RSS

Jejak Tun Abdul Razak di Butta Gowa




Pada bulan November 2012 lalu, sebanyak 40 orang mahasiswa dari  Universitas Teknologi Malaysia (UTM) melakukan kunjungan ke Kabupaten Gowa. Sasaran utama penelitiannya adalah, ingin menelusuri jejak Nenek Moyang Tun Abdul Rasak di Butta Gowa. Para mahasiswa itu menginap di salah satu rumah penduduk di Desa Sengka Kec. Bontonompo   selama sepekan, Mereka juga melakukan bakti sosial di desa itu.

Antusias para mahasiswa dari Malaysia untuk mengetahui nenek moyang mereka terlihat ketika mereka melakukan dialog dengan Zainuddin Tika, salah seorang penulis buku  dari Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan, dimana salah satu  hasil karyanya  berjudul  I Mappadulung Daeng Mattimung Sultan Abdul Jalil.  Buku tersebut menceritakan  nenek moyang Tunb Abdul Razak yang pernah menjadi Raja Gowa ke 19 dan Raja Sanrobone ke 9.

Menurut sejarah.  nenek moyang Tu Abdul Rasak bernama I Mapparulung Daeng Mattimung Sultan Abdul Jalil , berawal ketika beliau menjadi Raja Gowa ke 19 menggantikan saudaranya  bernama I Mappaossong Daeng Mangewai Karaeng Bisei, Tumenanga ri Jakattara. Dalam menjalankan kekuasaan di kerajaan Gowa, beliau didampingi oleh Mangkubumi, Abdul Hamid Karaeng Karunrung, namun pada tahun 1587 beliau wafat dan digantikan oleh Karaeng Bontosunggu.

I Mappadulung Daeng Mattimung lahir pada 16 Agustus 1652  merupakan salah seorang putra dari Sultan Hasanuddin dengan permaisuri bernama I Puanna Petta Daeng Nisali yang tak lain adalah kerabat dari Karaeng Banyuanyara.

Setelah dinoibatkan menjadi Raja Sanrobone, I Mappadulung kawin dengan sepupunya (Putri I Fatimah – Ambelu Sultran Bima) bernama I Sitti Aminah Karaeng Bonto Matekne pada 25 November 1664. Dari hasil perkawinan itulah, lahir beberapa orang anak diantaranya I Mappatunruk Daeng Mammeta Muhammad Nasiruddin Karaeng AgangJeknek, atau lebih tersohor dengan julukan Karaeng Aji, OrangKaya Indera Syahbandar Pahang pertama..

Disisi lain, I Mappadulung Daeng Mattimung juga memiliki seorang permaisuri bernama I Lokmok Daengta Daeng Bau yang tak lain adalah kerabat Karaeng Sanrobone. Dari hasil perkawionan istri kedua inilah, lahir seorang putri bernama I Mariama Karaeng Patukangang pada 9 Februari 1674. Ketika menginjak  usia gadis remaja, I Mariama kawin dengan Raja Bone bernama La Patau Matanna Tikka. Dari hasil perkawinannya itu membuahkan seorang anak bernama La Pareppa To SappewaliE.

Ketika Raja Gowa I Mappadulung Daeng Mattimung menjelang usia senja. Beliau pernah berwasiat. Bila kelak ia turun tahta, maka yang akan menggantikan kedudukannya adalah putra pertamanya dari istri pertamanya yang tak lain adalah I Mappatunruk Sultan Nasiruddin atau Karaeng Aji. Beliau kemudian dijadikan sebagai Anak Pattola (putra Mahkota) Kerajaan Gowa.

Persoalan yang muncul kemudian, ketika Raja  I Mappadulung yang  memerintah selama 32 tahu lamanya, pada saat  menjelang turun tahta, ia menginginkan anak Pattolanya Karaeng Aji bisa menggantikannya. Tapi rencana itu terhalang dengan keinginan cucunya La Pareppa To Sappe Walie yang tak lain adalah anak dari karaeng patukangan – La Patau, juga berambisi untuk naik tahta. Ambisi La Pareppa ini, karena didukung oleh Pemerintah kolonial Belanda yang sudah menguasai Kerajaan Gowa saat itu, karena telah ditandatangani perjanjian Bungaya pada 18 November 1667.

Belanda tahu betul siapa Karaeng Aji. Ia pernah memimpin pemberintakan, ketika pamannya  I Mappaossong Daeng Mangewai Karaeng Bisei T, ditawan Belanda  di Batavia, Ia ingin membebaskan pamannya, tapi kemudian  pamannya wafat,kemudian bergelar Tumenanga ri Jakattara.

Pada saat Bate Salapanga bersidang untuk memilih pengganti Raja I Mappadulung, Belanda mengerahkan semua kekuatannya untuk menekan Bate Salapanga agar memilih La Pareppa. Ternyata, hasil pilihan bate Salapanga jatuh ke  cucu I Mappadulung, yakni La Pareppa To Sappe walie. Beliau kemudian menjadi Raja Gowa ke 20 menggantikan kakeknya.

Dari putusan , Karaeng Aji merasa kecewa, akan tetapi ia sangat menghargai keputusan Bate Salapanga. Walau pendukungnya ingin selalu melakukan perlawanan, tetapi selalu dinasehati oleh Karaeng Aji, bahwa  tak perlu melakukan perlawanan, karena yang naik tahta  adalah kepenakannya sendiri . Perang saudara bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah memperkeruh suasana.

Untuk menhgobati kekecewaan Kareng Aji, ia memilih hengkan dari negeri Kerajaan Gowa. Ia berencana merantau ke negeri Pahang Malaysia. Dipilihnya Pahang, karena disana sebelumnya sudah banyak komunitas orang Bugis Makassar yang sudah lama berdiam disana, sehingga kalau ia ke Pahang, Karaeng Aji bisa diterima dengan baik.

Sesampainya di negeri Pahang,  Karaeng Aji mendapat sambutan hangat dari kmunitas orang Bugis Makassar di negeri itu. Ia kemudian diperkenalkan pada Raja Pahang. Raja Pahang yang mengetahui betul, bahwa Karaeng Aji adalah putra bangsawan Kerajaan Gowa, pertamanya ia diangkat menjadi pimpinan komunitas orang Makassar – Bugis di  negeri itu, dan kemudian dipercayakan untuk memimpin kesyahbandaran di Pahang.

Karaeng Aji kemudian berhasil membangun Syahbandar di negeri Pahang, karena dari tahun ke tahun terus mengalami kemajuan. Dari keberhasilannya itu,  Raja Pahang memberi gelar pada Karaeng Aji sebagai Orang Kaya Indra Syahbandar Pertama.

Karaeng Aji yang sudah lama bermukim di negeri itu, akhirnya beranak pinak. Salah seorang cucu Karaeng Aji kawin dengan salah seorang putri dari pasangan daeng Sipok – La Cangga, warga Bugis – Makassar yang telah lama bermukim disitu. Dari hasil perkawinanya, membuahkan seorang anak bernama Daeng Pong (Ensiklopedi Sejarah Sulsel : 18).

Daeng Pong setelah dewasa, kawin dengan pemuda asal Riau yang juga  telah lama bermukim di Pahang, namanya Toh Khatib Kampar. Anaknya kemudian kawin dengan salah seorang bangsawan Pahang bernama Tok Lebai. Dari perkawiannya itu membuahkan dua orang anak yakni Tok Tondok dan Tok Pungking.  Anak dari Tok Pondok bernama Tok Jenel  menggantikan kakeknya menjadi Syahbandar kedua. Berturut-turut cicit dari Karaeng Aji memgang Syahbandar, yakni Tok Budiman menjadi Syahbandar ke tiga. Tok Jahidin menjadi Syahbandari keempat.  Tok Ismail menjadi Syahbandar kelima.    Tok Hussin menjadi Syahbandar keenam,   Tok Awang Muhammad Taib menjadi Syahbandar ketuju.  Dato Husainmenjadi Syahbandar ke delapan.

Dari hasil perkawinan Dato Husain (Orang kaya indera Syuahbandar IX) dengan Hajjah Fatimah, membuahkan seorang anak bernama Yang Mulia YAB Tun Haji Abdul Razak (Orang Kaya Indera Syahbandar X, ) yang kelak menjadi perdana Menteri Malaysia di era tahun 1970 an..

Kemudian perkawinan Tun Abdul Razak dengan Tok Puan Hajah Raha membuahkan seorang anak bernama Yang Mulia Dato Muhammad Najib bin Tun Abdul Razak (Orang Kaya Indera Syahbandar XI) juga mengikuti jejak ayahnya menjadi perdana Menteri Malaysia sekarang.*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Tana Toa Tana Kamase-masea




Desa Tana Toa sering juga diistilahkan dengan nama Tana Kamase-masea. Tana kamase-masea dalam bahasa Makassar berarti negeri yang miskin.(bersahaja) Tana Kamase-masea, bukan berarti penduduk di dalam desa itu semuanya miskin. Kehidupan masyarakat Tana Toa justru lebih banyak yang sejahtera dibanding degan masyarakat yang ada di daerah perkotaan yang banyak menempati rumah kumuh. Kamase-mase disini berarti, hidup dalam kesederhanaan dengan tetap memelihara tradisi seperti yang dianut oleh nenek moyang mereka dulu.

Dalam Pasang ri Kajang disebutkan Kupalabbakkangko Tunaya Anne, Iami Tuna Kamase-masea (Saya berikan kehidupan, yakni kehidupan yang sangat sederhana). Pada bagian lain disebutkan, Sikaliji Kamase-mase, takkulleami Nipinra (sekali hidup sederhana tetap sederhana, tak bisa dirubah). Namun pada Pasang ri Kajang lainnyua, memberikan kelonggaran pada setiap warganya untuk hidup serba ada (kaya) tapi dengan syarat, jangan tinggal dalam kawasan Tana toa, harus diluar kawasan. Dalam Pasang ri Kajang disebutkan : Punna Erokko Kalumannyang, Assulu Pa’rasangangko ri tana Toa
(Kalau mau kaya, keluar dari negeri Tana Toa).

Menurut H. Mansyur  Embas, salah seorang tokoh masyarakat Kajang, Ketika  Tumanurung pertama datang (Bohe Mula Tau), ia memerintahkan pada warganya untuk selalu hidup sederhana dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Pasang ri kajang untuk hidup sederhana ini terus dilestarikan oleh Bohe atau Ammatoa berikutnya, hingga saat ini, masih memegang teguh Pasang ri Kajang. Itulah sebabnya,  warga disekitar  Tanah Toa, hidupnya sangat sederhana. Mereka  ikhas menerima apa adanya pemberian dari  Tu Rie A’ra’na (Allah SWT).

Tak ada warga yang berani menimbun kekayaan untuk dirinya atau keluarganya. Semua kekayaan alam , terutama  lahan persawahan dibagikan kepada setiap penduduk untuk kehidupan mereka. Disamping itu, ada  namanya tanah Ulayat atau tanah adat, yang  penggunaannya diatur menurut adat secara bergilir dari tiap kelompok dalam satu turunan. Misalnya  dalam satu kelompok, ada lima bersaudara, maka tanah ulayat tersebut, pada  tahun pertama diberikan kepada kakak pertama, pada perguliran berikutnya diberkan lagi kepada adik-adiknya hingga seterusnya terus bergulir dalam kelompoik itu. Namun untuk tanah pribadi, tetap dikerjakan oleh pemilik yang bersangkutan.

Dalam kawasan tanah Toa, tak ada  warga yang hidup melarat, seperti yang banyak terjadi di kota. Mereka menempati rumah penggung dengan mengambil bahan dari sumberdaya alam yang ada dalam kawasan itu, seperti kayu, bambu,  daun rumbia untuk atap rumah. Pekerjaan mereka rata-rata bertani, beternak. Dari hasil usaha mereka itu, duiguakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hasil pertanian, seperti padi, jagung, palawija serta hasil hutan seperti langsat, mangga, ramburtan dan coklat, banyak dijual ke pedagang. Setiap musim, hasilnya bisa mencapai sampai puluhan juta. Hitungan kasar, mereka bisa hidup bermewah-mewah, bisa membeli mobil sebagai salah satu ukuran bahwa mereka  orang berada. Tetapi keinginan untuk hidup mewah itu, tak ingin digunakan. Sebab mereka  takut pada Pasang ri Kajang, yakni hidup sederhana(Kamase-masea).

Kalaupun mau hidup serba ada atau mewah sekalipun, itu bisa diakukan kalau  tinggal diluart kawasan tanah Toa. Terbukti banyak orang Kajang yang tinggal diluar kawasan Tana Toa, gaya hidupnya sama seperti orang berada, karena mereka memiliki rumah batu yang besarnya cukup lumayan, memiliki mobil, anak-anak mereka rata-rata tamat perguruan Tinggi dan umumnya mereka bekerja pada berbagai instansi negeri maupun swasta. Gaya hidup seperti ini dibolehkan menurut Pasang ri kajang, asal berada duiluar kawasan Tana Toa.

Dalam kawasan Tana Kamase-masea semuanya serba tradisional. Pada malam hari, mereka hanya menggunakan lampu penerang yang terbuat dari biji kemiri atau  getah karet yang ditumbuk bersama kapas. Tak ada suara bising kendaraan dalam kawasan itu,. Yang  terdengar hanya suara  burung malam, seperti burung hantu, kelelawar, suara monyet dan  suara anjing menggonggong.

Tiap rumah memiliki lumbung pangan, yang disimpan diatas loteng. Jumlahnya tak seberapa, tetapi cukup dikonsumsi untuk satu musim panen, selebihnya dijual ke pedagang untuk memenuhi kebutuhan lainnya,  seperti membeli ikan, pakaian dan  bahan keperluan lainnya.Orang Tanah Toa sangat ramah. Setiap tamu yang masuk, pasti mereka jamu dengan baik. Kalau pemilik rumah yang didatangi,  terlihat cukup sibuk, maka  tetangganya ikut berpartisipasi dengan mengantarkan bahan makanan  untuk tamunya itu..

Ketika penulis  mendatangi rumah  Puto Kabutung, waktu itu sudah jam 12.00. Istri kabuton belum pulang dari sawah, maka tetangga lainnya mengantarkan makanan  ke rumah Kabuton untuk tamunya. Selesai makan, barulah Kabuton banyak melayani tamunya untuk berbicara. Menurut kabuton,  bagaimanapun  baiknya pembicaraan, kalau perut terasa lapar, pasti pembicaraan berlalu begitu saja. Untuk itulah servis pertama yang dilakukan adalah bagaimana tamunya merasa kenyang dan senang tinggal di rumahnya.

Tidak adanya listrik, jalan aspal maupun alat teknologi lainnya yang masuk dalam wilayah Tana Toa, bukan berarti, pemerintah daerah setempat tidak  memperhatikan warganya di Tana Toa. Daerah sekitarnya  ada listrik, ada jalan aspal juga sebagaian memiliki mobil, tapi karena masyarakat dalam kawasan itu tetap teguh pendidinnya terhadap Pasang ri Kajang untuk menerapkan pola hidup kamase-mase, maka mereka pantang  merubahnya.

Kenapa sampai mereka pantang memasukkan alat teknologi modren pada  kawasan Tana Toa? Menurut Poto Palasa, Ammatoa Kajang, masuknya alat teknologi itu akan merubah segalanya, terutama cara hidup masyarakat.  Mereka tak ingin terkontaminasi dengan budaya luar yang dianggap merusak tatanan  adat dan budaya di Tana Toa yang masih memegang teguh Pasang ri Kajang.

Dengan  teknologi, akan dapat merubah rumah penduduk jadi rumah batu, lampu penerangan yang hanya terbuat dari kemiri dan kapas, akan diganti dengan listrik dan yang paling mengkawatirkan lagi, masuknya alat teknologi, akan merusak kawasan hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Tana Toa.
Salah satu pola kehidupan  masyarakat Tana Toa yang patut dicontoh oleh masyarakat di seluruh negeri ini, adalah mereka mencintai produksi daerahnya sendiri. Mulai dari makanan seperti beras,  dan sayur-sayuran serta makanan lainnya kebanyakan diperoleh dari desanya sendiiri. Demikian juga pakaian hitam yang hanya diproduksi dalam kawasan itu sendiri. Sebab anak-anak gadis mereka, bila  menginjak dewasa harus tahu menenun kain sutera hitam.

Dalam konteks nasional, masyarakat Indonesia perlu mencontoh warga Tana Toa untuk tetap mencintai produksi dalam negeri. Hasil karya putra bangsa harus dihargai, walaupun ada produk   dari luar negeri yang jauh lebih bagus, tetapi karena rasa cinta pada tanah air, mereka tetap mencintai produk dalam negeri. Inilah yang masih dipegang teguh oleh  masyarakat Tana Toa. Menggunakan produk dalam negeri, akan memancing warga lainnya untuk lebih kreatif meningkatkan usahanya. Sebaliknya  kalau terlalu mengagung-agungkan produk luar negerri, industri dalam negeri pada akhirnya akan mati, Inilah yang banyak dialami oleh pengusaha dalam negeri. Hingga tak bisa berkembang. Padahal, pasar dalam negeri Indonesia yang penduduknya 260 juta sangat potensial untuk memasarkan berbagai produk dalam negeri. Mengapa pemerintah tidak belajar pada masyarakat Tana Toa untuk tetap mencintai produksi dalam negerinya.

 Dengan berpegang teguh pada Pasang ri kajang, bukan berarti warga tana Toa menutup diri bagi kedatangan tamu-tamu dari luar. Justru mereka merasa senang didatangi, asal kedatangan mereka menghargai adat dan budaya yang berlaku di Tana Toa. Kalau kedatangannya baik-baik, warga tana toa akan menerima secara baik-baik pula, tapi kalau kedatanganya  merusak, misalnya merusak hutan, menembak burung yang ada dalam kawasan, maka warga Tana Toa akan cepat bertindak untuk mengusir tamu itu atau bahkan ada   sebuah kekuatan magis yang bisa menimpa  perusak hutan yang bersangkutan, misalnya bingung mencari jalan keluar, atau perutnya tiba-tiba sakit. Bagi masyarakjat tana Toa, Alam  adalah bagian  dari kegidupan mereka, merusak hutan berarti merusak kehidupannya. Karenanya mereka marah, alau ada tamu yang merusak alam sekitar.*

Penulis: Zainuddin Tika
Sumber : Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Malino berdarah



Penulis         : Zainuddin TikaM. Ridwan Syam
Penerbit        : Pustaka Refleksi, 2006

          Hari itu, 18 Desember 1946, pasukan belanda memuntahkan peluru, jerit tangis menggema dimana-mana. Bagi para pemuda di Malino, perbuatan biadab Belanda, paling tidak harus dibayar dengan darah. Mereka bersatu mengangkat senjata dan membuat strategi di empat penjuru untuk mengepung markas belanda, mulai dari Limbua,  B uluttana, Gantarang dan Tombolopao. Akhirnya markas belanda di Malino berhasil diporak-porandakan, termasuk markas KNIL di kota Malino. 
          Sebelum terjadi peristiwa yang mengerikan  itu,  Belanda yang berniat untuk menjajah kembali  bangsa Indonesia, mengambil hati rakyat Indonesia. Mereka mendatangi  seluruh rakryat dipelosok desa, seperti halnya yang dilakukan oleh  Mr Westof yang saat itu menjadi Tuan Petoro atau residen di Malino. Kedatangannya ke Tombolo Pao untuk membagi-bagikan pakaian kepada  warga desa, agar mereka lebih simpatik pada belanda. Namun para pejuang sudah tidak percaya lagi pada belanda, mereka ingin merdeka, terbebas dari belenggu penjajahan.
Sikap pemuda demikian, ingin mengenyahkan  orang-orang belanda di bumi Sulawesi. Ketika Tuan Wes Stof dalam perjalanan  pulang dari Tombolo Pao menuju  Makassar, ketika sampai di sebuah lokasi yang tidak berpenghuni yang disebut kampung Kanre Apia,, para pejuang menghadang di tengah jalan. Rombongan pemuda itu dipimpin oleh Karaeng Pado, langsung menghadang Tuan Wesstof dan menancapkan keris pusakanya ditubuh  Mr Wes stof berkali-kali hingga  akhirnya Tuan Petoro menemui ajalnya.


          H. Abd Rauf Daeng Nompo Karaen Parigi, salah seorang saksi sejarah mengatakan,  setelah pengepungan markas KNIL di Malino, datanglah bantuan tentara belanda dari Makassar dan Sungguminasa. Mereka lalu mencari pemuda di sekitar kota Malino. Setiap pemuda yang dijumpai, mereka langsung digiring ke suatu tempat, lalu disirami peluruh, hingga mereka menemui ajalnya. Dalam peristiwa itu, lebih 100 orang  pejuang dan rakyat yang tidak berdosa menjadi korban keganasan Belanda. Para pejuang yang jadi korban, adalah ayah  Abd Rauf Dg Nompo bernama Sulaeman Daeng Jarung, Mappatangka Daeng Rani, Andi Mangeurangi, R. Endang, Karaeng Pado, Andi Baso Makkumpella , Colleng Dg Ngalle dan masih banyak lainnya.*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

~ Menelusuri Jejak Opu Daeng Manambung di Negeri Mempawah




Kedatangan Opu Daeng Manambung bersama saudaranya masing-masing Opu Daeng Parani, Opu Daeng Cellak, Opu Daeng Marewa dan Opu Daeng Kamase, sungguh sangat besar artinya  bagi masyarakat di negeri Mempawah Kalimantan Barat. Betapa tidak, kedatangan kelima pendekar dari Sulawesi Selatan ini telah mampu menyelesaikan perang saudara di Kerajaan  Matang yang saat itu dipimpin oleh Sultan Zainuddin. Dari keberhasilan itu pula, Opu Daeng Manambung  diambil sebagai menantu oleh Sultan dengan mempersunting  putrinya bernama Putri Kasumba. Hingga kini  awal mula kedatangan Opu Daeng Manambung pada abad ke 17 silam di negeri itu menjadi tonggak sejarah terbentuknya Negeri Mempawah.
Sebelum terbentuknya Kerajaan Mempawah, maka Kerajaan itu semula bernama Bangkule Rejakng, dimana Raja pertamanya bernama Nek Rumaga (dari suku Dayak)  dengan Ibukota berkedudukan di Bahana (sekitar 94 KM dari Mempawah). Salah seorang putra Ne’ Rumaga bernama  Patih Gumantar yang kelak menggantikannya  setelah Ne; Rumaga turun tahta.
Patih Gumantrar beristrikan Dara Iran dan membuahkan tiga orang anak, masing-masing bernama Patih Nyakbakng (lk) dan Patih Janakng (lk) dan Dara Itam (pr). Tak lama  setelah melahirkan anak ketiganya, istrinya Dara   Iran wafat dan dimakamkan di Bahana. Sepeninggal istrinya membuat Raja Patih Gumantar hatinya tidak tenang. Ia selalu mengembara kesana kemari, hingga  suatu saat menemukan sebuah tempat di Gunung Kandang. Karena beliau merasa senang tinggal di daerah itu, sehigga rakyatnya kemudian membangunkan sebuah istana di puncak bukit itu. Istananya kemudian  bernama Sebukit Rama.
Setelah sekian lama tinggal di istana Sebukit Rama,  Patih Gumantar menjadi korban pengayauan (pemenggalan kepala) oleh suku Dayak Biaju dekat Sukung berbatasan dengan Serawak. Kepala Patih  diambil oleh suku dayak Bijau untuk persembahan, sedangkan badannya diambil oleh keluarganya dan dimakamkan di Sebukit Rama  secara islami. Patih Gumantar kemudian digantikan oleh putra sulungnya Patih Nyakbakng.
Patih Nyakbakng kemudian kawin dengan putri Dayak,  dan membuahkan seorang putra (tak diketahui namanya). Namun putranya kemudian dipercayakan untuk menjadi Panembahan (Raja) di Senggaok) sebagai salah satu wilayah kerajaan di Bangkule Rejakng.  Putranya kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Senggaok. Pada masa pemerintahan Panembahan Senggaok inilah, mengalami kemajuan,. Karena beliau banyak melakukan hubungan dengan raja-raja lainnya di nusantara ini, diantaranya Kerajaan Batu Rija;Indragiri di Palembang, Kerajaan Matam di Sukadana, Kerajaan Luwu dan Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Dimasa pemerintahan Panembahan Senggaok inilah yang merupakan cikal bakal terbentuknya Kerajaan Mempawah yang diperingati setiap tahunnya.
Ketika Raja Qahar dari Kerajaan Batu Rijal Indragiiri dikudeta oleh  saudaranya, maka beliau bersama putrinya bernama Putri Cermin dan 7  gadis dayang-dayang beserta 30 awak kapal mencari  negeri yang aman. Dalam perjalanan  hingga akhirnya masuk ke Sambas dan melanjutkan perjalanan menuju Sebukit Rama. Sesampainya di Sebukit Rama, Patih Nyakbakng memberikan perlindungan pada rombogan Raja Batu Rijal Indragiri .
Pada saat itu, Putra Patih Nyakbakng Panembahan Senggaok masih lajang. Untuk lebih memperkokoh  persahabatan dan tali kekeluargaan, maka, Panembahan Senggaok kemudian dikawinkan dengan  putri Cermin (anak dari Raja Kahar, Raja Batu Rijal Palembang), Setelah kawin, maka  Putri Cermin mendapat gelar Ratu Penembahan Putri Cermin).  Beberapa bulan kemudian, putri cermin hamil. Sebelum melahirkan anak pertamanya,  ada ramalan dari ahli nujung yang mengatakan, kalau anak pertamanya perempuan, maka Kerajaan Bangkule Rejakng yang selama ini diperintah dari suku Dayak akan berakhir dan digantikan oleh suku lainnya, tapi kalau anaknya laki-laki, maka Dinasti Kerajaan Bangkule Rejakng tetap pada suku dayak. Ternyata, anak yang dilahirkan oleh Putri Cermin adalah perempuan yang diberi nama Mas Indrawati , maka itu pertanda pemerintahann suku dayak akan berakhir di Bangkule Rejakng, dan pemerintahannya akan diambil oeh suku lainnya.
Singkat cerita, anak kesayangan Mas Indrawati tak terasa sudah dewasa. Suatu saat, Raja dari Kerajaan Matan, Sultan Muhammad  Zainuddin yang masih lajang itu sangat tertarik dengan putri Panembahan Senggaok Mas Indrawati. Lamaran Sultan ternyata diterima baik oleh Panembahan Senggaok. Tak lama kemudiuan, kawinlah Sultan Zainuddin dengan Mas Indrawati. Dari hasil perkawinan kedua anak bangsawan ini, maka lahirlah seorang putri bernama Putri Kesumba.
Dimasa pemerintahan Sultan Zainuddin, terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh adiknya sendiri  Pangeran Agung.  Bala tentara yang sangat kuat mengakibatkan Sultan Zainuddin harus lengser dari singgasananya. Sultan sempat terkepung di dalam masjid, sedangkan istri dan  mertuanya Mas Indrawati maupun pengikutnya mengungsi ke Kotawaringin.
Di dalam Masjid, Sultan Zainuddin mendapat nasehat dari salah seorang pengikutnya, agar minta bantuan dari putra Raja Luwu La Tenri Borong Daeng Ri Lekka yang saat ini mengembara ke berbagai daerah kerajaan Melayu. Surat yang ditulis oleh Sultan kemudian dikirim ke Opu dimana mereka berada. Saat tu Opu berada di Kerajaan Siantan.
Seterimanya surat Sultan, Opu kemudian bersama kakak dan  adik beserta prajuritnya bergegas menuju negeri Matan Sukadana untuk membebaskan SultanZainuddin yang telah terkurun di dalam masjid selama lima bulan. Opu Daeng Manambung yang merantau dengan falsafah tiga ujung yakni ujung lidah (diplomasi), ujung burung (perkawinan) dan ujung Badik (pertempuran), mereka sudah siap mati demi membela kaum yang tertindas. Ia membawa  sebuah  badik kecil dari negerinya bernama Taji Karami yang sangat berbisa, juga dua buah meriam sakti namanya Sigonda yang ada diatas perahunya.
Ketika Opu Daeng Manambung memasuki Kertajaan  Matan Sukadana,  yang pertama-tama  yang ia ingin lakukan adalah membebaskan Sultan Zainuddin yang terkurun selama lima bulan. Opu  bersama prajuritnya siap berperang, akan tetapi Opu Daeng Manambung  masih sangat bijaksana. Dari tiga jenis senjata yang dimiliki, mereka  tidak akan menggunakan senjata ‘Ujung Badik’ untuk menumpas pemberontakan di Sukadana. Di depan prajurit Pangeran Agung, Opu Daeng Manambung mengajaknya mereka untuk berbicara (berdiplomasi). Dengan tutur kata yang sopan dan baik, akhirnya terjadi kata sepakat. Sultan kemudian  berhasil dibebaskan tanpa  ada pertumpahan darah. Sultan kemudian  dibawa ke Kota Waringin tempat keluarganya mengungsi.
Setelah itu, Opu lima bersaudara ini melakukan misi kedua, yakni ingin menemui Pangeran Agung di istana Kerajaan Matan Sukadana. Dari berita itu,  Pangeran Agung kemudian memerintahkan kedua menantunya juga  berasal dari Sulawesi Selatan, yakni Daeng Mataku dan  Daeng Haji Hafid beserta indra gurunya dan prajuritnya untuk menghadang pasukan Opu Daeng Lima bersaudara itu.
Kedatangan Opu Daeng Manambung  ke  Istana Kerajaan Matan, tantu tak ingin ada pertumpahan darah. Kalaupun  itu terjadi, maka  pasukan Opu sudah siap menghadapinya.
Sesampainya di depan  pintu gerbang, Opu langsung disambut oleh salah seorang menantu Pangeran, yakni  Daeng Mataku. Ternyata antara Opu Daeng Manambung dengan  Daeng Mataku masih sepupu dua kali. Dari situlah suasana tegang berubah menjadi riang gembira. Ternyata, saudara yang telah lama ingin ditemui, bisa  ketemu kembali  dalam suasana tegang. Demikian pula H. Hafid, juga ikut mendukung pertemuan dengan Opu lima bersaudara.
Karena  kedatangan Opu ini sudah diterima dengan baik, maka kedua menantu  Pangeran Agung menemui ayahandanya di istana, agar bisa bertemu dengan Opu. Dengan tutur kata yang baik, akhirnya  Opu Lima bersaudara  dipersilahkan masuk istana. Dari sanalah terjadi  pembicaraan antara Opu Lima bersaudara dengan Pangeran Agung. Setelah sekian lama mereka  bersidang, akhirnya terjadi kata sepakat. Pangeran Agung secara sukarela siap meninggalkan istana tanpa perlawanan apapun. Dengan keluarnya pangeran Agung dari istana, maka Sultan Zainuddin bisa didudukkan kembali untuk menjadi Raja di negeri Matan Sukadana.
Untuk mempererat tali hubungan persahabatan, Sultan Zainuddin minta pada Opu Daeng Manambung yang masih lajang itu untuk sudi kiranya menetap di negeri Mempawah. Sultan memiliki seorang putri yang cantik jelita, namanya Putri Kesumba. Sultan minta pada Opu agar bersedia menjadi menantunya dengan mengawini putrinya. Hati berdebar bagaikan mendapat durian jatuh, tawaran Sultanpun disambut baik oleh Opu Daeng Manambung. Putri Kesumba juga menyukai Opu Daeng Manambung karena ia seorang pemberani  yang berwajah tampan dan gagah perkasa. Karena kedua anak ini saling mencintai, akhirnya, mereka melangsungkan perkawinan di depan penghulu.
Setelah kawin, maka Putri Kesumba mendapat gelar kebangsawanan “Ratu Agung Sinuhun”. Sedangkan Opu Daeng Manambung juga mendapat gelar bangsawan “Pangeran Mas Surya Negara”..
Setelah tiga tahun  Sultan Zainuddin memegang tahta pasca pemberontakan adiknya Pangeran Agung, maka belau mau turun tahta dan minta digantikan oleh putranya. Hasil musyawarah para pembesar di Kerajaan Matan, maka ditunjuklah ditunjuklah Pangeran Mangkurat, putra Sultan dari istri yang lain
Di Kerajaan Bangkule Rejakng  yang berpusat di Pinang Sikayu terjadi kekosongan pemerintahan, untuk sementara dijabat oleh Pangeran Adipati sepupu dari Putri Kesumba.  karena nenek Putri Kesumba  yakni  Panembahan Senggaok wafat tiga tahun sebelumnya. Kepergian  Opu Daeng Manambung bersama permaisurinya Putri Kesumba disertai ibunya Ratu Mas Indrawati  dan neneknya  Ratu Panembahan Putri Cermin ke Pinang Sikayu di Bangkule Rejakng dengan maksud minta pada Pangeran Adipati untuk menyerahkan benda pusaka berupa pedang yang dibawa oleh neneknya dari Kerajaan  Batu Rijal Indragiri Palembang, sekaligus minta kekuasaan yang nantinya akan dipimpin oleh Putri Kesumba. Dari permintaan itu, Pangeran Adipati hanya menyerahkan dua daerah kekuasaan, yakni  Senggaok dan Malinsan . Putri kesumba yang diserahi tugas  untuk menjadi Ratu pada dua perkampungan itu, tak ingin melaksanakan pemerintahan, tetapi ia menyerahkan pada suaminya Opu Daeng Manambung untuk menjadi Pelaksana tugas Raja  di Kerajaan Bangkule Rejakng yang kembali beristana di Sebukit Rama yang pernah didirikan oleh Patih Gumantar dulu.
Disaat Opu Daeng Manambung menjadi Plt Raja di Bangkule Rejakng, terjadi perombakan besar-besaran dalam manajemen kerajaan. Sistem pemerintahan yang salama  itu dilaksanakan sesuai hukum adat Dayak, maka ketika Opu berkuasa, sistem pemerintahan  didasarkan pada Syariat Islam dan hukum adat Siri’ dari Sulawesi Selatan. Disamping itu, diangkat pula beberapa pejabat dalam lingkungan kerajaan, yakni menteri-mentri yang bergelar datuk, seperti Datuk Laksamana (Angatan Laut), Datuk Kiayi Dalam,  Datuk Malem, Datuk Pembekal, Datuk  Petinggi, Datuk Bendahara..
Kerajaan Bangkule Rejakng saat itu terbagi dua, yakni  Kampung Senggaok dan Malinsan berpusat di Sebukit Rama.  Penggabungan dari dua Kampung ini menjadi sebuah Kerajaan, bernama Kerajaan Mempawah. Mempawah diambil dari nama   sebuah kampung di  daerah itu, yakni di Mempawah hulu dan Mempawa Hilir. Sedangkan Bangkule Reajkng  asli tetap berkedudukan di Pinang Sikayu. Ketika Opu Daeng Manambung turun tahta, maka beliau digantikan oleh putra sulungnya Gusti Jamril Pangeran Adi Jaya untuk menjadi Panembahan di negeri Mempawah (1761 – 1787 M). Dan seterusnya pemerintahan Kerajaan Mempawah dipegang oleh   anak cucu dari turunan Opu Daeng Manambung hingga saat ini. Bekas istana kerajaan  beserta makam Opu Daeng Manambung di  Sebukit  kini masih bisa disaksikan dan  setiap harinya banyak disiarahi orang.* (z.tika)  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

( DANAU MAWANG ) Menguak kembali Legenda Yang Terlupakan.....

        
    Sedikit Mengupas Legenda yang hampir dilupakan oleh semua orang, Danau Mawang adalah sebuah Danau yang terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, Tepatnya di Kab. Gowa, Kec. Romang Lompoa.
   Menurut Legenda dari Masyarakat setempat, Danau Mawang dahulu berbentuk kerbau dan merupakan tempat meninggalnya seekor kerbau yang sakti dan perkasa milik salah seorang yang bernama Panre Tanrara, Kerbau ini merupakan pemberian dari Karaeng Tolo dari Jeneponto "Karaeng adalah Sebuah Julukan dari bahasa Makassar yang berarti Raja",  Tak berlangsung  lama setelah Karaeng Tolo memberikan kerbau raksasa  kepada Panre Tanrara, entah mengapa Karaeng Tolo berubah fikiran, dan dalam perjalanan pulang Karaeng Tolo menyusul Panre Tanrara untuk meminta kembali kerbau raksasa tersebut, tapi untungnya Panre Tanrara memiliki Kesaktian dan mengubah Kerbau Raksasa Tersebut menjadi seekor Bangkai dan dipenuhi Lalat Raksasa, Karaeng Tolo pun mengira Kerbau Raksasa itu telah mati, dan akhirnya Karaeng Tolo kembali ke Jeneponto tanpa membawa pulang Kerbau Raksasanya, Kemudian Panre Tanrara dengan kesaktiannya, kembali mengubah bangkai yang dipenuhi lalat raksasa tersebut menjadi Kerbau Raksasa yang Sehat seperti semula dan kerbau itu diberi nama "Tambak Laulung" yang berarti lalat besar.
      
    Kemudian Panre Tanrara dan kerbau raksasanya melanjutkan kembali perjalanan ke GOWA (Sekarang menjadi kab. GOWA) , dan terdengar kabar keseluruh penjuru, Panre Tanrara memiliki Kerbau Raksasa yang sakti dan Perkasa, banyak Kerbau yang telah dikalahkannya, Suatu Hari Tambak Laulung (Kerbau raksasa Panre Tanrara) berbicara dan meminta izin kepada Panre Tanrara untuk menyeberang ke lombok. Pada Saat perjalan pulang dari Lombok, Banyak kerbau yang menjadi pengikut Kerbau Sakti dan perkasa tersebut dan ikut dengan Tambak Laulung pulang ke GOWA, dalam perjalanannya kembali ke GOWA  ( nama kabupaten di Sulawesi Selatan ) Tambak Laulung dan pengikutnya mampir disebuah Telaga yang bersih dan indah, banyak pengikut Tambak Laulung yang enggan melanjutkan perjalanan kembali, dan membuat Sang kerbau sakti tersebut marah dan menanduk pengikutnya dengan tanduknya yang sangat tajam.
     Sasampainya dirumah Panre Tanrara di GOWA  ( nama kabupaten di Sulawesi Selatan ), Panre Tanrara langsung memberitahu Kerbaunya, bahwa ada Kerbau Sakti yang lain menantangnya, dan akhirnya Tambak Laulung pun meladeni tantangan tersebut dan segera melakukan perjalanan, sesampainya di tempat kerbau sakti itu, Tambak Laulungpun berduel dengan kerbau sakti itu, tanpa sadar terjadi pertarungan sengit yang lama, dan akhirnya Tambak Laulungpun menjadi pemenang, meskipun Tambak Lalulung menang tapi Tambak Lalulung terluka parah dan melanjutkan perjalanan pulang tapi menyempatkan ke Telaga yang disinggahinya bersama pengikut pengikutnya dahulu, dan akhirnya Tambak Laulungpun Tewas di Telaga itu, mayat Kerbau Raksasa (Tambak Laulung) itupun terapung dan disekitarnya ditumbuhi teratai yang indah dan cantik, kemudian telaga itu dinamakan DANAU MAWANG "Yang berarti Danau Terapung"... Dan Masyarakat setempat meyakini bahwa teratai yang tumbuh adalah tulang belulang dari Kerbau raksasa sakti (Tambak Laulung) tersebut.
    Danau Tersebut dimanfaatkan sebagai tempat Budi daya ikan Mas, Ikan Nila, Ikan Betu dan Ikan Bawel oleh Pemerintah setempat. 
  Seiring berjalannya waktu, Danau tersebut sudah tidak terpelihara, seakan akan Danau Tersebut Namanya telah hilang dan terhapus di telan oleh masa... Kami harap kepada Pemerintah agar kembali memugar dan membersihkan Danau Tersebut, selain bisa mendatangkan income, danau itu merupakan Anugerah dari Sang Pencipta, Kami berharap  DANAU MAWANG dikenal kembali dan dijadikan sebagai Objek Wisata INDONESIA....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Lontara Dalam Budaya Bugis Makassar

Lontara Bugis Makassar merupakan salah satu bukti bahwa sulawesi selatan memiliki kebudayaan yang tinggi. Dalam lontara, pikiran-pikiran, aktifitas, dan perilaku masyarakat terekspresi dan terekam secara abadi dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Tulisan merupakan salah satu wujud kebudayaan manusia, seperti wujud kebudayaan lainnya. Tulisan ini diciptakan lantaran adanya dorongan yang kuat dari dalan diri sang penciptanya untuk mengabadikan hasil-hasil pemikiran mereka, yang bisa mereka lihat setiap saat ataupun diwariskan ke generasi keturunannya. Tulisan ini lahir dari sebuah aksara kemudian dirumpun dan melahirkan sebuah bahasa yang memiliki makna tentang apa yang dituliskan para penulisnya.
Namun, dari ratusan bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Marauke, tidak semuanya memiliki aksara untuk merekam nilai-nilai budaya yang ada di dalam masyarakat pemilik bahasa itu. Bugis-Makassar merupakan salah satu bahasa daerah yang memiliki aksara yang dapat merekam, mencatat nilai-nilai luhur atau pesan-pesan, pangngadakkang atau adapt istiadat.
Menurut H Andi Ahmad Saransi, Kepala Sub Bidang Pengolahan Arsip pada Badan Arsip dan Perpustakan Daerah Provinsi Sulsel mengatakan ada tiga jenis aksara lontara Bugis-Makassar yaitu lontara jangang-jangang, lontara biasa atau sulapa appa dan lontara bilang-bilang.
Hingga saat ini tak seorang ahlipun yang menemukan siapa yang menciptakan aksara lontara tersebut. Christian Pelras peneliti dan penulis buku “the Bugis” (1996) asal Prancis menyebutkan bahwa lontara lontarak di Sulawesi Selatan ada persamaan dengan aksara yang ada di Sumatera, seperti aksara Lampung, Rejang, Batak, dan Pasemah. Johan Hendrik Caspar Kern salah seorang ahli bahasa sanskerta berkebangsaan Belanda berpendapat bahwa aksara lontara berasal dari huruf Sanskrit yang disebut Dewanagari. Pendapat ini dibenarkan oleh Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada budayawan Sulawesi Selatan dan menyebutkan Daeng Pamatte syahbandar kerajaan Gowa sebagai pembaharu aksara lontara.
Lontara selain sebagai aksara juga diartikan sebagai naskah, buku bacaan atau catatan harian. Lontara ini sudah ada sebelum masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan (abad XVI). Pada awalnya lontara ditulis didaun lontara dengan menggunakan benda tajam sjenis pisau kecil atau kallang tulang daun ijuk kemudian dibubuhi dengan arang yang dicampur dengan minyak atau kemiri yang telah dibakar sampai gosong. Panjang daun lontara tergantung dari cerita yang dituliskan sedang lebarnya hanya sekira 1 cm. Inilah sebabnya sehingga disebut aksara lontara, yaitu aksara yang ditulis pada daun lontara.
Begitu Islam masuk, maka masyarakat bugis Makassar diajarkan bagaimana cara membuat kertas dari kulit kayu. Sebab huruf arab sangat sulit ditulis didaun lontara, kemudian lahirlah macam kertas yang disebut kertas daluang yang dibuat dari kulit kayu. Kertas ini bisa bertahan hingga ratusan tahun.
Lontara bilang
Salah satu jenis lontara yang sering didengar adalah lontara bilang. Lontara ini hanya ditemukan diistana kerajaan sebab merupakan catatan harian para raja. Lontara ini mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam kurun waktu mulai pertengan abad XVI sampai pertengahan abad XVIII.
Lontara bilang yang ditemukan sekarang, diperkirakan ditulis oleh daeng Pamatte pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, Tomapa’risi’ kallonna (1512-1546). Lontara ini disempurnakan dan dilengkapi dengan penanggalan hijriah serta ditulis dengan huruf serang pada masa sultan Malik al-Sa’id, Raja Gowa XV (1639-1653). Kemudian disempurnakan kembali pada pertengahan abad XVIII dengan memasukkan kejadian dalam kurun waktu anatara abad XVII sampai abad XVIII.
Kelebihan lontara ini adalah catatan peristiwanya dilengkapi dengan tanggal kejadian, baik penanggalan Masehi maupun Hijriah. selain itu, rekaman peristiwanya singkat dan hanya memuat fakta sehingga objektivitasnya lebih bisa dipertanggung jawabkan. J. Noorduyn peneliti budaya mengemukakan apa yang dicatat dalam lontara bilang, sangat kontemporer dengan pencatatannya sehingga dapat tahan uji jika dibandingkan dengan sumber sezaman lainnya.
Lontara Bilang tersebut terdapat di perpustakaan nasional Jakarta bagian naskah nomor VT 25. Lontara tersebut tertulis dalam aksara arab berbahasa makassar tanpa nomor halaman. (dari berbagai sumber)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Catatan dalam Lontara Bilang Gowa mengenai Toraja

Berikut catatan referensi dari teman di Nederland tentang Lontara Bilang' yg berhubungan dengan Toraya :

1. 12 oct thn 1632 "namamise karaenga mantama ri Toraya" tabe Karaeng Ala'Uddin
2. 19 jawl 1042 "nabattu ri Toraya karaenga anbetai Bolong nanikana marotasaki Dimaya"
3. 27 oct 1640 " namamise ri somboopu karaenga (Malikussaid) mantama ri Walenrang ma'bunduq" 
4. 15 dec 1640 tabe Karaeng Malikussaid "nabattu ri Walinrang karaenga nabetana napasombai Bolong"
5. 4 sep 1683 " na malampa karaenga (Abdul Jalil) mantama ri Sanggala ma'bunduq 40 bang'ngi lampana na battu"
6. 13 jan 1686 "namaklampa tumantamaya ri Baroko ma'bunduq"
7. 6 jun 1688 " nama'lampa tumailalang karaeng JARANIKA mantama ri Toraya ma'bunduq"
8. 16 des 1689 "nama'lampaq karaeng ta ri manggaliq mantama ri Toraya ma'bunduq
9. 3 dec 1702 " na battu mo tumantamayya ri Toraya 173 tau Toraya tawana Karaenga"
10. 14 dec 1703 "NANI PASIEMPOANG SUDANGA LATEA ri DUNI ri LATIMOJONG NA SITALLIQ LOMPO TAUA    URU NIPASIEMPOANNA".
11. 22 oct 1705 "na mamise matinroa ri nagaulan mantama ri Toraya siagang Karaeng anak Moncong".
12. 4 dec 1705 "bang'ngi na kamataeng I Kare ta'galag tubarani ilalang ri Toraya".
13. 20 dec 1705 " na battu ri Toraya matinroa ri nagaulan tanakulleai"
14. 22 dec 1705 " na battu tommo karaeng ana' Mocong".
15. 14 Juli 1707 "na ma'lampa gallarang Mangasa siagang karaeng ta ri Agangnionjo mantama ri Toraya angkioki Pati Manjawari"
16. 23 agustus 1707 " nabattu mo ri Toraya Karaeng ta ri Agangnionjo gallarang Mangasa"
17. 3 sep 1707 "na'malampa pole gallarang Mangasa' siagang Karaeng ta Agangnionjo mantama ri Toraya".
18. 4. dec 1707 "na battu ri Toraya Kareng ta ri Agangnionjo siagang gallarang Mangasa nia tommi Pati Manjawari".
19. 16 Juni 1708 nampaqlampa Pati Manjawari mantama ri Toraja ri bainenna
demikian beberapa referensi dari teman yg berada di Nederlands, tabe mae ri saribattang,siuluku mohon di terjemahkan dan di diskusikan secara bersama. Kurre Sumanga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0