RSS

Aruna krg galesong.


Pd masa raja gowa somba barombong, 

barombong gowa benteng bassina lino. 
Barasa buku gassing gowa. 
Katingangan la.lang sipue rigowa, 
galesong bannang kebo.na gowa. 
Bone bangga kanangna galesong,  
bongga kairina manggasa. 
Lima kananna gowa, 
lima kairina manggasa, 
salangga kanangna ta.sese. 
salangga kairina latimojong. 
Ko'mara ulungna jawa, 
lakiung pokokna mangasa. 
Batang kalengna jongaya. 

Ikrar ke 2 krg galesong 
pabunduka ributta jawa. 

Tojeng-tojeng karaeng. 
Assulu-suluko naparang, 
tama2ko naromang, nia talaka. 
Natingkoro nakamallakkang

inakkemi anne tumpang kokokna bira, 
poppo toana tanete. 
Parakanna bonto sallang, 
siganca2 antu sallang ceraka rikarebosi, 
punna ta.rumba, nateai sitojennaya.
cini-ciniki mami sallang, 
jarina to bannang keboka rigowa, 
tak sampea rigalesong. 
Iyapa nalangnya, ,,nalannya todong tojenga rimemangna, 
adatka ribiasa, 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Raja Gowa XVI

I MALLONGBASSI DAENG MATTAWANG

(SULTAN HASANUDDIN)


I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Muhammad Baqir Karaeng Bonto Mangngape, atau lebih tersohor dengan gelar Sultan Hasanuddin, adalah Raja ke-XVI yang terkenal keberaniannya menetang penjajah Belanda dalam wilayah kekuasaan kerajaan Gowa. Ia terkenal dengan julukan “Ayam Jantan Dari Timur”. Het Hantjes Van Oosten).

Sultan Hasanuddin naik tahta pada bulan April tahun (1653-1669), menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid dalam usianya ke-22 tahun. Ibunya adalah seorang Bangsawan dari Laikang bernama I Sabbe Lokmo Takontu. Lahir 12 Januari 1631.
Sejak Sultan Hasanuddin dihadapkan pada pergolakan. Pertempuran prajurit Kerajaan Gowa melawan Belanda di Buton terus berkobar. Pertempuran ini dipimpin langsung oleh Sultan Hasanuddin. Dalam serangan itu, Benteng pertahanan Belanda di Buton berhasil direbut serta menawan sebanyak 35 orang Belanda.
Satu tahun lamanya Sultan Hasanuddin mengendalikan pemerintahan, Mangkubumi Kerajaan Gowa Karaeng Pattingalloang wafat pada 15 September 1654. Beliau kemudian digantikan oleh putranya bernama Karaeng Karunrung.
Belanda melihat, perang dengan Kerajaan Gowa telah banyak menelan biaya, demikian halnya di sektor perdagangan telah banyak mengalami kerugian. Belanda kemudian membuat siasat. Ia ingin damai. Pada tanggal 23 Oktober 1655 Belanda mengutus Willem Van Den Berg dan seorang berkebangsaan Armenia bernama Choja Sulaeman untuk menghadap Sultan dan menyampaikan pesan Jenderal Maestsuyker. Perundingan itu berlangsung 28 Desember 1655 dimana tuntutan Belanda :
  1. Orang-orang Makassar yang ada di Maluku boleh kembali ke Negerinya.
  2. Raja Gowa boleh menagih utang piutangnya di Ambon
  3. Orang-orang tawanan dari kedua belah pihak harus diserahkan pada pihak masing-masing.
  4. Musuh-musuh dari Belanda tidak akan menjadi musuh dari Kerajaan Gowa.
  5. Belanda tidak akan mencampuri perselisihan diantara orang-orang Makassar.
  6. Belanda boleh menangkap semua orang Makassar yang didapati berlayar di Perairan Maluku.
Tuntutan belanda itu dinilai oleh Sultan sangat merugikan Gowa, karenanya ditolak. Sultan malah menantang perang. Ia didukung oleh Mangkubuminya Karaeng Karunrung serta Karaeng Galesong dan Karaeng Bonto Marannu untuk unjuk kekuatan. Dari tantangan itu, Belanda juga meningkatkan kekuatannya. Sebuah armada bantuan dari Batavia yang dipimpin oleh Mr. Johan Van Dam.
Untuk mengelabui prajurit Gowa, semua armada langsung ke Ambon sebagai upaya untuk memancing amarah prajurit Gowa. Setelah itu barulah mereka menyerbu Sombaopu.
Bulan Juni 1666 terjadi pertempuran hebat di perairan Sombaopu. Belanda mengirim sebanyak 22 kapal perang dengan kekuatan 1604 serdadu ditambah dengan 700 serdadu pembantu dari Jawa dan Madura, Ambon dan lainnya.
Ketika melakukan serangan ke Benteng Panakkukang, Belanda pura-pura menuju ke Utara seolah-olah hendak menyerang benteng Sombaopu tempat kediaman Sultan.
Serangan besar-besaran yang telah dilancarkan oleh Belanda itu, akhirnya pada 12 Juni 1668 Belanda berhasil merebut Benteng Panakkukang, Prajurit Kerajaan Gowa tidak tinggal diam, pasukan yang dipimpin oleh Karaeng Galesong dan Karaeng Bonto Marannu terus melakukan perlawanan. Pertempuran yang berlangsung selama 2 hari telah banyak menelan korban. Akhirnya kedua belah pihak sepakat melakukan gencatan senjata.
Menuju pada perundingan perdamaian itu, Sultan mengutus Karaeng Popo mewakili Kerajaan Gowa ke Batavia. Akhirnya pada tanggal 1 Desember 1660 perjanjian perdamaian itu ditandatangani oleh Sultan, namun begitu perjanjian tidak berlangsung lama, karena sangat merugikan Gowa, yakni :
  1. Larangan pada orang-orang Makassar untuk berlayar di Perairan Banda dan Ambon.
  2. Pengusiran orang-orang Portugis di Makassar.
Sultan beserta Mangkubuminya Karaeng Karunrung menolak keras perjanjian perdamaian itu. Malah Sultan memaklumkan perang terhadap Belanda, seraya berkata :
Gowa lebih suka berperang terus melawan belanda dari pada memenuhi segala isi perjanjian yang disodorkan oleh Belanda itu.
Sultan malah memerintahkan rakyatnya untuk membangun Benteng-benteng pertahanan, mulai dari Mariso, dari sana Benteng pertahanan sepanjang 2,5 mil dari Binanga Beru hingga ke Ujung Tanah.
Setelah gencatan senjata, kedua belah pihak masing-masing menyusun strategi dan memperkuat armadanya. Nafsu Belanda ingin menguasai Gowa, maka diutuslah Spellman dari Batavia pada 24 November 1666 menuju Benteng Sombaopu. Mereka diperkuat dengan 21 kapal perang dan 600 tentara, didukung sekitar 400 pasukan pimpinan Arung Palakka dan Kapten Jongker dari Ambon.
Armada Belanda tiba di Sombaopu pada 15 Desember 1666, dan keadaan di Gowa semakin tegang, para pedagang pun menghentikan kegiatannya.
Demikian halnya di pihak Kerajaan Gowa, semua Benteng yang dilengkapi persenjataan dan amunisi serta persiapan makanan selama berbulan-bulan.
Sementara itu, Karaeng Bontomarannu dengan armada perangnya sebanyak 700 kapal masih melakukan perlawanan di Buton.
Ketika utusan Spelman menghadap Sultan untuk menyampaikan tuntutan agar Sultan menyerah saja dan bersedia membayar kerugian Belanda akibat perang terdahulu. Ternyata tuntutan Spelman itu hanya taktik belaka untuk memulai peperangan.
Tapi Sultan Hasanuddin dengan berani menjawab Bila kami diserang, maka kami mempertahankan diri dan kami menyerang kembali dengan segenap kemampuan yang ada. Kami berada di pihak yang benar. Kami ingin mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami.
Pagi itu, sekitar Tgl 21 Desember 1666, Spelman mengibarkan Bendera merah pertanda perang siap dimulai, dentum meriampun mulai menghantam benteng satu persatu dan kemudian dibalas oleh prajurit Kerajaan Gowa.
Semangat juang dari prajurit Gowa semakin berkobar, armada perahu kecil yang disebut armada semut sekali-sekali melakukan serangan terhadap kapal Belanda. Perlawanan yang gigih dan prajurit Gowa telah mampu memukul basis pertahanan Belanda.
Dentuman meriam belanda secara membabi buta, membuat kapal niaga yang sandar di Pelabuhan Sombaopu tenggelam satu persatu. Bahkan membumi hanguskan sekitar 30 Desa serta merusak lumbung pangan.
Tgl 1 Januari 1667 Spelman mengerahkan sebagian armadanya untuk menyerang Karaeng Bontomarannu di Buerah pada 4 Januari 1667. Kemenangan itu dirayakan oleh Spelman bersama Sultan Buton. Belanda lalu memberikan hadiah 100 ringgit pada prajurit Buton.
Setelah itu, armada tempur Spelman melanjutkan perjalanan ke Ternate. Arung Palakka mengirim pasukannya sebanyak 2000 orang ke Bone untuk membentuk pasukan baru. Pasukan Bone ini di siapkan untuk menyerbu Kerajaan Gowa di daratan.
Bulan Juni 1667 Spelman bersama Sultan Mandarsyah yang membawa pasukan ke Ternate Bacan dan Tidore bergabung dengan pasukan Arung Palakka dan Kapten Jongker.
Dengan kekuatan dari Belanda itu, akhirnya perang pecah pada tgl 7 Juli 1667 setelah sekitar 7000 pasukan Kerajaan Gowa melakukan serangan mendadak terhadap pasukan Belanda dan sekutunya. Empat hari kemudian, Belanda baru berhasil memasuki perairan Kerajaan Gowa, Tgl 19 Juli perairan Makassar sudah dipenuhi kapal-kapal Belanda dan Benteng Sombaopu dikepung, Sultan Hasanuddin dan Raja Tallo Sultan Harun Al Rasyid yang langsung memimpin perlawanan itu. Beliau berada di barisan terdepan memimpin pasukan pasukan, disusul beberapa pasukan Tubarani, seperti Karaeng Galesong, I Fatimah Daeng Takontu serta pembesar kerajaan lainnya.
Para Panglima perang di tebar di beberapa benteng pertahanan. Karaeng Bontosunggu dipercayakan untuk menjaga pertahanan di Benteng Ujung Pandang sedang Karaeng Popo memimpin pertahanan di Benteng Panakkukang.
Pada Tgl 19 Agustus 1667 pagi. Benteng Galesong diserang dengan meriam Belanda. Ketika lumpuh, Belanda lalu membakar gudang beras di Galesong dan Barombong. Perlawanan yang digencrkan para Tubarani dengan membalas dentuman anak meriam mangkasara membuat Belanda kocar kacir, demikian halnya pasukan Arung Palakka berhasil dipukul mundur.
Atas serangan balasan itu, Spelman memperkuat pasukan 5 armada perang didatangkan dari Batavia yang dipimpin Komandan Kapten P. Dupon. Dari kekuatan itu Belanda lalu menyerang Benteng Barombong.
Tgl 5 November 1667 Spelman melapor ke Batavia bahwa pasukannya sudah payah, semangat tempur merosot, 182 orang serdadu dan 95 matros jatuh sakit, pasukan Buton, Ternate dan Bugis banyak diserang sakit perut, belum lagi yang mati di medan perang. Spelman minta lagi dikirim pasukan baru.
Atas bantuan pasukan baru itu, anak benteng pertahanan satu demi satu direbut Belanda. Sultan Hasanuddinpun merasa sedih, karena yang dihadapi tak hanya musuh, tetapi juga dari sesama bangsa sendiri, yakni dari Bugis, Ternate dan Buton.
Dalam kondisi demikian, datang perutusan Spelman agar Sultan bersedia berunding dan perangpun harusa dihentikan. Atas pertimbangan yang arif dan bijaksana dari Sultan, akhirnya kedua belah pihak melakukan perundingan di Bungaya dekat Barombong. Setelah beberapa hari dilakukan perundingan, akhirnya pada hari Jum’at 18 November 1667 tercapailah suatu kesepakatan yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya atau lasim disebut Cappaya ri Bungaya.
Atas penandatangan perjanjian Bungaya itu, banyak pembesar Gowa tak setuju, seperti Karaeng Galesong, Karaeng Bontomarannu, Karaeng Karunrung, I Fatimah Kaeng Takontu, Juga Raja dari negeri sekutu Gowa, yakni dari Wajo, Mandar dan luwu. Mereka siap angkat senjata dan meneruskan perlawanan kapan dan dimana saja.
Tgl 5 Agustus 1668 Karaeng Karunrung menyerang Benteng Pannyua (Benteng Ujung Pandang) tempat Spelman bermarkas. Dalam serangan itu, Arung Palakka nyaris tewas.
Menurut catatan Spelman. Dalam pertempuran melawan Gowa, banyak orang Belanda yang mati dan terluka. Setiap 7-8 orang Belanda dikuburkan. Spelman jatuh sakit, 5 dokter dan 15 pandai besi meninggal. Tenaga bantuan dari Batavia hanya 8 orang yang sehat, dalam waktu 4cminggu, sebanyak 138 serdadu yang mati di Benteng Ujung Pandang dan 52 orang mati diatas kapal.
Tgl 24 Juni 1669 Benteng Sombaopu dikuasai oleh Belanda. Belanda menyita sebanyak 272 pucuk meriam termasuk Meriam Anak Mangkasara yang disita Spelman. Benteng Sombaopu kemudian dibumi hanguskan dengan ribuan kilo amunisi dan berhasil menjebol dinding benteng setebal 12 kaki. Ledakan itu membuat udara diatas Benteng memerah dan tanah seperti gempa. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Semua istana yang ada di Benteng Sombaopu jatuh terhormat ke tangan Belanda.
Sultan Hasanuddin yang mengendalikan Kerajaan Gowa selama 16 Tahun itu, akhirnya jatuh sakit dan wafat pada 12 Juni 1670. Ia mendapat gelar Tumenanga ri Balla Pangkana.
Para pembesar kerajaan yang tak setuju atas penandatanganan Perjanjian Bungaya tak mau mengaku kalah, selanjutnya bertekad untuk melanjutkan perjuangan di Tanah Jawa dalam membantu perjuangan Raja Banten Sultan Ageng Tirtajasa dan Raja Mataram Raden Trunojoyo.
Atas jasa beliau, Pemerintah RI pada tahun 1973 dengan Surat Keputusan Presiden RI nomor 087/TK/1993 menganugrahi Sultan Hasanuddin Gelar Pahlawan Nasional.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Raja Gowa XIV

I MANGA’RANGI DAENG MANRABBIA 

SULTAN ALAUDDIN


Penobatan I Manga’rangi Daeng Manrabbia sebagai Raja Gowa XIV masih tergolong muda. Usianya saat itu baru memasuki 17 tahun. Pengangkatannya itu dilakukan atas keputusan Bate Salapanga.
Karena belum Dewasa, maka Raja Gowa I Manga’rangi mempercayakan pada pamannya I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katang atau Karaeng Matowaya selaku Raja Tallo juga Mangkubumi Kerajaan Gowa saat itu untuk menjalankan roda pemerintahan.

Ibunda Daeng Manrabbia bernama I Sambo Daeng Niasseng, adalah saudara kandung dari Mangkubumi Kerajaan Gowa I Mallingkaang Daeng Nyonri.
Kedatangan tiga Dato dari Minangkabau, masing-masing Dato ri Bandang, Dato Pattimang dan Dato Tiro untuk menyebarkan Islam di Kerajaan Gowa dan beberapa kerajaan di wilayah timur Nusantara ini.  Gayung bersambut misi tiga Dato diterima baik di Gowa. Dato ri Bandang menyebar agama Islam di Gowa, Dato Pattimang di Luwu dan Dato ri Tiro di Bulukumba.
Raja Gowa I Manga’rangi Daeng Manrabbia bersama Mangkubuminya saat itu menerima baik misi Abdul Makmur Khatib Tunggal Dati ri Bandang ini untuk menjadikan agama Islam sebagai agama Kerajaan di Butta Gowa. Sebagai kecintaan terhadap Islam, Raja Tallo I Mallingkaang pertama-tama mengucapkan kalimat Syahadat kemudian disusul oleh Raja Gowa I Manga’rangi Daeng Manrabbia dan secepat itu pula, Islam menyebar di seluruh pelosok kerajaan. Sebagai bukti bahwa Islam sudah menjadi agama kerajaan di Gowa, ditandai dengan Sembahyang Jum’at pertama di Tallo pada tanggal 9 November 1607 atau 19 Rajab 1016 H.
Setelah memeluk Islam, I Manga’rangi Daeng Manrabbia mendapat gelar Islam yakni Sultan Alauddin dan Mangkubuminya I Mallingkaang Daeng Nyonri mendapat gelar Islam Sultan Abdullah Awwalul Islam.
Sebelum Islam masuk, para raja di Sulawesi Selatan pernah membuat perjanjian yang isinya : Siapa yang menemukan suatu jalan yang lebih baik, berjanji untuk memberitahukan tentang jalan itu kepada Raja-raja lainnya.
Namun perjanjian seperti itu banyak yang disepelekan oleh sebagian Raja-Raja di Sulsel. Sultan Alauddin yang menjadikan Gowa sebagai pusat penyebaran Agama Islam di wilayah timur nusantara ini, terus mengembangkan Islam baik secara damai maupun perang.
Beberapa Kerajaan di daerah Bugis, seperti Bone, Wajo, Soppeng, Sidenreng dan lainnya menolak keras ajakan Raja Gowa. Akibat penolakan itu, Raja Gowa terpaksa angkat senjata dan mengirim Bala Tentaranya ke daerah itu. Tahun 1608 beberapa pasukan gabungan Kerajaan Bugis itu mengalahkan Gowa, namun pada tahun berikutnya, semuanya berhasil ditundukkan dan bersedia menerima Islam sebagai agama Kerajaannya. Sidenreng dan Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610, Bone tahun 1611. Perang Islam di tanah Bugis saat itu disebut Musu Assalengeng (Perang Islam).
Raja yang pertama memeluk Islam di Tanah Bugis adalah Arung Matowa Wajo ke-XV La Sangkuru Patau dengan gelar Sultan Abdul Rahman, Datu Soppeng XI BeowE, Raja Bone XI Latenriruwa MatinroE ri Bantaeng yang bergelar Sultan Adam. Penerimaan Islam dari para raja itu kemudian diikuti masing-masing rakyatnya.
Di Bidang Ekonomi dan perdagangan, Gowa  ditangan Sultan Alauddin dan Mangkubuminya I Mallingkaang  berkembang semakin pesat. Hal tersebut karena Sombaopu berubah menjadi Dermaga Internasional yang telah bayak didatangi oleh Pedagang dari luar negeri, seperti Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol.
Kedatangan orang Belanda di Tanah Gowa, tak hanya berdagang semata, mereka ingin melakukan monopoli perdagangan. Bujukan Belanda terhadap Raja Sultan Alauddin untuk bersedia melakukan kerjasama dengannya ditolak mentah-mentah oleh Raja, seperti halnya pada tahun 1607 Laksamana Belanda Cornelis Metalief mengutus Abraham Matyas untuk menghadap Raja Gowa. Belanda minta agar sama-sama dengan Gowa menaklukkan Banda supaya Belanda bisa melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di sana. Ajakan ini jelas ditolak Sultan. Bahkan Sultan secara tegas mengatakan kerajaannya adalah Negara terbuka untuk semua bangsa.
Tahun 1615 datanglah kapal Belanda Enkhuyszen berlabuh di Sombaopu. Abraham Sterk, Kepala Kantor dagang Belanda di Sombaopu mengadukan Scheepsraat kepada awak bahwa ia sering diganggu oleh orang Spanyol dan Portugis. Sedang Sultan melindunginya. Atas pengaduan itu Belanda tutup kantor dagangnya di Sombaopu. Untuk balas dendam, maka Abraham Sterk De Vries menjalankan tipu muslihat dengan mengajak pembesar Gowa untuk datang ke Kapal Enkhuyzen. Setelah semua tamu diatas, Pembesar Gowa dilucuti senjata sehingga terjadi perkelahian. Dalam peristiwa itu, ada dua keluarga Sultan tertawan diatas kapal dan dibawah ke Banten Jawa Barat.
Pada tahun 1616 kedua keluarga Sultan yang ditawan dikembalikan ke Sombaopu melalui kapal De Eendrach. Ketika Juru Mudi dan awak kapal berjumlah 15 orang itu turun dari kapal, mereka memperlihatkan tingkah laku yang congkak. Rakyat Gowa sangat marah, apalagi mengingat peristiwa yang terjadi tahun 1615 silam, membuat prajurit Gowa mengambil tindakan. Mereka lalu membunuh semua awak Kapal Eendrach itu.
Walau dihadapkan dengan musuh Belanda, Sultan tetap berupaya memperluas Wilayah kekuasaannya, juga menyebar Islam. Tahun 1616 Panglima Perang Kerajaan Gowa Lokmo Mandalle menduduki Bima. Tahun 1618 Sumbawa juga diduduki Karaeng Marowanging, juga salah seorang Panglima Perang Gowa. Kemudian menusul pendudukan atas Buton, Muna dan pulau-pulau Sula diduduki tentara Kerajaan Gowa. Kemudian Sultan juga berhasil menguasai Maros, Pangkajene, Labbakkang, Segeri dan beberapa daerah disekitarnya. Bahkan prajurit Kerajaan Gowa berhasil menguasai Manado, Gorontalo dan Tomini.
Sekitar tahun 1627 – 1630 Armana perang Kerajaan Gowa membantu rakyat Maluku untuk membebaskannya dari cengkraman Belanda. Sebab Belanda telah banyak memusnahkan pohon cengkeh dan melakukan penyiksaan terhadap masyarakat di sana.
Setelah sekian lama memerintah, Mangkubumi Kerajaan Tallo I Mallingkaang Daeng Nyonri wafat pada hari Rabu, 1 Oktober 1636 dan beliau mendapat gelar Tumenanga ri Agamana (Raja yang wafat didalam agamanya). Sedang Sultan Alauddin wafat pada 15 Juni 1639 setelah 45 tahun lamanya mengendalikan pemerintahan. Beliau mendapat gelar Tumenanga ri Gaukanna (yang mangkat dalam kebesaran kekuasaanya).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Raja Gowa XV

SULTAN MALIKUSSAID

Raja Gowa ke-XV bernama I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung alias Karaeng Lakiung. Beliau adalah putra Sultan Alauddin dari permaisurinya bernama I Mainung Daeng Maccini Karaenga ri Bontoa. Ia lahir pada tahun 1606.

Dalam menjalankan roda pemerintahan, Sultan didampingi Mangkubuminya bernama I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang. Beliau terkenal dengan kecendekiawannya dan menguasai beberapa bahasa asing, seperti bahasa Spanyol, Portugis, Inggeris, Prancis, Latin dan Arab.
Gowa ditangan duet Sultan Malikussaid dan Karaeng Pattingalloang telah berhasil membawa Gowa kepuncak kejayaannya. Gowa saat itu tidak hanya dikenal di Asia juga sampai ke Eropa. Ini terjadi karena jasa-jasa Karaeng Pattingalloang yang pandai berdiplomasi.
Sultan Malikussaid mengadakan persahabatan dengan Gubernur Spanyol di Manila, Raja Muda Portugis di Goa (Hindustan), Marchenta di Masulipatan di Hindustan, Presiden di Keling (Koromandel), Raja Inggeris, Raja Kastilia di Spanyol dan Mufti besar di Arab.
Perjanjian perdamaian kekal yang telah ditandatangani oleh Sultan Alauddin dengan Belanda yang diwakili oleh Antony Van Diemen, oleh Sultan Malikussaid dibatalkan karena Belanda banyak berbuat curang dan merugikan rakyat Gowa.
Akibat pembatalan tersebut, Belanda melakukan serangkaian serangan di Maluku, mereka menyerang pejabat Maluku bernama Kimelaha sebagai wakil dari Sultan Ternate. Kimelaha lahu di Seram, Kimelaha Leliato di Buru dan bantuan Prajurit Gowa melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Sultan Malikussaid tidak tinggal diam melihat tindakan Belanda di Maluku. Ia lalu mengirim armadanya ke Maluku untuk membantu perjuangan rakyat Maluku melawan Belanda.
Sultan Malikussaid juga dihadapkan pada masalah dalam negerinya, seperti Raja Bone La Maddarammeng yang telah berupaya menyebarkan agama Islam secara murni di Negerinya. Ternyata banyak mendapatkan tantangan dari pembesar kerajaan Bone, bahkan di Soppeng, Wajo, Sidenreng dan Sawitto pada tahun 1640. Karena gelombang perlawanan terhadap La Maddarammeng terlalu besar, akhirnya Raja Bone itu masuk ke Gowa untuk meminta perlindungan Raja Gowa.
Sultan Malikussaid pada tahun 1644 berupaya mendamaikannya, namun tak berhasil. La Maddarammeng bersama saudaranya La Tenriaji Tosenrima menyingkir dari Bone menuju Larompong Luwu. Tapi tahun itu juga La Maddarammeng ditangkap dan dibawa ke Gowa.
Untuk mengisi kekosongan pemimpin di Bone, maka Karaeng Pattingalloang berunding dengan Arung Pitu Bone. Dalam perundingan itu, Arung PituE menyerahkan pada Sultan sendiri. Tapi tawaran itu ditolak oleh Sultan Malikussaid dengan alasan pengangkatan Raja di Bone tidak boleh orang luar. Selanjutnya Sultan menunjuk Karaeng Pattingalloang namun Karaeng Pattingalloang juga menolaknya. Akhirnya Sultan menerima tawaran Arung PituE dan mengangkat Pamannya Karaeng Sumanna untuk menjadi Raja di Bone.
Sementara Karaeng Sumanna menjalankan roda pemerintahan dan dibantu oleh Tobala Arung Tanete (salah seorang anggota Arung PituE, tiba-tiba La Tenriaji dibantu sekutunya dari Wajo dan Soppeng melakukan pemberontakan di Bone. Akan tetapi perlawanan La Tenriaji itu sempat dipatahkan oleh prajurit Gowa, La Tenriaji kemudian ditawan dan diasingkan ke Siam (Pangkajene).
Pada tahun 1545 Sultan Malikussaid memerintahkan agar Suku Nander dan Suku lainnya di Sulawesi Sletan tunduk dibawa kekuasaan Gowa. Sayangnya, pada tahun 1615 kerajaan Gowa mengalami kekalahan terutama saat armada perangnya memimpin perlawanan terhadap Belanda di Maluku. Dalam pertempuran itu, sebanyak 40 Kapal Perang Gowa dirusak.
Dua tahun kemudian, tepatnya 5 November 1615 Sultan Malikussaid wafat dalam usianya ke-47 tahun. Beliau mengendalikan pemerintahan di Gowa selama 16 tahun. Baginda kemudian mendapat gelar anumerta “Tumenanga ri Papan Batua”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Raja Gowa XIII

I TEPU KARAENG DAENG

PARABBUNG

I Tepu Karaeng adalah putra I MAnggorai Daeng Mammeta Karaeng Tunijalloa. Ia naik tahta dalam usia 15 tahun walau usianya masih muda. Tetapi ia mengendalikan pemerintahan di Kerajaan Gowa secara sewenang-wenang.
Tindakan yang dilakukan oleh Sang Raja adalah memecah beberapa pembesar kerajaan, Tumailalang bernama Daeng ri Macinna, membagi-bagi hamba Raja dan menetapkan Bate Salapanga ri Gowa menjadi “SipuE besar”, melarang rakyat berbakti pada kedua kakaknya, membunuh orang-orang walaupun tidak bersalah dan masih banyak lagi pelanggaran lainnya.
Akibat dari tindakan Raja Gowa itu, banyak pendatang utamanya pedagang dari Jawa dan Sumatera serta daerah lainnya meninggalkan Gowa, membuat Gowa sepi dari kegiatan perdagangan dan pelayaran.
Disamping itu, banyak anak raja dari Gowa yang meninggalkan negerinya menuju daerah lain yang dianggap lebih aman, seperti I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka (Raja Tallo/ Mangkubumi Kerajaan Gowa), Karaeng Barombong, Karaeng Data, Karaeng Alla dan masih banyak pembesar kerajaan lainnya.
Setelah tiga tahun lamanya memegang kendali pemerintahan di Kerajaan Gowa, tindakan dari Sang Raja tak bisa lagi ditolerir oleh rakyatnya, membuat rakyat dan beberapa pembesar kerajaan melakukan pemberontakan. Raja I Tepu Karaeng tak bisa berbuat apa-apa, ia turun tahta secara paksa. Untuk mengisi kekososngan, maka rakyat Gowa mengangkat Saudaranya I Manga’rangi Daeng Manrabbia sebagai penggantinya.
I Tepu Karaeng bukan hanya turun tahta, malah ia diusir keluar Gowa. Nasib baik baginya, karena masih mendapat perlindungan dari Raja Luwu. I Tepu Karaeng lalau menetap di Luwu. Itulah sebabnya, Raja ini bergelar Karaeng Tunipasulu artinya raja yang dikeluarkan atau diusir dari negerinya.
Setelah I Tepu Karaeng di pengasingan di Luwu, membuat ia sadar bahwa apa yang ia perbuat itu suatu kesalahan besar. Ketika Islam pertama masuk di Kerajaan Gowa, penyebarannya sampai ke beberapa kerajaan sahabat termasuk Luwu. Masuknya Islam di Luwu, juga termasuk I Tepu Karaeng menerima Islam secara utuh.
Setelah sekian lama tinggal di Luwu, I Tepu Karaeng yang sudah masuk Islam itu lalu pindah ke Buton, disanalah ia wafat pada tangga 15 Juli 1617.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Raja Gowa XII

I Manggorai Daeng Mammeta

Sejak I Manggorai Daeng Mammeta  Karaeng Bontolangkasa dinobatkan sebagai Raja Gowa XII, beliau menggalang persaudaraan dengan Raja Bone La Tenrirawe Bongkange yang ditandai dengan perjanjian Persaudaraan kedua belah pihak.
Isi perjanjian itu bewrbunyi; Musuh-musuh seseorang diantara mereka itu juga adalah musuh-musuh bersama dan orang-orang Gowa yang berkunjung ke Bone adalah mereka itu seperti datang ke Negerinya sendiri dan orang-orang Bone berkunjung ke Gowa bagaikan datang ke negerinya sendiri.
I Manggorai Daeng Mammeta naik tahta dalam usia 20 tahun. Beliau diperisterikan oleh sepupunya yakni anak dari pamannya Karaeng Tunipallagga Ulaweng.
Semasa pemerintahannya, baginda telah banyak menjalin hubungan persahabatan dengan beberapa kerajaan di Nusantara ini, termasuk kerajaan di Negeri Jiran, seperti Raja Mataram, Raja Banjarmasing, Kerajaan di Pulau Jawa, Balambangan, Raja-raja di kepulauan Maluku, Raja di kepulauan Timor, Raja Johor, Raja Pahang, Raja Malaka, Patani, Thailan dan masih banyak lagi.
Prof. DR. HM. Saleh Putuhena pada makalah seminar tentang sejarah Hubungan Maluku dan Kerajaan Gowa, pada bulan Juni 2006 mengungkapkan, pada tahun 1580 Sultan Ternate Baabullah berkunjung ke Sombaopu Ibukota Kerajaan Gowa. Kedua Raja itu mengadakan perjanjian perseketuan (Bondgenooschap). Dari perjanjian itu, Sultan Ternate menyerahkan kembali Pulau Selayar ke Gowa yang pernah dikuasainya. Karena misi yang diemban Sultan Ternate adalah menyebarkan Agama Islam, maka Sultan Baabullah minta agar Gowa membangun Masjid pertama kali di Mangallekana yang disebut Masjid Mangallekana.
Mengenai Agama yang dianut oleh Raja I Manggorai Daeng Mammeta, masih simpang siur, ada yang mengatakan bahwa beliau masih menganut ajaran animisme dengan berdasar pada sejarah masuknya Islam di Gowa pada tahun 1605 dimana saar itu Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam adalah Sultan Alauddin dan Mangkubuminya Mallingkaang Daeng Nyonri. ini berarti I Manggorai Daeng Mammeta sudah memakai gelar Islam yakni Sultan Nuruddin. Ini menandakan bahwa Raja I Manggorai menganut agama Islam.
Atas prakarsa beliau itu pula maka Masjid Katangka dibangun dan menganjurkan umat Islam untuk menunaikan Ibada Haji serta menggalakkan pengajian.
Keberadaan Masjid di Mangallekana itu juga menjadi daya tarik bagi pedagang yang beragama Islam untuk masuk ke Dermaga Sombaopu, seperti dari negeri Pahang, Patani dan Johor juga negeri Arab.
Setelah sepuluh tahun lamanya memegang tampuk pemerintahan di Gowa, I Manggorai Daeng Mammeta mulai tidak menepati perjanjian persaudaraan dengan Raja Bone, sehingga timbul peperangan yang terjadi dikedua belah pihak. Wajo dan Soppeng masih berada di bawah pengaruh kekuasaan Gowa.
Tekanan Gowa terhadap terhadap Bone, Soppeng dan Wajo membuat ketiga Kerajaan Bugis itu mengadakan perseketuan di Timurung. Raja Bone La Tenrirawe Bongkange bersama Raja Wajo La Mungkace Toudamang MatinroE ri Batana dan Raja Soppeng Ma Mappaleppek PatolaE. Persekutuan yang mereka bentuk itu terkenal dengan sebutan TellupoccoE. Tujuan persekutuan ini adalah untuk menentang Supremasi Kerajaan Gowa.
Tahun 1583 Gowa menyerang Wajo tapi tidak berhasil, Dua tahun kemudian (1585) Gowa menyerang Bone tetapi juga tidak berhasil. Pada tahun 1590 Gowa mengulangi lagi serangan ke Wajo, tapi mengalami kegagalan dan malah Karaeng I Manggorai nasibnya menyedihkan.
Dalam perjalanan beliau ke Gowa dengan naik kapal layar dari Pare-pare dengan maksud, dari sana melalui Ajattaparang akan masuk ke Wajo, tiba-tiba Baginda diamuk oleh salah seorang pengikutnya yakni saudara teteknya bernama I Lolo Tamakkana, sehingga baginda mangkat waktu itu juga. Baginda kemudian mendapat gelar Anumerta Karaeng Tunijallo (Raja yang diamuk).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Raja Gowa V

Karampang ri Gowa

Karampang ri Gowa adalah putra Raja Gowa keempat I Tuniata Banri. Beliau memerintah di Gowa dari tahun 1420 hingga 1445. Juga tidak banyak diketahui siapa ibunya dan bagaimana sistem pemerintahannya.
Namun bisa diketahui bahwa baginda-baginda ini melanjutkan sistem pemerintahan di Gowa yang telah dirintis oleh Tumanurunga selaku Raja Gowa pertama. Beliau menempati Istana Tamalate sebagai pusat pemerintahan sekaligus sebagai Istananya.
Mulai dari raja pertama hingga Raja Gowa kelima Karampang ri Gowa, tidak ada kuburannya, melainkan mereka raib ke negeri kayangan.**

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0