan beberapa eks Toddo Limaya menjadi empat kecamatan, dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah bekas kerajaan-kerajaan, yang dikenal fanatis dengan adat-istiadat lokal dan agak susah dimasuki tranformasi modern.  
Karena pertumbuhan Tanralili sendiri seiring dengan berdirinya Toddo Limaya Ri Marusu diawal tahun 1700, sehingga pada bagian ini tetap merujuk bahwa Tanralili sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Toddo Limaya Ri Marusu.
Tanralili merupakan kerajaan terbesar kedua dalam jajaran Toddo Limaya, setelah Turikale, yakni Tanralili membawahi 40 Kampung dengan pusat pemerintahan waktu itu di Masale, dan selanjutnya pada masa pemerintahan I Tjalla Karaeng Bunga menjadi raja di Tanralili, maka pusat pemerintahan yang tadinya di Masale di pindahkan ke Bonto Rita dan membangun Baruga di  Paramboce (Desa Damai) dan pemukimanan bagi para pengikutnya di Borongloe dan Pallangga (Desa Bontomatene).
Wilayah Tanralili merupakan hamparan dataran tinggi dan dataran rendah yang kurang subur untuk dijadikan perkebunan, yang didiami oleh kelompok masyarakat yang terkenal memiliki temperamen dan watak yang keras dan mudah tersinggung. Mengapa karakter masyarakat Tanralil demikian ? Sebab, komunitas awal Tanralili  sangat bergantung dengan alam, dan cukup tertutup dengan komunitas lain, karena daerah pegunungan yang cukup sulit untuk dijangkau.
Disamping itu, kebiasaan umum komunitas Tanralili adalah gemar dengan aktifitas yang bercorak sensasional, petualangan yang berkarakter keras.Hal itulah yang mendasari penamaan daerah ini yaitu Tanralili yang berarti tidak mudah menyerah dan tidak dapat ditundukkan.
Dalam epos dan legend masyarakat Tanralili telah mengenal adanya peradaban purba dengan ditemukannya beberapa situs prasejarah seperti tanrassan di Cindakko, tanrassan di Baru (tanrassan; tempat penempah besi untuk membuat badik), yang dibuat oleh pandai besi yang sakti, gua Rapang-Rapang di Baddo Ujung ( gua Rapang-Rapang; konon, ada sembilan patung manusia yang terbuat dari unsur emas, dengan jenis yang mewakili etnis termasuk bentuk Chines, Japanese,  Dutch, dan orang yang duduk batu tannung), Padang Taring (batu taring setinggi 2,5 meter) di Kaluku. Konon batu Padang Taring merupakan tempat persidangan dan pertemuan 3 batara yang kejadiannya ribuan tahun yang lalu.
Bahkan beberapa peneliti sejarah mengungkapkan bahwa turunan dinasti pertama Tanralili (masapurba) banyak menyebar di berbagai negeri kemudian membangun kerajaan baru. Sementara generasi kerajaan purba di Tanralili tidak ada yang tersisa, sehingga yang tertinggal adalah cagar budaya yang tidak terawat namun masih dapat di temui diberbagai tempat.
Ratusan tahun kemudian pada abad XVII pemerintahan di Tanralili dipimpin oleh dua dinasti pokok, yang pertama dinasti Latenri To Marilaleng yang kemudian dikenal sebagai perintis berdirinya kerajaan Tanralili. Berdasarkan versi tuturan dari responden, bahwa penamaan gelar Daeng bagi raja Tanralili diambil dari konvensi yang disepakati para raja di kerajaan Gowa, Bone, dan Luwu, bahwa Tanralili diputuskan sebagai wilayah otonom dengan gelar Daengta bagi raja yang memimpin Kerajaan Tanralili.
Karena raja pertama yang berkuasa di Tanralili kebetulan berasal dari kerajaan Bone yang merupakan salah satu cucu  La Patau Sultan Alimuddin Matinroe Ri Naga Uleng raja Bone XVI/ Datu Soppeng XVII  yang melahirkan dan menurunkan beberapa raja di kerajaan Bone, kerajaan Luwu, kerajaan Soppeng, kerajaan Gowa. Dari konvensi tiga raja yang berkuasa di tiga kerajaan tersebut yang kebetulan masih kerabatnya, maka memudahkan memberikan penamaan gelar Daengta bagi raja di Tanralili.
Dinasti Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong yang kemudian membawa kerajaan Tanralili terkenal, dan diperhitungkan tidak saja di Marusu, Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone. Bahkan kerajaan-kerajaan lain yang berada dalam otonom Celebes.
Pada masa pemerintahan Belanda, kerajaan Tanralili selalu menjadi prioritas dalam penanganan dan pengendalian keamanan. Karena nyaris dalam setiap pergolakan politik di kerajaan Gowa – Tallo. Kerajaan Tanralili dijadikan sentral perjuangan kemudian melebar dan mempengaruhi konflik di kerajaan Gowa – Tallo dan kerajaan  Bone.
Dalam tuturan dan catatan masyarakat Tanralili, bahwa Tanralili di beberapa periodik selalu menjadi tempat konsentrasi dimulainya pergolakan politik kekuasaan. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XI I Taji Barani Daeng Marompa Karaengta Data, ketika akan memperluas wilayah kerajaan Gowa, dan melakukan serangan terhadap kerajaan Bone yang di jabat Raja Bone VII La Tenrirawe Bongkange Matinroe ri Gucina.
Upaya perebutan kekuasaan oleh I Mappasempa Daeng Mamaro di bantu Arung Matoa Wajo, Arung Kaju dari Bone, dan La Madukelleng, saat akan menduduki kerajaan Tallo dan kerajaan Gowa, memilih Tanralili sebagai base camp penyerangan awal ke kerajaan Tallo.
Batara Gowa I Sangkilan saat menduduki kerajaan Tallo, memilih penyerangan di mulai dari Tanralili dan menyerang pos Belanda di Marusu, dan berikutnya kerajaan Tallo. Kemudian kembali menghimpun kekuatan di Tanralili untuk melakukan serangan kilat ke istana kerajaan Gowa di Jongaya.
Lalu gerakan perjuangan Abu Bakar Karaengta Data pasca perang Beba membuat pemerintahan di beberapa kerajaan bawahan di kerajaan Gowa – Tallo mengalami stagnan dan kevakuman termasuk di Marusu sampai di Pangkajene, implikasi dari perang Beba yang meledak pada tahun 1819 – 1822, membuat beberapa kerajaan bawahan di pedalaman kerajaan Gowa nyaris dikuasai oleh laskar Abu Bakar Karaengta Data seperti, seperti Manuju, Borisallo, Gallarrang Songkolo, dan beberapa kerajaan yang masuk dalam Toddo Limaya ri Marusu hingga di Pangkajene. Dan Tanralili dijadikan sebagai alternatif untuk penampungan bagi laskar dan pengikut militan Abu Bakar Karaengta Data, di bawah pimpinan putra beliau Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong, yang kemudian didaulat sebagai raja Tanralili VI.
1. Asal-usul Raja Tanralili
Dinasti pertama di Tanralili berasal dari Bone pada Lontara silsilah Bone terungkap mengenai cikal-bakal kerajaan Tanralili dan rajanya. Bahwa raja Bone XVI  La Patau Sultan Alimuddin Matinroe ri Naga Uleng yang memperistri I Mariama Karaeng Patukangan putri Mappadulung Daeng Mattimu Karaeng Sanro Bone Sultan Abdul Jalil, dari perkawinan tersebut melahirkan tiga putra;
1.    La Pareppa To Sappewali Arung Palakka Sultan Ismail dan diangkat menjadi Raja Gowa XX
2.    La Padangsajati To Wappareweraja
3.    La Pannuangi To Wappamole Sultan Abdullah Mansyur Matinroe ri Beula raja Bone XX. Beliau yang menjadi leluhur di Tanralili.
La Pannuangi To Wappamole Sultan Abdullah Mansyur memperistrikan Siti Hawang putri dari Arung Mampu, dan mempunyai anak La Tenri Page Arung Tungke (Arung Mampu), yang kemudian mengawini salah satu cucu dari ( La Patau dari istri I Maemuna Dala Marusu, red ) dari perkawinan tersebut melahirkan I Manning Arung Petteng yang kemudian diperistri oleh La Tenri To Marilaleng Pawelaiye Kaluku ( putra La To Balang Arung Tanete ) dan melahirkan La Mappaware Daeng Ngirate Karaeng Bulu Ara’na Bulu.
2. Raja yang Memerintah di Kerajaan Tanralili.
  1. La Mappaware Daeng Ngirate Karaeng Bulu (1697 - 1711)
Adalah raja pertama Tanralili sehingga ia bergelar Batara Tanralili, asal-usulnya telah dijelaskan pada bagian depan. Permaisurinya bergelar Manurung ri Ba’lasa Karaengta Allaere (bulu Ba’lasa; desa Bontomanurung, red). Berdasarkan penuturan masyarakat dari berbagai sumber, bahwa La Mappaware merupakan  pengembara yang berasal dari Bone dan bertemu dengan To Manurung dari bulu Ba’lasa. Dari perkawinannya melahirkan Daengta Tanralili. Sementara Kalompoang yang disimpan adalah Regelia bernama Bulaengta, lontaranya bernama Bakkasa, dan azimatnya bernama La Sikapang. Setelah beliau wafat bergelar Karaeng Bulu.
  1. Daengta Tanralili Matinroe ri Masale (1711 - 1729)
Daengta Tanralili mengawini We Mantasabbe Daeng Lunga putri dari kerajaan Luwu, yang mempunyai anak 3 orang putra;
    • I Lele Daeng Ri Moncong Matinroe ri Tallo
    • I Panjanggau  Daeng Mamala Matinroe ri Solojirang
    • I Malluluang Daeng Manimbang Matinroe ri Cidu Toa
      3. I Lele Daeng Ri Moncong Matintoe Ri Tallo  (1730 – 1735)
      
Pada masa pemerintahannya ia lebih banyak menjalin hubungan komunikasi
ke kerajaan Gowa, Bahkan Tanralili menjadi salah satu kerajaan bawahan dari kerajaan Gowa. Maka suatu ketika terjadi persilihan faham dengan raja Gowa, yang  menyebabkan dirinya siri’ untuk kembali ke Tanralili. Sehingga mengambil keputusan menetap di Tallo hingga akhir hayatnya dan bergelar Karaeng Tanralili Matinroe ri Tallo.
4. I Panjanggau Daeng Mamala Matinroe Ri Solojirang (1735 -1781)
Ia tercatat sebagai raja yang anti Belanda, bahkan sering mengadakan perang puputan bersama dengan istrinya Zaenab Daeng Matasa yang menyebabkan keduanya gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Pada masa pemerintahannya banyak memberikan fasilitas terhadap perjuangan Batara Gowa I Sangkilan. Bahkan dalam pendudukan wilayah Marusu dan kerajaan Tallo (Batara Gowa I Sangkilan; 1777) I Panjanggau Daeng Mamala punya andil dan advice yang besar. Beliau dikebumikan di tepi Sungai Maros, beberapa keturanannya kemudian menjalin hubungan perkawinan antara Tanralili  dengan Simbang, Turikale, dan Bontoa.
5. I Malluluang Daeng Manimbang Matinroe ri Cidu Toa  (1781 – 1819)
I Malluluang Daeng Manimbang memperistri I Ripa Daeng Cani Sugi Bontopadingin. Salah satu anaknya yang bernama Petta Tiro yang kemudian menempatkan keturunannya menjadi Karaeng Turikale, Karaeng Simbang, dan bahkan beberapa keturunanannya kemudian menjadi Syech Besar di Tarekat Khalwatiah di Leppakomai dan Pate’ne. Saat I Malluluang wafat terjadi kevakuman di kerajaan Tanralili, karena dampak dari perang puputan Abu Bakar Karaengta Data di mana wilayah kerajaan Tanralili menjadi basis perjuangan dan pertahanan yang dikuasai oleh pasukan Abu Bakar Karaengta Data, yang selalu menyerang kekuatan Belanda di Maros dan Pangkep.
Saat itu, Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong yang menjabat sebagai salah satu panglima perang laskar kerajaan Bone, banyak dibantu pasukan gabungan dari laskar kesatuaannya (pengikut setia Abu Bukar Karaengta Data) yang disiapkan di Tanralili dan laskar Tanralili sendiri dalam menjaga stabilitas keamanan Bone selatan dan Tanralili.  
Beberapa tahun kemudian setelah perang Abu Bakar Karaengta Data berakhir pada tahun 1826, maka salah satu cucu dari I Malluluang Daeng Manimbang yang bernama I Pawawoi Daeng Tula, yang saat itu berperan sebagai Salewatan Tanralili (Sallewatan; pejabat pemerintahan yang melaksanakan pemerintahan atas belum adanya pengangkatan Karaeng). Ia berinisiatif bersama masyarakat setempat mendudukkan putra Karaengta Data untuk jadi raja di Tanralili. Dengan alasan, ‘’Bahwa Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong lebih pas didaulat jadi raja di Tanralili, untuk mengantar rakyat Tanralili kearah yang lebih baik.’’
6. Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong  (1826 -1870)
Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong, merupakan putra ketiga Abu Bakar Karaengta Data dari istrinya yang ketiga I Ranti Daengta Nisayu yang berasal dari manurung Parigi (Gowa). Tjalla Karaeng Bunga dibesarkan dalam lingkungan patriotik laskar militan Abu Bakar Karaengta Data. Dalam usia remaja sudah melibatkan diri dalam perang besar di Beba, pada saat itu pasukan ayahandanya yang berjumlah 3000 prajurit, dihadapkan dengan pasukan gabungan Belanda, kerajaan Gowa dan kerajaan sekutu Belanda mengepung kekuatan pasukan Karaengta Data.
Pertempuran tidak berimbang waktu, tidak menyiutkan nyali laskar Karaengta Data, sehingga pertempuran itu dikenal dengan perang Amok yang heroik. Dimana kedua belah pihak mengalami korban yang besar, dan bagi Belanda perang Beba merupakan perang histeris karena mengalami pengorbanan yang jauh lebih besar, kehilangan prajurit pilihan ratusan orang, arsenal dan armada laut banyak yang dikaramkan.
Sementara laskar Abu Bakar Karaengta Data beserta keluarganya masih dapat meloloskan dan menyebar di berbagai tempat di pedalaman Borisallo, Manuju, Parigi, Tombolo, Tanralili, Jeneponto, Takalar. Pasca perang Beba, Tjalla Karaeng Bunga mengungsi ke kampung Ponre di kerajaan Bone, dengan rute perjalanan dari Passibungan, Galesong, Limbung, Pallangga, Parangbanoa, Kampung Lanna, Borisallo, Gantarang, Kampung Ponre Bone.
Di kampung Ponre dalam wilayah kerajaan Bone Tjalla Karaeng Bunga bersama dengan pengawal setia ayahandanya yang menjadi pengasuhnya membuka lahan pertanian. Hingga suatu ketika dalam kebun yang ditanami ubi jalar ada seekor babi siluman yang kebal dengan senjata tajam, oleh orang kampung di Ponre babi tersebut selalu meresahkan masyarakat, bahkan cerita babi suliman tersebut sudah sering jadi obyek pembicaraan di kalangan petinggi kerajaan Bone. Karena terlalu meresahkan dan telah banyak penduduk yang jadi korban keganasannya.
Maka saat binatang tersebut muncul dalam lokasi pertanian yang dikelolah Tjalla Karaeng Bunga, oleh salah satu  pengawalnya menombak binatang tersebut dan membawa kabur ’Tombak Kanjai’ milik Tjalla Karaeng Bunga. Sementara binatang yang tertombak kabur dan mati di perkampungan terdekat dan jadi tontonan masyarakat kampung. Kabar matinya babi siluman tersebut sampai di salah satu punggawa kerajaan Bone, dan tombak Kanjai yang tertancam di punggung babi tersebut diambil dan dibawa ke istana kerajaan Bone untuk dilaporkan ke raja Bone.
Raja Bone yang memegang tombak Kanjai lalu mengamati dengan seksama, dan menanyakan bahwa siapa yang menombak binatng itu, dan siapa pemilik tombak Kanjai tersebut. Punggawa kerajaan yang mendapati tombak itu, lalu menyampaikan bahwa berdasarkan informasi penduduk bahwa tombak tersebut berasal dari kampung Ponre yang pemiliknya berasal dari Gowa.
Raja Bone yang mendengar bahwa pemilik tombak tersebutt berasal dari Gowa, dengan serta merta memerintahkan punggawanya mengembalikan dan menyampaikan bahwa raja Bone mau bertemu dengan pemilik tombak Kanjai tersebut. Maka punggawa kerajaan Bone berangkat ke kampung Ponre menemui Tjalla Karaeng Bunga dan menyampaikan bahwa raja Bone mau bertemu dengannya.
Beberapa hari kemudian Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong berkunjung ke istana dan menemui raja Bone. Setelah berbincang beberapa saat raja Bone berpesan dan meminta agar Tjalla karaeng Bunga sudi tinggal di kerajaan Bone, ’’ Tinggallah di sini nak membantu kakekmu, nanti setelah panen baru kita keluar ke kerajaan Gowa.’’
Di kerajaan Bone Tjalla Karaeng Bunga di beri posisi strategis dengan jabatan salah satu panglima perang kerajaan. Semasa panglima perang pada tahun (1820 – 25) berkali-kali ia menyerang posisi Belanda di Marusu. Bahkan setiap melakukan serangan ke kekuatan Belanda dan kerajaan Gowa di Marusu, ia selalu menggunakan sisa laskar ayahandanya yang telah menetap di Tanralili, sementar laskar pasukan dari kerajaan Bone di jadikan sebagai pembackup pasukan.
Karena seringnya melakukan tekanan dan gangguan terhadap kekuatan Belanda dan kerajaan Gowa, maka asisten Gubernur yang berkedudukan di Pangkajene meminta Gubernur Belanda di Makassar, agar membicarakan dengan raja Bone, raja Gowa, bagaimana strategi  meredam gejolak tersebut.
Maka gubernur Belanda di Makassar bersepakat dengan raja Gowa untuk menawarkan beberapa alternatif kerajaan di Maros untuk menjadi otonomi dari Tjalla Karaeng Bunga.  Mendengar niat Belanda dan raja Gowa, maka I Pawawoi Daeng Tula dengan senang hati menawarkan ke Tjalla Karaeng Bunga, agar ia memilih Tanralili sebagai pilihan. Karena Tanralili merupakan basis perjuangan kakeknya Batara Gowa I Sangkilan dan ayahandanya Karaengta Data. Tanralili juga bersebelahan dengan kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo.
Atas saran dan permintaan I Pawawoi  Daeng Tula Salewatan Tanralili I, ’’... Inai paleng langngerangi Tanralili mange ri kalabiranna, ka i kambe ji nak siratanna ni paempo jari Karaeng... ’’ maka Tjalla Karaeng Bunga menerima Tanralili sebagai pilihannya, dengan konsekuensi bahwa, ‘’...kukarannuangmi ri minasanta ngaseng ki paempoa ri kalabirang mingka ki kambeya rimapparentaku...’’ Dengan pertimbangan strategis bahwa Tanralili merupakan komunitas yang fanatis dan militan dalam memperjuangkan hak-hak  universal. Bahwa komunitas Tanralili selama ini banyak menyumbang  Tubarani dalam perjalanan sejarah kerajaan Gowa.
Pada masa pemerintahannya sebagai raja Tanralili, ia banyak didampingi saudaranya dalam pengambilan kebijakan dan keputusan seperti I Galesa Karaeng  Ri Burane (I Pelo Karaeng Panrita), I Sakodana Karaeng Sila (Rajabagus), dan adiknya I Tajibarani Karaeng Tarang. Begitu juga dalam pelaksanaan pemerintahan ia mempercayakan pada I Pawawoi Daeng Tula sebagai Salewatan Tanralili, dan beberapa pengawal pribadi ayahandanya yang dijadikan sebagai penasehat  dalam pengambilan keputusan.
Oleh para saudaranya dan mantan para pengawal pribadi ayahandanya, berniat membesarkan Tanralili sebagai basis kekuatan kekuatan inti sesuai amanah dan pesan Abu Bakar Karaengta Data, saat terpisah di perang Beba di kampung Passimbungan. Mereka bersepakat, bahwa walaupun Tanralili itu dibatasi kewenangannya sebagai salah satu kerajaan bawahan (regent).
Namun, Tanralili harus menguasai wilayah seluas-luasnya hingga berbatasan dengan kerajaan Gowa – Tallo, dan menjalin hubungan yang bagus dan harmonis dengan kerajaan tetangga dan kerajaan lain yang sepaham dan berpandangan sama tentang katojengan, siri na pacce sebagai pijakan bagi pemerintah. Keuletan para kerabat dan saudaranya memperluas pengaruh dan wilayah kerajaan Tanralili, tidak terlepas dari stagnan pemerintahan kerajaan Gowa dan pemerintahan Belanda pasca kerusuhan besar akibat perang Abu Bakar Karaengta Data.
Akibat dari kerusuhan itu, maka kepercayaan masyarakat pedalaman dan kerajaan bawahan dalam otonomi kerajaan Gowa dapat dikatakan melemah pengaruhnya. Karena pemerintah kerajaan di sibukkan dengan gejolak pemberontakan dan gerakan separatis yang melakukan kekacauan di daerah pedalaman. Sehingga pihak kerajaan Gowa tidak mampu lagi mengawasi pemerintahan dan ketertiban masyarakat. Maka, kampung-kampung yang kebetulan berdampingan dengan Tanralili dengan sukarela menggabung dalam pemerintahan Tanralili.
Di masa pemerintahan Tjalla Karaeng Karaeng Bunga sebagai raja Tanralili, kerajaan Tanralili mengalami banyak kemajuan dengan bergabungnya beberapa kampung Makkaraeng, Kadieng, Bontoa, Batutambung, Daya, Romang Polong hingga batas sepanjang sungai Tallo. Karena luasnya wilayah dan perkampungan penduduk yang harus dikawal.
Dengan pertimbangan strategis bahwa untuk memajukan Regent Tanralili maka pusat pemerintahan Tanralili yang sebelumnya berkedudukan di Masale, kemudian di pindahkan ke Bonto Rita dengan mendirikan Baruga di Parang Boce pada tahun 1828 sebagai Centre Goovernance of Regent Tanralili. Bahwa pusat pemerintahan bila berada di dataran rendah akan lebih terbuka, dan akan banyak dikunjungi oleh orang dan komunikasi dengan perkampungan luar dan negeri sahabat akan lebih mudah berkoordinasi untuk memajukan pola pandang dan pembangunan komunitas ke depan. 
Dengan pergeseran pusat pemerintah dari Masale ke Parangboce, maka dengan sendirinya terjadi pembukaan pemukiman baru bagi kerabat dalam jarak 500 meter dari sebelah utara pemukiman penduduk di Tompobalang dan Bonto Cinde, sebelah timur pemukiman penduduk di Pammelakkang dan Biringkaloro, sebelah selatan pemukiman penduduk Patadang dan Borongloe, sebelah barat pemukiman penduduk Pallangga dan Pasaikang. Ia juga membuka pemukiman di Amarang dan Billa yang didiami oleh keluarga terdekat (famili gruop).
Pembukaan pemukiman  penduduk dengan sistim sulapa appa, dimaksudkan sebagai sistem pertahanan terbuka dari lingkar terluar untuk mendeteksi dan mengantisipasi ancaman dari luar.  
Dimasa pemerintahannya peran Karaeng Binea (Djira Karaeng Kalukuan; istri, dan pada sisi lainnya adalah masih tantenya sendiri, karena dikuatirkan akan diambil dan diperistri  oleh tuan Besman) penguasa assisten gubernur Belanda di Maros dan Pangkajene.
Peran strategis Karaeng Kalukuan dalam mengembalikan tanah adat dari Karaeng Bisei yang sebelumnya dikuasai Belanda, kemudian dikembalikan  kepimilikannya oleh Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong ke istrinya Djira Karengta Kalukuan, dengan alasan bahwa tanah adat tersebut adalah milik dari Karaeng Bisei dan Djira Karaeng Kalukuan adalah pewaris dari tanah adat tersebut.
Untuk menghindari konflik lahan dikemudian hari, maka Djira Karaengta Kalukuan berinisiatif mengawinkan dua anak binaannya dengan keponakannya dari anak Karaeng Bisei. Karaeng Kalukuan lalu menyarankan agar dilakukan perkawinan silang antara putra-putri dari saudaranya dengan putra-putri Tjalla Karaeng Bunga dari Karaeng Baji dan Karaeng Suji.
Lalu pada tahun 1845 dilakukan perkawinan kembar di Baruga Paramboce antara Fatahulla Karaeng Tayang anak dari Karaeng Baji dikawinkan dengan Karaeng Padja putri dari Karaeng Bisei I, dan Hamdja Karaeng Taba putra dari Karaeng Bisei dikawinkan dengan Karaeng Labbi putri dari Karaeng Suji. Setahun kemudian Nyimpung Karaeng Lallo anak kedua dari istrinya yang pertama Karaeng Suji dikawinkan dengan Dani Karaeng Ngati anak dari Karaeng Nya’la (bersaudara dengan Karaeng Sissing) cucu dari Karaeng Bisei Toa.
Pada tahun 1868 muncul gerakan separatis untuk menggulingkan raja Gowa XXXII I Kumala Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid, yang di lakukan kompatriot Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong, yang dipimpin oleh Gallarrang Mangasa Mannyereang Daeng Serang, Gallarrang Songkolo Garancing Daeng Malala (Bapak Pento), dan Gallarrang Moncongloe Apabang. Mareka mencoba melakukan Coup agar raja Gowa turun dari tahtanya, supaya Tjalla Karaeng Bunga dapat menggantikannya. Tetapi upaya itu digagalkan oleh gubernur Belanda di Makassar, dan Gallarrang Mangasa di penjarakan.
Sementara Tjalla Karaeng Bunga  mendapat teguran keras dari gubernur Belanda, agar tidak melibatkan diri dalam gerakan sosial, sejak peristiwa itu ruang gerak Tjalla Karaeng Bunga mulai dibatasai oleh penguasa Belanda. Karena di takutkan bila gerakan sosial dan provokasi para kolega Tjalla Karaeng Bunga yang menyebar di berbagai raja-raja bawahan di kerajaan Gowa akan sulit dipadamkan bila mereka merapatkan barisan untuk mengusung Tjalla Karaeng Borong sebagai raja Gowa yang baru.
7. Fatahulla Karaeng Tayang (1871 – 1877)
Setelah ayahandanya wafat Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong Karaeng Tanralili ke 6 pada tahun 1870. Maka Fatahulla Karaeng Tayang menggantikan ayahandanya sebagai karaeng Tanralili, Fatahulla Karaeng Tayang merupakan putra pertama Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong dari istrinya Karaeng Baji yang berasal dari kerajan Selayar.
Beliau merupakan anak tunggal dari istri keduanya yang berasal dari kerajaan Selayar, yang kemudian dikawinkan pada tahun 1845 dengan Karaeng Padja anak dari Karaengta Bisei I (kemanakan dari Djira Karaengta Kalukuan istri dari Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong). 
8. Nyimpung Karaeng Lallo (1877 – 1898)
Karena pertimbangan kesehatan dan ketidakmampuan untuk menjalankan pemerintahan, maka Fatahulla Karaeng Tayang menyerahkan tampuk pimpinan ke adiknya Nyimpung Karaeng Lallo anak ketiga Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong dari istri pertamanya Batari Karaeng Suji.
Pada masa pemerintahan Nyimpung Karaeng Lallo sebagai karaeng Tanralili ke 8, mengalami banyak kemajuan bagi Tanralili, baik dari segi peningkatan keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Konon  dimasa pemerintahannya sangat tegas terhadap berbagai tindak kejahatan, maka banyak kerabat dari kakeknya yang menjalin hubungan kerjasama dengan Tanralili, seperti bangsawan dari Bone, Bantaeng, Gowa, Polongbangkeng, Selayar, Manuju, Borisallo, Parigi.
Bahkan, ia dengan sukarela mengirimkan bantuan Tubarani dari Tanralili ke daerah konflik bilamana kerajaan kerabatnyamengalami gangguan dari kelompok separatis yang mengganggu stabilitas keamanan. Maka tidak mengherankan bila raja-raja dari kerajaan kerabatnya mempunyai hubungan emosional dengan Tanralili.
Maka tidaklah mengherankan saat akan diasingkan ke Bima, para kerabat dan keluarganya dari selatan ingin melakukan pemberontakan dan membakar Bandar Makassar saat akan diasingkan ke Bima. Karena tidak menerima perlakuan pemerintah Belanda terhadap Nyimpung Karaeng Lallo yang akan diasingkan ke Bima. Para kerabat dan keluarga berdatangan dari Polongbangkeng, Bantaeng, Bone, Gallarang Songkolo meminta ke pemerintah Belanda agar membatalkan pengasingannya ke Bima bersama putra pertamanya Toe Karaeng Gajang. Beliau kemudian wafat di Dompu Bima.
Nyimpung Karaeng Lallo beristrikan  Dani Karaeng Ngati, dengan 4 orang anak; Toe Karaeng Gajang, Bandu Karaeng Palallo, Bode karaeng Djai, dan Tumaning Karaeng Tuni. Selain Dani Karaeng Ngati sebagai istri pertama, ia juga mengawini kemanakan dari Karaeng Bossolo yang bernama Daeng Bollo yang kemudian melahirkan Mattoreang Karaeng Ramma.
9. Toe Karaeng Gajang Karaeng Ta’lea ri Bima (1899 – 1906)
Karena faktor usia dan kesehatan maka pemerintahan karaeng Tanralili lalu diserahkan ke putranya Toe Karaeng Gajang sebagai karaeng Tanralili ke 9, beliau menggantikan ayahandanya secara resmi pada tahun 1899 – 1906. Dalam masa pemerintahannya sebagai karaeng Tanralili, dikenal idealis dan militan dalam menyelesaikan masalah.
Tindakan-tindakannya sangat keras dan banyak bertentangan dengan pemerintahan Belanda yang waktu itu masih berkuasa. Banyak kebijakannya yang merugikan pihak Belanda, sehingga pemerintahan Belanda turut diresahkan akan sepak terjang Toe Karaeng Gajang yang terlalu idealis.
Atas tindakan dan kelakuannya yang idealis dan militan lalu beliau kemudian diasingkan ke Bima, ayahandanya kemudian ikut mendampinginya di buang ke Bima. Karena Nyimpung Karaeng Lallo menyayangkan putranya diasingkan sendiri ke Bima, sebab usianya masih terlalu muda untuk menjalani hidup yang keras di pengasingan. Maka dengan sukarela dan ikhlas ayahandanya turut serta mendampingi anaknya diasingkan ke Bima.
Selama masa pengasingan beliau digantikan adiknya I Bandu Karaeng Palallo sebagai Salewatan Tanralili II, sampai adanya pengganti karaeng Tanralili secara resmi yang diputuskan berdasarkan konvensi adat. 
10. Punru Daeng Mangati Matinroe Ri Bengkalis (1908 – 1916)
Punru Daeng Mangati adalah putra dari Pacoloi Daeng Mangoyo dari istrinya I Banna Petta Nurung ( salah anak dari Arung Ponre di Bone). Konon, akibat penghianatan seorang Landzat Pribumi, lalu diasingkan ke Bengkalis Sumatera, hingga wafat dan dimakamkan di Bengkalis.
Punru Daeng Mangati memperistri Raden Halija Daeng Ratang anak dari tuan Jaksa Landrad Maros ( Raden Mas Sukaraja ).
11.  Abdul Gani Karaeng Romo (1916 – 1925)
Ayahandanya bernama Raden Mas Abdul Fattah adalah cucu dari Pangeran Dipanegoro. Raden Mas Abdul Fattah kemudian memperistri Baliang Karaeng Tanang (anak dari Tjalla Karaeng Bunga Karaeng Borong dari istri ke 4 yang bernama Daeng Ngimi). Abdul Gani Karaeng Romo kemudian memperistri Siti Basari Karaeng Labbi anak dari Bandu Karaeng Palallo Salewatan Tanralili II.  
12.  Andi Nanggong Karaeng Matimu (1925 – 1930)
Andi Nanggong Karaeng Matimu, sebelunya adalah juru tulis Karaeng Tanralili yang digantikan, ketika Abdul Gani Karaeng Romo mengundurkan diri, dan digantikan oleh Andi Nanggong Karaeng Mattimu.
Andi Nanggong Karaeng Mattimu, memang berhak memangku jabatan Karaeng Tanralili karena ibundanya yang bernama Bode Karaeng Jai merupakan anak dari Nyimpung Karaeng Lallo Karaeng Tanralili ke – 8. Dari perkawinan Bode Karaeng Jai dengan Andi Muhammad Ali Kareang Lira Karaeng Labbakkang, yang kemudian melahirkan Andi Nanggong Karaeng Mattimu.
Andi Nanggong Karaeng Mattimu kemudian diberhentikan dari Karaeng Tanralili ke 12, dan kemudian diangkat sebagai Karaeng Segeri oleh gubernement 
13.  Andi  Abdullah Daeng Matutu (1930 – 1952)
Abdullah Daeng Matutu, sesungguhnya berasal dari Turikale dan Simbang, sebab ibunya bernama Sahada Daeng Ningai adalah anak dari La Umma Daeng Manrapi karaeng Turikale III. Berarti ibunya masih bersaudara dengan Patahuddin Daeng Parumpa Karaeng Simbang X.
14.  Andi Badudin Daeng Manuntung (1952 – 1963)
Andi Baduddin Daeng Manuntung  adalah putra dari Andi Fahrudin Daeng Sila Karaeng Imam Simbang dan I Dawani Daeng Bau anak dari Gallarrang Kodingareng, Andi Fahrudin merupakan adik kandung dari Andi Abdullah Daeng Matutu Karaeng Tanralili XIII.
       
Andi Badudin  Daeng Manuntung, merupakan karaeng Tanralili XIV dan yang   terakhir, karena Distrik Tanralili kemudian dilebur menjadi kecamatan Mandai. Andi Badudin kemudian menjadi salah satu staf di kecamatan Mandai, kemudian diangkat menjadi camat di Bantimurung.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0