Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

KERAJAAN GOA TALO

KERAJAAN GOA TALO A. Kerajaan Gowa-Tallo Sumber asing terulis pertama dari Barat berasal dari catatan Tome Pires. Dia menyebutkan tentang bagaimana kemapuan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Makassar.  Dalam buku Islamisasi kerajaan Gowa, Prof. DR. Ahmad M. Swang, M.A ( 2005; 72) Tome Pires dalam perjalanannya dari Malaka ke Laut Jawa pada tahun 1513 telah menemukan orang-orang Makassar sebagai pelaut ulung. Keterangan ini dianggap keterangan tertulis Barat yang tertua. Pires menyebutkan: “Orang-orang Makassar telah berdagang sampai ke Malaka, Jawa, Borneo, Negeri Siam dan juga semua tempat yang terdapat antara Pahang dan Siam, dalam Prof. DR. Ahmad M. Swang, M.A ( 2005; 72)” Sumber berita dari catatan Tome Pires mungkin lebih menitikberatkan kepada sebuah kerajaan di Sulawesi belum resmi memeluk agama Islam, karena secara resmi kedua raja dari Gowa dan Tallo memeluk agama Islam pada tanggal 22 September 1605 M. Negeri tersebut kaya akan beras putih

Arti Gelar Daeng

Gambar
Arti Gelar Daeng T aukah Anda apa itu  Daeng ? Mungkin sekarang Anda sedang berpikir tentang orang Makassar. Memang benar kata Daeng sangat identik dengan orang Makassar. Menurut sejarah yang pernah saya dengar dari orang tua saya sendiri, Daeng adalah nama kedua yang dimiliki oleh sebagian orang Makassar yang memiliki status yang lebih tinggi dari orang biasa. Daeng adalah tingkatan di bawah tingkatan karaeng (orang yang dinobatkan sebagai raja). Dulunya julukan Daeng hanya digunakan oleh kalangan pengusaha dan shah bandar di Makassar. Makna Daeng pun tidak semerta-merta diberikan kepada seseorang. Nama ini mempunyai makna dan arti tersendiri yang beragam, sesuai dengan maksud dan tujuan diberikan nama tersebut. Namun dewasa ini sudah banyak berubah dan bergeser dari anggapan masyarakat pada umumnya. Mungkin masih banyak orang tua yang memberikan gelar Daeng kepada anak-anaknya dengan maksud tertentu, tapi sebagian anak tidak ingin memakainya dengan alasan yang beragam.

PRINSIP PERKAWINAN SUKU MAKASSAR

Gambar
pRINSIP PERKAWINAN SUKU MAKASSAR Rumah adat Makassar (sumber: majalah versi) Perkawinan adalah sesuatu yang sakral. Dalam kebudayaan suku manapun dapat ditemui bahwa perkawinan selalu mempunyai kajian yang rumit, baik dari latar belakang sosial, ekonomi ataupun dari adat istiadatnya. Tidak terkecuali pada suku Makassar. Suku Makassar mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi bersama suku Bugis dan Toraja. Suku Makassar paling banyak terdapat di kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba dan tentu saja di kota Makassar yang sudah menjadi ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Sistem kekerabatan dalam suku Makassar memperhitungkan kerabat Ayah dan Ibu terhadap anak-anaknya sama, bilateral. Seluruh kerabat disebut  bija pammanakang .  Keluarga batih dalam bahasa Makassar disebut sipammanakang , terdiri atas ayah, ibu dan anak-anak yang belum mekawin. Berbicara tentang perkawinan, sebuah ungkapan dalam bahasa Makassar yang menyinggung tentang perkawinan berbunyi  ” T

Huruf Lontara, Replika Peradaban Kuno Bugis-Makassar

Gambar
Huruf Lontara, Replika Peradaban Kuno Bugis-Makassar HERITAGE  |  ISMAIL TACHIR  | OCTOBER 27, 2011 AT 2:20 PM Lontara Bugis-Makassar  merupakan sebuah huruf yang sakral bagi masyarakat bugis klasik. Itu dikarenakan epos la galigo di tulis menggunakan  huruf lontara . Huruf lontara merupakan huruf bagi masyarakat Sulawesi Selatan untuk menuliskan kata-kata mantera dan berbagai kumpulan kisah. Dahulu kala para penyair-penyair bugis menuangkan fikiran dan hatinya di atas daun lontara dan dihiasi dengan huruf-huruf yang begitu cantik sehingga tersusun kata yang apik diatas daun lontara dan karya-karya itu bernama  I La Galigo . Bahasa ini dimasukkan ke dalam suatu rumpun bahasa melayu yang sendirinya merupakan bagian dari rumpun bahasa Sulawesi dalam cabang Melayu Polynesia dari rumpun bahasa Austronesia. Disebut huruf Lontara karena jaman dulu semua hasil tulisannya dituangkan di sebuah daun bernama “daun lontar”. Tanaman Lontar pada umumnya memang banyak tumbuh disepanjang jazir

Tau Mangkasara, Orang Makassar

Gambar
Tau Mangkasara, Orang Makassar REPORTA  |  FACHRULKHAIRUDDIN  | OCTOBER 2, 2012 AT 3:05 PM KABARKAMI –  Entah siapa pertama kali yang menyebut mereka mangkasara  dan apa pula penyebabnya? Apakah karena mereka secara kasar menyerang Kerajaan-Kerajaan Bugis? Ataukah karena gaya dan bahasa mereka yang memang terdengar kasar? Entahlah, yang jelas kata  mangkasara  telah didentifikasikan tanpa melihat latar belakang dan sejarah yang sebenarnya. Mereka itu adalah orang-orang yang menetap di daerah Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba. Mereka itu adalah yang dahulunya dinaungi oleh sebuah Kerajaan besar bernama Kerajaan Gowa. Salah satu Raja mereka yang terkenal adalah Sultan Hasanuddin. Banyak orang yang menganggap kata Makassar itu mengandung kata “kasar”, padahal tidak demikian adanya. Kata Makassar sendiri sebenarnya berasal dari 2 kata, yang pertama itu “Mang” yang berarti Memiliki sifat atau yang terkandung didalamnya, kemudian kata yang kedua adalah “Kasarak”, yang

Jejak Historis Kehadiran Pedagang Cina Di Makassar

Gambar
Jejak Historis Kehadiran Pedagang Cina Di Makassar Mengapa orang-orang Cina umumnya kaya dan menjadi pengendali roda perekonomian terutama aktivitas perdagangan di Makassar? Itulah pertanyaan yang kerap muncul dari benak orang pribumi. Bahkan tidak jarang rasa iri bercampur egois di kalangan penduduk pribumi (asli) di Makassar, seringkali menjadi bom waktu yang mempermulus meledaknya insiden pengganyangan yang mengancam harmonisasi hubungan keduanya. Pecinan Makassar. Sudut Sejarah Yang Terpinggirkan. Foto: Ariane Mays Kondisi tersebut terjadi kemungkinan besar disebabkan oleh ketidaksiapan menerima kondisi mereka (Cina yang kaya) yang demikian memperlihatkan perbedaan ekonomi yang mencolok bercampur ketidakmengertian akan eksistensi mereka (Cina) secara historis. Karena itu, bagaimana eksistensi mereka di Makassar dan andil para pedagang Cina dalam proses pertumbuhan dan perkembangan pelabuhan di kota ini perlu mendapat pencerahan sejarah.   Pedagang Cina secara histor

Meretas Makna di Balik ”Ke-lompo-an” Balla Lompoa

Gambar
Meretas Makna di Balik ”Ke-lompo-an” Balla Lompoa Bila mendengar atau menyebut istilah ”Balla Lompoa”, maka kesan yang terbersik dalam benak kita tentu adalah sebuah rumah besar. Hal ini tentu dimaklumi mengingat bahwa kata ”lompo” yang disandingkan dengan kata ”balla” (rumah), dalam bahasa lokal (Makassar) berarti besar. Bahkan kenyataan juga menunjukkan demikian bahwa kebesaran dari segi ukuran fisik masih dapat disaksikan hingga kini. Rumah Raja Yang Kini Menjadi Museum. Foto: Harianto Sirajuddin Meskipun demikian, sisi menarik dari warisan budaya Makassar ini tidak hanya terletak pada ukuran besar bangunannya, akan tetapi kebesaran makna yang ada padanya pun seharusnya menjadi perhatian. Betapa tidak, arus modernitas berikut kompleksitas perubahan yang ditimbulkan namun bangunan ini tetap memperlihatkan kekhasannya di antara sederet bangunan bernuansa modern di sekitarnya. Ditinjau aspek arsitektur bangunannya, maka Balla Lompoa yang masih berdiri kokoh di Tana Gowa (