Postingan

Kisah Oposan Karaengta Data Menambah Unik Cerita Buluttana

Gambar
Gowa Center .  Buluttana merupakan nama salah satu kelurahan di Kecamatan Tinggimoncong. Buluttana secara historis diambil dari kisah perjalanan Karaengta Data, pimpinan Kasawiang Data.  Kasawiang Data merupakan salah satu anggota Kasawiang Salapang. Karaengta Data  suatu ketika mengambil posisi sebagai oposan dari pemerintahan yang berkuasa.  Karena pendiriaannya itu Karaengta memilih mengembara ke hutan-hutan untuk menemukan tempat yang aman dan layak. Setelah berjalan beberapa hari  beliau menemukan sebuah perkampungan yang ditepi bukit tanah. Bukit dalam bahasa Makassar di sebut Bulu  sedangkan tanah dalam bahasa Makassar disebut dengan sebutan yang sama. Sehingga secara historis asal usul nama Buluttana kemungkinan besar berasal dari kisah ini. Balla Jambu di Buluttana, yang membutuhkan perhatian. Foto: Denassa Hingga tahun 1965 di Buluttana masih terdapat  tiga buah rumah tua masing-masing Balla Lompoa, Balla Jamb...

RAJA-RAJA SANROBONE

Daftar Urutan Kronologi Raja-raja yang pernah memerintah di Sanrobone (Karaeng Sanrobone) : 1. PANCABILLUKA , seorang laki-laki yang berasal dari kayangan yang turun ke bumi, yang kemudian memerintah Sanrobone. 2. TUNIJALLOKA RI PARANGNA. 3. KARAENG MASSAWAYA , tahun 1565 gugur bersama Raja Gowa ke-11 Tunibatta, pada waktu kedua raja ini menyerang Bone. 4. TUNIBOSARA . 5. TUMENANGA RI PARALAKENNA 6. I PANUSURANG DG. MANASSA TUMENANGA RI CAMPAGANA , saudara ipar dari Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin. 7. KARAENGA I PUCU . 8. SANRA KARAENG BANYUARA "I TANIJE'NE" , ayah-mertua dari Raja Gowa ke-16 Sultan Hasanuddin. 9. I MAPPADULUNG DG. MATTIMUNG KARAENG CAMPAGAYA - SULTAN ABDUL JALIL , yang kemudian menjadi Raja Gowa ke-19. 10. RAJA-PUTRI YATATOJENG KARAENG BONTOMAJANNANG , adik dari Raja Sanrobone ke-9. 11. PAKANNA KARAENG PANGKAJENE , putra dari suami istri Raja Bima MBELU dan karaeng Bontoje'ne. 12. TUMENANGA RI MASIGINA , Putra dari raja Sanrobone k...

Sejarah Kerajaan Tallo

Sejarah Kerajaan Tallo Sebagian besar sejarah yang diajarkan di Indonesia adalah sejarah orang-orang besar. Pemerintah Indonesia dengan konsep pahlawan yang pantas menjadikan sebagai sudi tauladan perjuangan kebangsaan bagi pengajaran di sekolah. Pendidikan Belanda menerapkan kurikurumnya mengutamakan para pemimpin, sehingga para pahlawan yang dikukuhkan merupakan para penentang gigih Belanda. Para pahlawan tidak selamanya selalu cocok sebagai model sejarah untuk tugas-tugas modern yang lebih rumit dan mereka belum tentu dicintai oleh rakyat masanya. Hal ini cukup menarik untuk dikaji dan tidak pernah diketahui secara mendalam. Kasus yang mencolok seperti Sultan Agung dari Mataram (1613-1645), Sultan Iskandar Muda dari Aceh (1607-1683) dan Sultan Abdul Fatah dari Banten (1651-1683). Dalam pembahasan makalah ini, kelompok kami akan membahas tokoh kecil yang pribadinya menarik dan secara historis kreatif. Mereka adalah anggota-anggota keluarga Kerajaan ...

Peninggalan Kerajaan Sanrobone untuk Kerajaan Gowa-Tallo

Gambar
KABARKAMI. Barang antik yang diperkirakan dari tahun 1700-an berupa Tropy dari bahan Perunggu yang merupakan salah satu peninggalan dari Kerajaan Sanrobone untuk kerajaan Gowa. Kerajaan  Sanrobone yang dimaksud oleh de Paiva, seorang peneliti asal Portugis menyebutnya  sebagai “Kerajaan Tua/ Old Kingdom ”, dimana kerajaan ini memiliki pertautan sejarah hijrahnya para pendatang Melayu di Salajo, sebuah wilayah di kerajaan Sanrobone.  Adapun Sanrobone sendiri terletak di Kabupaten Takalar dan merupakan daerah bawahan Kerajaan Gowa.Kerajaan ini takluk dan menjadi wilayah otoritas politik pemerintahan di Gowa. Sejak Raja Gowa  bernama Daeng Matanre Karaeng Mangnguntungi atau lebih dikenal dengan nama Tumapa’risi Kallona,  memperluas daerah kerajaannya. Beberapa kampung atau kerajaan kecil antara lain: Garassi, Kantingang, Parigi , Siang (Pangkajene), Suppa, Sidenreng, Lembangang, Bu...

SANROBONE

Daftar Urutan Kronologi Raja-raja yang pernah memerintah di Sanrobone (Karaeng Sanrobone) : 1. PANCABILLUKA, seorang laki-laki yang berasal dari kayangan yang turun ke bumi, yang kemudian memerintah Sanrobone. 2. TUNIJALLOKA RI PARANGNA. 3. KARAENG MASSAWAYA, tahun 1565 gugur bersama Raja Gowa ke-11 Tunibatta, pada waktu kedua raja ini menyerang Bone. 4. TUNIBOSARA. 5. TUMENANGA RI PARALAKENNA 6. I PANUSURANG DG. MANASSA TUMENANGA RI CAMPAGANA, saudara ipar dari Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin. 7. KARAENGA I PUCU. 8. SANRA KARAENG BANYUARA "I TANIJE'NE", ayah-mertua dari Raja Gowa ke-16 Sultan Hasanuddin. 9. I MAPPADULUNG DG. MATTIMUNG KARAENG CAMPAGAYA - SULTAN ABDUL JALIL, yang kemudian menjadi Raja Gowa ke-19. 10. RAJA-PUTRI YATATOJENG KARAENG BONTOMAJANNANG, adik dari Raja Sanrobone ke-9. 11. PAKANNA KARAENG PANGKAJENE, putra dari suami istri Raja Bima MBELU dan karaeng Bontoje'ne. 12. TUMENANGA RI MASIGINA, Putra dari raja Sanrobone ke-11. 13. TUMENANGA RI SANROB...

Gerakan Batara Gowa I Sangkilang (1776 M)

Gambar
Ilustrasi wajah I Sangkilang. Sumber: Yayasan Mappatuju Makassar Pada masa kekuasaan Amas Madina (1753–1767 M) timbul usaha untuk bersatu menentang VOC. Baik Gowa maupun Bone  menganggap VOC telah terlalu banyak campur tangan  dalam hidup dan kehidupan kerajaan-kerajaan yang ada. Hal itu tampak ketika Raja Bone, La Temmassonge Datu Baringeng (1742-1775), mengusulkan untuk memberikan gelar “Batara” kepada Amas Madina. Akhirnya, pejabat tinggi Kerajaan Gowa dan Bate Salapang (Dewan Kerajaan) mengukuhkan gelar “Batara”  kepada Amas Madina”, pada bulan Juni 1758. Pemberian gelar itu diharapkan dapat mengembalikan masa kejayaan Kerajaan Gowa di masa lalu, karena gelar Batara mengandung arti Tuhan atau Dewa. Pada tanggal 2 Agustus 1766, Batara Gowa Amas Madina meninggalkan Gowa menuju Bima, Sumbawa. Kepergian Amas Madina tanpa pemberitahuan sama sekali, sehingga menimbulkan pertanyaan besar bagi pembesar Kerajaan Gowa. Dilakukan upaya untuk menca...

Pesan-pesan Kepemimpinan dalam Lontara Makassar

Kedudukan pemimpin serta rakyat Pemimpin dalam lontara diibaratkan sebagai Angin (anging), Air (je’ne), juga sebagai Jarum (jarung). Adapun rakyat diibaratkan sebagai Daun (leko’ kayu), Batang Pohon (batang kayu), Benang (bannang panjai’). Hal ini dapat dilihat dalam ungkapan : 1) Anging na leko’ kayu ; anginmako na ikambe leko kayu, miri’ko anging namarunang leko’ kayu. Artinya Raja atau pemimpin di ibaratkan sebagai angin dan rakyat diibaratkan sebagai daun. Dimana angin berhembus nampak daun bergoyang mengikuti arah angin. 2) Je’ne na batang mammayu ; je’nemako ikau na ikambe batang mammayu, solongko je’ne namammayu batang kayu. Artinya Raja/ Pemimipin diibaratkan sebagai air dan rakyat di ibaratkan sebagai batang yang hanyut. Kemana air mengalir kesana pula batang akan hanyut. Apa kehendak Raja/ Pemimpin rakyat akan patuh. 3) Jarung na bannang panjai’ ; jarungmako Ikau na ikambe bannang panjai, ta’leko jarung namminaw...